Opini

Gagasan Pendiri Ahmadiyah Tentang Pengkhidmatan Kemanusiaan

pengkhidmatan kemanusiaan

“Yang menjadi maksud, tujuan dan hasratku ialah pengkhidmatan bagi

Sepenggal kalimat itu, menjadi nasihat yang begitu luar biasa. Bagaimana tidak, menurutku, saat ini manusia terlalu disibukkan dengan urusan duniawi masing – masing. Alih – alih berbuat untuk kemanusiaan, kata – kata seputar kemanusiaan pun jarang dilontarkan. Entahlah, apa opiniku yang terlalu liar atau memang itu sudah menjadi hal yang lumrah di alam jagad raya ini.

Mari menelisik kehidupan saat ini, rasa peka, simpati, hingga empati sejatinya sulit ditemui. Padahal pengkhidmatan, layaknyanya pengabdian hinggga pelayanan untuk kemanusiaan berawal dari rasa peka. Rasa peka terhadap sesama, dapat diartikan sensitif terhadap keadaan orang lain. Ketika orang lain merasa kurang, merasa sedih, hingga merasa sendiri, timbul rasa memahami keadaan tersebut dengan atau tanpa adanya pemberitahuan.

Diri merasa peka terhadap keadaan orang lain dapat menimbulkan rasa simpati hingga empati. Disitulah letak pelayanan pada kemanusiaan. Berawal dari perasaan hingga berakhir dengan tindakan. Semuanya berawal dari dapat merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan oleh orang lain, hingga akhirnya dapat melakukan sesuatu untuk orang tersebut. Hingga orang tersebut dapat terbantu dengan adanya diri kita.

Sejatinya, bantuan dalam hal kemanusiaan tidak berkutat pada materi karena tidak semua kebahagiaan dan kenikmatan dapat diukur dengan nominal uang. Walaupun materi dan keuangan tidak terlalu mendukung, Siapa pun dapat melakukan pelayanan pada kemanusiaan.  Sebut saja melalui pendidikan, semisalnya pendidikan moral hingga akhlak yang dapat diberikan pada orang lain. Jangan, jangan menganggap remeh nilai pendidikan karena sampai kapan pun, pendidikan akan lebih bermanfaat dan lebih menyentuh dibandingkan dengan sekedar nominal uang yang akan habis seiring dengan waktu.

Tidak hanya pendidikan, apa pun bentuknya untuk melayani kemanusiaan jika hal itu berasal dari hati, tidak ada yang mampu menepisnya. Perhatian, motivasi yang berasal dari hati tentu akan sampai pula ke hati. Dan pastinya, orang lain pun dapat merasakan ternyata ada seseorang yang memperhatikannya hingga memberikannya semangat untuk bangkit dari kesedihan dan keterpurukan. Itulah realita yang menyatakan bahwa  kebahagiaan dan kenikmatan hidup pun dapat ditularkan dengan hati. Berikanlah, lakukanlah sesuatu dengan hati, sejatinya penerimanya pun akan merasakan sampai pada hatinya.   

Sepenggal kalimat pengkhidmatan kemanusiaan di awal sejatinya berasal dari pendiri Jamaah Muslim , Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Terlepas dari gelar Imam Mahdi dan Masih Mauud as yang Allah SWT berikan pada beliau. Dengan sepenuh hati beliau menyampaikan maksud, tujuan dan hasratnya ialah pengkhidmatan bagi kemanusiaan. Dan faktanya, itulah yang senantiasa beliau lakukan dari awal hingga turun temurun kepada para khalifahnya dan kepada murid – muridnya.

Mengapa tidak, banyak utusan – utusannya beliau kirimkan ke seluruh pelosok negeri untuk memberikan pelayanan kemanusiaan dari Pendidikan, hingga kesehatan. Sebut saja di sebuah gurun Tharparkar di India, seluas 19.638 km2 dengan 2 juta penduduk. Kehidupan manusia di sana dimulai sejak 8.000 tahun sebelum Masehi. Meskipun dunia luar sudah modern, tempat itu dapat dibilang masih terbelakang. Manusia dan hewan pun minum dalam 1 kubangan. Kehidupan di sana pun luput dari pendidikan, peradaban, dan kebutuhan hidup yang mendasar.

Di tahun 80 an, melaui khalifahnya, dikirimkan beberapa mualimin ke gurun Tharparkar tersebut untuk melakukan pengkhidmatan kemanusian. Adab, pendidikan, hingga kesehatan senantiasa diberikan kepada masyarakat di Gurun Tharparkar. Semua dilakukan semata – mata atas nama kemanusiaan dan tulus dari hati. Hingga pada akhirnya, di gurun yang berawal luput dari peradaban, pendidikan, hingga kebutuhan yang mendasar itu, saat ini berkembang menjadi kota yang maju dari segi peradaban, pendidikan dan kesehatan. Masyarakat disana menjadi masyarakat yang beradab dan mengenal dekat Tuhan-Nya. Ketauhidan senantiasa berkumandang mengiringi kemajuan pendidikan dan kesehatan.

Itulah salah satu bukti konkret tujuan pengkhidmatan kemanusiaan yang digagas pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah dan senantiasa ditularkan kepada murid – muridnya. Lalu saat ini, kita yang berdiri di sekitar lingkungan yang sudah mengenal peradaban, namun miris dari kehidupan yang beradab, rasanya suatu hal yang menjadi keharusan untuk ikut serta melakukan pengkhidmatan atas nama kemanusiaan. Teringat dengan sabda Nabi besar Muhammad saw “Sebaik-baik manusia adalah dia yang bermanfaat bagi manusia yang lain” (HR.Ahmad)

Sumber gambar : https://www.firstgiving.com/humanityfirst

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=PCfE0PFC6Uo&t=81s

 

Tentang Penulis

Mutia Siddiqa Muhsin

Tinggalkan komentar