Opini

Gempa Bumi Pertanda Imam Mahdi Telah Datang

bencana

Di sela-sela waktu senggang saya sempatkan untuk membaca sebuah buku karya Hz. Mirza Ghulam Ahmad As (Imam Mahdi, Al-Masih Yang Dijanjikan, dan Juruselamat Untuk Umat Manusia)  buku itu  beliau as beri judul “Bahtera Nuh”  di dalamnya saya menemukan sebuah kalimat sebagai berikut:

tidak diturunkan kepada seseorang di alam dunia ini disebabkan oleh perbedaan agama. Mengenai hal itu akan diputuskan nanti pada hari kiamat. Sesungguhnya, dunia ini ditimpa oleh sebab menyebar luasnya kejahatan, keangkuhan, dan menyebarnya perbuatan dosa”.

Berawal dari sabda Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as inilah, hati saya tergerak untuk menganalisa kejadian-kejadian alam yang akhir-akhir ini menjadi buah bibir banyak orang.

Masih segar dalam ingatan kita bahwa, telah menguncang pulau dengan kekuatan 6,4 SR  dan korban menurut Data Badan Nasional Penanggulan (BNPB) menyebutkan 20 orang meninggal dunia, salah satunya warga negara Malaysia serta 401 orang lainnya mengalami luka-luka. Ditambah dengan kerusakan terjadi pada sejumlah bangunan, yaitu adanya 1.454 rumah, 7 unit fasiltas pendidikan, 22 tempat ibadah, 5 unit kesehatan, 37 kios, dan 1 jembatan yang rusak.

Belum kering air mata pasca gempa di tanah Lombok pada bulan Juli yang lalu, masih di tahun yang sama hanya berselang satu bulan dua puluh delapan hari tepatnya pada tanggal 28 September 2018  Pulau Sulawesi tengah, diguncangan oleh gempa bumi berkekuatan 7,4 SR yang disertai dengan tsunami. Sebanyak 2.045 korban meninggal dunia. Perinciannya 171 di Donggala, 1.636 di , 222 di Sigi, 15 di Moutoung, dan 1 orang di Pasang Kayu,” kata Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Rabu (9/10/2/10/2018).

Jika gempa bumi telah marak terjadi, ini merupakan pertanda akhir zaman sudah tiba dan Imam Mahdi telah diutus oleh Allah Ta’ala ke dunia untuk memulihkan kondisi Agama dan umat manusia sebagaimana terdapat di dalam sebuah hadist  yang berbunyi sebagai berikut:

أُبَشِّرُكُمْ بِالْمَهْدِيِّ يُبْعَثُ فِي أُمَّتِي عَلَى اخْتِلَافٍ مِنْ النَّاسِ

وَزَلَازِلَ فَيَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْم

 

 Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa. Maka ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman.”

 (HR Ahmad)

Bukankah  tanda itu telah nampak pada zaman ini? Perilaku manusia semakin hari semakin melenceng dari jalan yang telah Allah Ta’ala tentukan. Jadi wajar jika gempa bumi  bertubi-tubi menimpa umat manusia karena pada saat ini kondisi prilaku manusia sudah jauh dari tujuan ia diciptakan, mereka begitu tamak kepada duniawi berdampak pada lalai dalam beribadah, lalai dalam memenuhi hak-hak sesamanya.

Belum lagi petualangan dosa masih terus dilakukan, mengaku telah bertobat tetapi masih melakukan bentuk-bentuk keaniayaan, kekejian, dan kebohongan secara terselubung, layaknya seperti ular yang walaupun telah berganti kulit tetap saja ular.

Dan kekejian tersebut tidak hanya dilakukan secara individu akan tetapi telah menyebar keberbagai negeri bagaikan wabah pes yang pernah melanda kerajaan Inggris pada tahun 1665-1666 menewaskan 100.000 jiwa, atau 20 persen penduduk kota London. Keburukan yang telah melanda dengan begitu dahsyatnya itu, tidak mungkin dapat dikalahkan hanya seorang diri akan tetapi harus secara bersama-sama. Karena keburukan, kekejian, keangkuhan dan menyebarnya perbuatan dosa telah menyebar dan mengakar dengan kokohnya di muka bumi ini.

Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadir Sebagai Solusi Bagi Umat Manusia

Jemaat Ahmadiyah didirikan bukan atas dasar keinginan pribadi atau pun desakan dari para pengikutnya, akan tetapi Jemaat Ahmadiyah didirikan atas perintah dari Allah Ta’ala melalui wahyu yang diberikan kepada utusannya yakni Hazrat Mirza Ghulam Ahmad As (Iman Mahdi, Al-Masih Yang Dijanjikan, Krisna, Avatar dan Juruselamat Yang Dijanjikan untuk umat manusia) bunyi wahyunya sebagai berikut:

زمین طوفان ضلالت برپاہے تو اس طوفان کے وقت میں یہ کشتی تیارکر جو شخص اس کشتی میں سوارہوگا وہ غرق ہونے سے نجات پاجائےگا اور جو انکار میں رہےگا اس کےئے موت درپشیں ہے

 

 “Bumi telah tertutup oleh banjir kesalahan. Kamu harus menyiapkan bahtera sekarang dari banjir ini, sehingga mereka yang naik ke atas bahtera, akan terhindar dari jatuh tenggelam dan siapa yang menolak akan menghadapi kematian”.

