Qureta SainsTek

Evolusi sebagai Mekanisme Penciptaan

“Evolusi sebagai Mekanisme Penciptaan”; oleh R. Iffat Aulia Ahmad Argawinata -- POLEMIK demikian sejatinya timbul dari kekurangpahaman terhadap mosi evolusi Darwin. Darwin tidak mengatakan bahwa manusia merupakan keturunan dari kera.

DI kalangan umat Islam, silang-sengketa pendapat mengenai , terutama , telah jamak dijumpai. Sebagian besar orang menolak gagasan tersebut dengan mengajukan pertanyaan balik, “Jika benar berevolusi dari kera, mengapakah kini kera masih eksis?”

Polemik demikian sejatinya timbul dari kekurangpahaman terhadap mosi evolusi Darwin. Darwin tidak mengatakan bahwa manusia merupakan dari kera. Namun, Darwin mengatakan bahwa karena manusia dan kera memiliki kemiripan yang begitu besar, dapat disimpulkan bahwa mereka mempunyai common ascentor atau nenek moyang bersama yang sekarang sudah punah.

Kemiripan apakah yang ada pada manusia dan kera? Kemiripan di sini tidak hanya secara anatomis yang bisa dianggap sebagai bentuk evolusi konvergen, tetapi kemiripan antara keduanya jauh melebihi itu, yaitu kemiripan genetis-molekular.

Matt Ridley, Doktor Zoologi dari Oxford University, menerangkan dalam bukunya, Genome (2006:28), bahwa tingkat kemiripan antara genom manusia dan genom simpanse, yaitu keseluruhan informasi genetik yang dimiliki oleh kedua organisme tersebut, mencapai 98 persen.

Lebih lanjut, Ridley menerangkan bahwa kromosom manusia yang berjumlah 23 sangatlah dekat dengan total 24 kromosom kera. Yang paling menakjubkan adalah, kromosom somatis nomor dua pada manusia sejatinya merupakan hasil dari fusi atau peleburan dua kromosom kera nomor 12 dan 13 yang berukuran sedang. Selebihnya, kata Riddley:

-perbedaan yang tampak antara simpanse dan manusia adalah sedikit dan kecil.

Artinya, tidak dapat dimungkiri dari sudut pandang ilmiah—yang telah teruji secara empiris dengan presisi tinggi—bahwa manusia dan kera memang berkerabat. Dengan bagaimanapun fakta ini tidak mungkin dibantah. Adakah seorang yang kuasa menyangkal matahari di siang hari selain ia yang buta atau menutup tirai kamarnya?

Sekarang, pertanyaannya ialah, “Bila begitu, apakah kebenaran jadi ternegasikan?” Jawabannya tentu tidak. Perlu dipahami bahwa tidak ada pertentangan antara yang merupakan kalam dan hukum alam yang merupakan pekerjaan . Dengan demikian, yang tersisa hanyalah, jangan-jangan yang salah adalah dan interpretasi kita terhadap .

Alquran sendiri tidak pernah menyatakan bahwa evolusi tidak terjadi. Sebaliknya, dalam banyak tempat disebutkan bahwa kala Allah berkehendak melakukan sesuatu, Dia tinggal memfirmankan, “Kun,” lalu hal yang diinginkan-Nya, “Fa yakūn.” Sangat menarik diperhatikan bahwa Tuhan tidak menggunakan bentuk māḍī (masa lampau) di sini, yaitu “Fa kāna.” Ada apakah gerangan?

Maksudnya adalah sesuatu yang difirmankan-Nya itu tidak tercipta dengan sekejap seperti tukang sulap. Akan tetapi, berdasarkan hikmah dan masalahat-Nya yang sempurna, ada proses dan interval dari keterucapan firman-Nya sampai kesempurnaan kehendak-Nya. Nah, dalam konteks ini, evolusi dapat dimaknai sebagai mekanisme menuju ke-takammul-an iradah .

Dalam Alquran, Allah juga menyatakan bahwa Dia menciptakan manusia, “Ṭabaqan ‘an ṭabaq,” alias, “Setahap demi setahap.” Jika secara ontogenik Dia menciptakan manusia dari pencampuran sel sperma dan sel telur yang kemudian berkembang menjadi zigot, embrio, janin, hingga lahir sebagai manusia, mengapakah tidak demikian pula halnya penciptaan filogeniknya? Sekali Dia bukan tukang sulap, selamanya Dia bukan tukang sulap. Allah adalah wujud Yang Mahakonsisten dalam setiap perkataan dan perbuatan-Nya.

_
Qureta.com

Tentang Penulis

R. Iffat Aulia Ahmad A.

Seorang musafir yang terdampar di persimpangan ruang dan waktu, yang duduk termangu menatap segala kericuhan zaman, menengadah ke langit di tengah keheningan, memandang takjub Sang Markaz-ud-Dā’irāt.