Filsafat

Fanā’, Baqā’, dan Liqā’: Tiga Derajat Kebahagiaan Rohani dalam Hidup Manusia

Diskursus tentang kenikmatan dan kebahagiaan diri telah menarik perhatian para filsuk sejak zaman dahulu. Abū Bakr ar-Rāzī (w. 313 H) dan para penganut mazhab naturalis (aṭ-ṭabī‘iyyah) berpendapat bahwa kenikmatan (ladzdzah) terletak pada kembalinya pribadi manusia kepada pembawaan alaminya. Ia memisalkan keadaan nikmat seperti seorang pengelana yang tinggal di suatu tempat nan sejuk dan rindang lalu harus menempuh perjalanan yang amat panas serta terik hingga akhirnya berpulang ke tempat asalnya tadi. Kala berada dalam perjalanan, ia merasakan kegelisahan yang begitu besar (adzā) dan terus-menerus menostalgiakan kenikmatannya yang hilang (istildzāz). Begitu tiba sekali lagi pada kediamannya yang menyenangkan, istildzāz itu hilang dan ladzdzah dengan seketika menggantikannya.1

Menyoal kebahagiaan (eudaimonia), Aristoteles (w. 332 SM) mengetengahkan bahwa hal tersebut merupakan aktivitas yang dikerjakan oleh seorang manusia guna mencari dari dalam dirinya sendiri sesuatu yang menjadi kedambaannya. Kebahagiaan bersifat swatantra sebab ia tidak kekurangan apa pun. Ia membedakan dirinya dari kenikmatan pada tataran bahwa ia harus mengandung nilai-nilai kebajikan. Seorang sahaya, ucap Aristoteles, bisa saja mereguk kelezatan badani yang sama seperti manusia budiman. Akan tetapi, jelas, yang pertama tak dapat dikatakan berbahagia sebagaimana yang kedua. Kenyataan ini, menurutnya, berpangkal dari realitas bahwa para bijak-bestari mengisi hidup mereka dalam pergumulan kontemplatif. Semakin kontemplatif, mereka pun semakin bijak dan, alhasil, semakin bahagia.2

Berangkat dari penuturan kedua filsuf besar Islam dan Yunani di atas, kita dapat merumuskan sebuah sintesis bahwa, bila diiringi dengan peranti-peranti kebaikan dan dikembangkan secara kontinu, kenikmatan yang berlaku sementara dapat berhilir pada kebahagiaan yang berlangsung langgeng. Dengan kata lain, seseorang akan mencapai tingkat-tingkat kebahagiaan yang paripurna ketika ia mengeksplorasi hakikat-hakikat dan pembawaan alami dari dirinya dalam usaha serta perenungan yang berkelanjutan. Pertanyannya, apakah sebenarnya yang menjadi hakikat kemanusiaan itu?
Alquran, Kitab Suci kaum muslimin, menjawab persoalan tersebut. Dalam Surah ar-Rūm ayat 30, Allah Taala berfirman:

بَلِ اتَّبَعَ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اَهْوَاۤءَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ فَمَنْ يَّهْدِيْ مَنْ اَضَلَّ اللّٰهُ ۗوَمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَ

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

“Sebaliknya, orang-orang yang aniaya justru mengikuti hawa nafsu-hawa nafsu mereka tanpa adanya pengetahuan. Lantas, siapakah yang dapat memberi petunjuk kepada ia yang telah Allah sesatkan? Dan, bagi mereka, tiada terdapat orang-orang yang menolong. Oleh karena itu, tegakkanlah wajah engkau dengan condong kepada agama! Demikianlah fitrah Allah yang di atasnya Dia fitrahkan manusia. Tiada perubahan bagi ciptaan Allah. Itulah agama yang kokoh, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Ayat ini dengan gamblang mengutarakan bahwa fitrah yang dalam padanya manusia diciptakan adalah untuk mencondongkan “wajah” secara teguh ke arah agama. Sebab, mengutip Ibnu Jarīr (w.310 H), kata fiṭrah di sana berkedudukan sebagai nomina infinitif (maṣdar) yang diinferensi dari makna kalimat, “Fa aqim wajhaka li ad-dīn ḥanīfan.3 Fitrah itu tidak akan berubah sampai akhir hayat. Hanya saja, mayoritas orang tidak memahaminya karena noda-noda kedurjanaan telah menghitamkan jiwa mereka.