Bahtera ini tidak ubahnya seperti bahtera  Nabi Nuh as mampu menyelamatkan para pengikutnya dari azab Allah Ta’ala. Terbukti ketika wabah pes melanda India para pengikut Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as yang bernaung di dalam rumah beliau as dan mereka yang masuk kedalam jamaah beliau terselamatkan. Walaupun tidak disuntik oleh faksin akan tetapi tidak terjangkit wabah tersebut justru mereka yang menggunakan faksi terkena wabah dan Meninggal dunia.

Tentu, para pengikut yang taat kepada sepuluh syarat bai’at yang mereka ikrarkan ketika menggabungkan diri mereka kedalam Jemaat Ahmadiyah itu lah, yang Allah Ta’ala selamatkan. Lantas apa bunyi dari sepuluh syariat bai’at itu?

  1. Di masa yang akan datang hingga masuk ke dalam kubur senantiasa akan menjauhi syirik.
  2. Akan senantiasa menghindarkan diri dari segala corak bohong, zina, pandangan birahi terhadap bukan muhrim, perbuatan fasiq, kejahatan, aniaya, khianat, mengadakan huru-hara, dan memberontak serta tidak akan dikalahkan oleh hawa nafsunya meskipun bagaimana juga dorongan terhadapnya.
  3. Akan senantiasa mendirikan shalat lima waktu semata-mata karena mengikuti perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, dan dengan sekuat tenaga akan senantiasa mendirikan shalat Tahajud, dan mengirim salawat kepada Junjungannya Yang Mulia Rasulullah s.a.w dan memohon ampun dari kesalahan dan mohon perlindungan dari dosa; akan ingat setiap saat kepada nikmat-nikmat Allah, lalu mensyukurinya dengan hati tulus, serta memuji dan menjunjung-Nya dengan hati yang penuh kecintaan.
  4. Tidak akan mendatangkan kesusahan apa pun yang tidak pada tempatnya terhadap makhluk Allah umumnya dan kaum Muslimin khususnya karena dorongan hawa nafsunya, biar dengan lisan atau dengan tangan atau dengan cara apa pun juga.
  5. Akan tetap setia terhadap Allah Ta’ala baik dalam segala keadaan susah ataupun senang, dalam duka atau suka, nikmat atau musibah; pendeknya, akan rela atas keputusan Allah Ta’ala. Dan senantiasa akan bersedia menerima segala kehinaan dan kesusahan di jalan Allah. Tidak akan memalingkan mukanya dari Allah Ta’ala ketika ditimpa suatu musibah, bahkan akan terus melangkah ke muka.
  6. Akan berhenti dari adat yang buruk dan dari menuruti hawa nafsu, dan benar-benar akan menjunjung tinggi perintah Al-Qur’an Suci di atas dirinya. Firman Allah dan sabda Rasul-Nya itu akan menjadi pedoman baginya dalam tiap langkahnya.
  7. Meninggalkan takabur, sombong; akan hidup dengan merendahkan diri, beradat lemah-lembut, berbudi pekerti yang halus, dan sopan-santun.
  8. Akan menghargai agama, kehormatan agama dan mencintai Islam lebih dari pada jiwanya, hatanya, anak-ananknya, dan dari segala yang dicintainya.
  9. Akan selamanya menaruh belas kasih terhadap makhluk Allah umumnya, dan akan sejauh mungkin mendatangkan faedah kepada umat manusia dengan kekuatan dan nikmat yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepadanya.
  10. Akan mengikat tali persaudaraan dengan hamba ini “Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud” semata-mata karena Allah dengan pengakuan taat dalam hal makruf (segala hal yang baik) dan akan berdiri di atas perjanjian ini hingga mautnya, dan menjunjung tinggi ikatan perjanjian ini melebihi ikatan duniawi, baik ikatan keluarga, ikatan persahabatan ataupun ikatan kerja.

Semua anggota Jamaah Muslim Ahmadiyah di seluruh dunia pada hakikatnya sedang mengamalkan kesupuluh syarat bai’at tersebut secara bertahap dan berkesinambungan. Karena dengan upaya seperti itu lah azab yang akan Allah Ta’ala turunkan tertunda, memingat masih ada sekelompok orang yang berada di jalannya.

 Dan dengan upaya seperti itu pula lah kejahatan yang telah menyebar luas, ketamakan kepada duniawi yang membabi buta, keangkuhan, dan menyebar luasnya perbuatan dosa perlahan terhambat pertumbuhannya dan semakin sedikit peminatnya. Aamiin.