Berkenaan dengan agama yang ke arahnya manusia diuntut untuk senantiasa bercondong, Nabi MuḥammadSAW sendiri selaku penerima wahyu Alquran telah menerangkan bahwa ia adalah Islam. Imam aṭ-Ṭabrānī (w. 360 H) meriwayatkan bahwa beliau pernah bersabda:

“Tiada seorang pun yang dilahirkan, kecuali di atas fitrah Islam, hingga ia fasih dalam berbicara. Kemudian, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, Kristiani, atau Majusi.”4

Jadi, mencondongkan diri dengan penuh perenungan dan tak henti-hentinya pada nilai-nilai keislaman adalah nama lain dari fitrah alias hakikat kemanusiaan. Untuk meraih kenikmatan dan kebahagiaan yang hakiki, inilah jalan yang harus ditapaki oleh manusia. Tanpanya, ia akan menjadi mangsa nan empuk bagi ketergelinciran yang, jika terjadi secara berulang kali, dapat berakibat pada kelumpuhan kedua kakinya.

Kini, tiba saatnya bagi kita untuk mengetahui apa sejatinya nilai-nilai Islam itu dan apa saja signifikansinya. Mengenai hal tersebut, Allah Taala berfirman dalam Surah al-Baqarah ayat 112:

بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗٓ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

“Sungguh benar! Barangsiapa yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, sedangkan ia sendiri adalah seorang yang berbuat baik, ia akan memperoleh ganjaran yang telah tersedia di sisi Tuhannya. Ketakutan tak akan menimpa mereka dan tiada pula mereka akan bersedih.”

Menurut Ghulām Aḥmad al-Qādiyānī (w. 1908 M/1326 H), ayat ini mencerminkan tiga nilai-nilai keluhuran Islam sekaligus tiga tingkatan kebahagiaan rohani. Derajat pertama adalah fanā’ yang terefkelsikan dalam ekspresi aslama wajhahū lillāh. Selanjutnya, derajat kedua dan ketiga adalah baqā’ dan liqā’ yang masing-masing tergambar dalam ungkapan wa huwa muḥsin dan fa lahū ajruhū ‘inda Rabbihī wa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanūn.5

Tingkatan fanā’ atau menyerahkan “wajah”6 kepada Allah berarti bahwa, guna mereguk piala kebahagiaan, seseorang wajib menyuguhkan dan mempersembahkan segenap kekuatan, anggota tubuh, dan apa yang ia miliki ke hadirat Allah Taala serta mengosongkan diri dari gejolak dan kenyamanan pribadinya. Stase ini diistilahkan sebagai fanā’ – yang bermakna ‘hilang’ atau ‘musnah’ – karena persona yang telah sampai kepadanya pada hakikatnya adalah orang mati yang telah berpisah dari segala keinginan ragawinya. Ia dinamai pula dengan istiqāmah karena ia menuntut seorang salik untuk memperagakan kekokohan dan keteguhan tekadnya.7 Di sini, ia merasakan bahwa ketenteraman (sakīnah) dan kesentosaan (iṭmi’nān) bergelora dalam wujudnya, sedangkan malaikat datang sebagai penghiburnya.8

Dalam rangka mencapai kedudukan ini, terdapat delapan sarana (wasīlah) yang harus dijejaki oleh salik dengan sungguh-sungguh:

  1. Mengenal Allah secara sahih dan beriman kepada Tuhan yang hakiki;
  2. Mendapatkan gambaran yang jelas menyoal kejuitaan dan kejombangan Tuhan;
  3. Menginsafi kebaikan-kebaikan Allah Taala;
  4. Doa, yaitu menyampaikan keluh-kesah, perasaan getir, dan permohonan nan mendalam kepada Wujud Yang Mahakuasa;
  5. Mujāhadah, yakni mengerahkan harta, tenaga, waktu, dan akal pikiran di jalan Tuhan;
  6. Istiqāmah dalam artian bahwa seseorang tidak bosan, lelah, putus asa, serta gentar ketika datang waktu ujian;
  7. Bersahabat dengan orang-orang salih dan mengamalkan teladan-teladan suci mereka;
  8. Mendapat bimbingan ilahi secara langsung melalui kasyaf, wahyu, dan mimpi-mimpi yang benar.9

Fanā’ merupakan tingkatan terakhir di mana manusia dituntut untuk berletih-letih demi meraih kecintaan ilahi. Begitu fase ini berhasil disuluki olehnya, ia secara otomatis masuk dalam fase baqā’ tanpa jeda sedikit pun. Pada stase ini, ia mengindra suatu kehidupan baru yang merasuk dalam setiap zarahnya setelah sebelumnya mati dari segala hawa nafsu pribadi. Ia kini mampu menyaksikan cahaya samawi yang, berkat kehadirannya, semua hijab yang menghalanginya dari Tuhannya lenyap tak berbekas.10

Dengan takbir lain, cinta yang dengan penuh ketulusan ia simpuhkan di hadapan singgasana Tuhan sekarang telah berbalas. Sebagaimana pasangan maskulin dan feminin yang saling bercinta menghasilkan buah hati, sebuah entitas pun lahir dari perpaduan antara cintanya dan cinta Allah. Entitas tersebut dikenal dengan rūḥ al-quds yang menyala dalam jiwanya.11