 

Tuhan Itu Satu

Allah Ta’ala telah menciptakan dunia ini dengan segala fasilitas di dalamnya, semata mata untuk keperluan manusia. Udara yang berulang kali kita hirup tanpa harus merogok kocek sepeser pun, secara cuma-cuma Allah Ta’ala berikan, baik itu kepada mereka yang mengingkari keberadaannya dan kepada mereka yang menyakini wujudnya.

Entah Tuhan yang mana, yang sebenarnya berbuat baik kepada umat manusia yang jelas saya berkeyakinan bahwa Tuhan itu satu dengan beragam nama yang berbeda. Orang Inggris memanggil Tuhan dengan panggilan “God”, sedangkan orang Arab memanggil Tuhan dengan panggilan “Allah” dan orang Yahudi mereka memanggil Tuhan dengan panggilan “Elohim”.

Jangan pula beranggapan bahwa disebabkan namanya berbeda sehingga terbentuk suatu pemahaman bahwa Tuhan itu ada banyak. Ada Tuhan orang Inggris, Tuhan orang Arab, Tuhan orang Yahudi, Tuhan orang , dsb. Pemahaman seperti itu begitu sangat keliru, kenapa timbul perbedaan nama?  Ini erat kaitannya dengan cuaca, faktor makanan, budaya, dsb. Sehingga bahasa di satu tempat dengan tempat yang lain akan jauh berbeda dalam hal pengucapan maupun penulisan.

Nampaknya perbedaan ini dengan sengaja Allah Ta’ala ciptakan supaya saling mengenal satu dengan yang lainnya. Sebagaimana di dalam Al-qur’an Allah Ta’ala berfirman :

وَمِنْ اٰيٰتِهٖ خَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافُ اَلْسِنَتِكُمْ  وَاَلْوَانِكُمْ ۗ  اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّلْعٰلِمِيْنَ

 “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu, dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”

 (QS. Ar-Rum 30: Ayat 22)

Itu artinya suka tidak suka perbedaan ini akan tetap ada, dari pada membencinya. Lebih baik menyukai, lantas mengenalnya karena perbedaan akan selalu ada. Biarkan Allah Ta’ala yang menghakimi siapa yang salah dan benar di antara kita, tugas kita hanya lah hidup rukun ditengah-tengah perbedaan ini.

Lebih lanjut Imam Mahdi as bersabda:

Tatkala orang-orang memautkan hati mereka terhadap dunia melampaui batas, dan mereka mengabaikan Allah Ta’ala, maka azab akan turun untuk memperingatkan mereka. Lihatlah, betapa hebatnya kehancuran yang telah ditimbulkan oleh wabah pes. Kembali dari menguburkan satu orang, maka sudah ada saja satu orang lag yang mati.

Ingatlah, hukuman bagi penyembah terhadap berhala, penyembah terhadap manusia, dan dari penyembahan terhadap mahluk, tersedia di . Namun, hukuman bagi orang-orang bejat, bagi kezaliman dan keaniayaan, bagi kelalaian, bagi orang yang suka menyakiti orang yang benar, justru diberikan di dunia ini juga.

Lihatlah, azab yang datang di zaman Nuh. Jika mereka tidak menyakiti rasul Allah Ta’ala, tentu azab itu tidak akan datang karena dunia bukanlah tempat pembalasan. Yang langsung memperoleh hukuman adalah orang yang berbuat bejat. Sedangkan orang yang dengan baik-baik tetapi bergelimang dosa, hukuman baginya di akhirat. Adapun azab yang melanda dunia sekarang ini, desebabkan kebejadan dan kejahatan sudah melampaui batas sedemikian rupa, seolah-olah Tuhan itu sudah tidak ada lagi.

Maka dari itu mari kita saling mengingatkan dan saling mencintai satu dengan yang lainnya, supaya tercipta kerukunan dan terhindar dari kepunahan akibat . Apa yang telah disampaikan oleh Imam Mahdi sang hakim yang adil telah memberitahukan kepada kita bahwa kita harus bersikap toleransi kepada setiap pemeluk agama karena yang berhak menghakimi amal perbuatan manusia yakni Allah Ta’ala.

Kemudian bagi mereka yang menolak dan tidak mempercayai bahwa beliau adalah Imam Mahdi, maka beliau bersabda : Namun, hukuman bagi orang-orang bejat, bagi kezaliman dan keaniayaan, bagi kelalaian, bagi orang yang suka menyakiti orang yang benar, justru diberikan di dunia ini juga.

Maka segeralah untuk menggabungkan diri kedalam sebuah bahtera yang Allah Ta’ala sendiri dirikan, mari kita bersama-sama melawan kekejian, kejahatan, keaniayaan, dan sebagainya. Dengan cinta yakni love for all hatred for none.

Sumber Gambar: http://www.pikiran-rakyat.com/nasional/2018/10/07/pencarian-korban-gempa-tsunami-palu-ditargetkan-selesai-11-oktober-2018-431263

Tentang Penulis

Rafi Assamar Ahmad