Persatuan rasa cinta yang halus, renyah, lagi manis itu menimbulkan dalam hatinya kelegaan sehingga ia bergembira ria seolah-olah tengah memeluk seorang sahabat karib yang telah lama tak dijumpai. Kalam Allah yang cemerlang, sedap, berberkah, menggembirakan, fasih, wangi, dan membawa kabar suka mulai turun kepadanya, baik ketika ia berdiri, duduk, tidur, maupun sadar. Magnet Tuhan menariknya ke arah-Nya dengan sangat kuat di luar pengetahuannya sendiri sehingga ia dapat melihat setiap saat bahwa Dia turun dan bersemayam dalam hatinya. Demikianlah karakteristik martabat liqā’.12

Warna ilahi (aṣ-ṣibghah al-ilāhiyyah) kini mengambil alih warna kemanusiannya (aṣ-ṣibghah albasyariyyah) layaknya api yang menutupi besi kala ia membakarnya. Terkadang, api tersebut begitu berkobar-kobar hingga sang pemiliknya merasa bahwa apa yang ia lihat (syuhūd) benar-benar nyata dan teraba (wujūd).12 Malahan, sewaktu ombak warna ilahi tadi tengah bergelombang dengan sejadi-jadinya (tamawwuj), ia dapat memanifestasikan secara langsung kekuasaan Tuhan (tajalliyyah) hanya dengan mengatakan, tak ubahnya bagai diri-Nya, “Kun,” dan sesuatu yang dimaksudkannya itu pun terlaksana tanpa perantaraan doa.13

Karena perhubungan yang tercipta antara dirinya dan Tuhannya bersifat dawam, Allah Yang Maha Berberkat lantas meletakkan pula keberkatan-Nya dalam perkataan, perbuatan, pergerakan, diam, makanan, pakaian, minuman, tempat, waktu, dan segala hal lain yang dimiliki oleh orang yang telah sampai pada derajat liqā’. Akibatnya, setiap benda yang disentuhnya pun dengan sendirinya akan dipenuhi berkat. Ia melihat dan mencium keberkatan itu sehari-hari, dalam situasi mukimkah ataupun taktala sedang bersafar. Singkatnya, ia telah menjadi benar-benar ganjil (gharīb) yang hakikat perkaranya tak diketahui siapa pun, kecuali Tuhan dan Pembimbingnya seorang. Ia sekarang menikmati harkat nan adiluhung bak putra-putra-Nya yang amat dikasihi.14 Keyakinan dan iman yang sempurna telah mengisi dengan padat seluruh relung hatinya hingga tak ada lagi tempat yang tersisa bagi kesedihan, ketakutan, keragu-raguan, atau kegelisahan dalam menanti Sang Kekasih Hakiki.15

Martabat liqā’ yang luar biasa mulia ini, dalam perbendaharaan lain, disebut sebagai syadīd al-quwā karena peraihnya merasakan dalam padanya pengalaman wahyu dengan level yang paling agung. Ia juga diistilahkan dengan dzū al-ufuq al-a‘lā sebab pengejawantahan ilham dan mukjizat yang terbit darinya berada di atas tingkatan yang tertinggi. Ia pun dikenakan dengan sebutan ra’ā mā ra’ā mengingat bahwa pemahaman mengenainya tak kuasa dijangkau oleh daya khayal manusia.16

Demikianlah tiga tingkat kelezatan dan kebahagian yang dapat dicapai oleh manusia di dunia. Dengan menapaki ketiga anak tangga tersebut, ia kini naik (dunuww) ke hadapan singgasana ilahi dan menjadi orang yang dekat (muqarrab) di sisi-Nya. Namun, hal ini tidaklah berarti bahwa aktivitasnya sudah selesai. Suatu kegetiran justru muncul dalam hatinya melihat rekan-rekannya tengah menyantap kenestapaan spiritual. Ia pun turun (tadallī) kepada mereka untuk membagibagikan cercahan-cercahan kesuka-citaan ilahi. Ia mulai menampilkan di tengah-tengah mereka nur dan kecemerlangan samawi sepulangnya dari perjamuan kudus bersama Tuhan. Lantas, jadilah ia khalifah Allah atau manusia sempurna (insān kāmil) yang memediasi hubungan Khalik dengan makhluk-Nya (jāmi‘ at-ta‘alluqain) ibarat sebuah tali yang menengahi dua busur dalam satu panah (qāb qausain).17

Inilah puncak segala puncak, zenit segala zenit, serta tujuan final eksistensi manusia di muka bumi.

 

Tentang Penulis

Tim Redaksi

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia