Peristiwa

Gerhana dalam Perspektif Agama Dunia

Penulis Rafiq Ahmad

GERHANA adalah fenomena astronomi yang terjadi apabila sebuah benda angkasa bergerak ke dalam bayangan sebuah benda angkasa lain. Istilah ini umumnya digunakan untuk gerhana Matahari ketika posisi Bulan terletak di antara Bumi dan Matahari, atau gerhana bulan saat sebagian atau keseluruhan penampakan Bulan tertutup oleh bayangan Bumi. Namun, gerhana juga terjadi pada fenomena lain yang tidak berhubungan dengan Bumi atau Bulan, misalnya pada planet lain dan satelit yang dimiliki planet lain.

KRISTEN DAN YAHUDI
(Yoel 2:31 [LAI TB] Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan yang hebat dan dahsyat itu.
2:32 Dan barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan, sebab di gunung Sion dan di Yerusalem akan ada keselamatan, seperti yang telah difirmankan TUHAN; dan setiap orang yang dipanggil Tuhan akan termasuk orang-orang yang terlepas.”)
(Wahyu 6:12 [LAI TB] Maka aku melihat, ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keenam, sesungguhnya terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah.)
(Lukas 21:25 [LAI TB] “Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut.)
(21:26 Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang.)
“Jika permukaannya (bulan) seluruhnya nampak seperti darah, maka pedang datang ke dunia”
כולו פניו דומין לדם חרב בא לעולם
Transliteration: Kulo panav domiyn ledam, kherev ba le’olam (Talmud, Sukkah 29a)

HINDU
Menurut mitos Hindu ada 2 setan yakni Ketu dan Rahu yang dipercaya menelan matahari ketika gerhana terjadi. Untuk itu bagi wanita hamil selama berlangsung dianjurkan untuk tetap berada di dalam rumah agar bayi mereka tidak cacat setelah dilahirkan. Ibadah ketika yang dianjurkan antara lain: puasa, doa-doa, dan ritual mandi di sungai-sungai suci. Lebih jelasnya, umat Hindu diharapkan terjaga dan tetap siaga saat gerhana terjadi sembari mengingat Sang Pencipta dan berdoa.

Sedang umat Hindu di Bali akan menggelar ritual persembahyangan untuk meningkatkan kewaspadaan dengan pemukulan kentongan di setiap desa adat (desa pekraman) hingga matahari muncul secara normal kembali. Selain itu, Rerahinan Tilem dirayakan ketika bulan mati, maksudnya gelap (tidak ada sinar bulan di langit). Kegelapan pada hari Tilem ini, justru bernuansa religius. Ditinjau dari pengetahuan Astronomi, bahwa pada bulan tilem itu posisi bulan berada diantara Matahari dengan Bumi sehingga suasana menjadi gelap gulita di malam hari.

Pada waktu hari suci tilem umat Hindu berusaha mendekatkan diri kehadapan Brahman/Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dengan melakukan persembahyangan berupa canang sari. Maksud dan tujuannya adalah dalam memuja Brahman atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan bunga-bunga yang menyimbolkan “Wasana”, secara harfiah kita berserah diri di hadapanNya yang merupakan sari dari keberadaan kita yang alami.

Ketika kita mengambil bunga untuk persembahyangan kelima jari-jari tangan menjuntai ke bawah, hal ini menunjukkan bahwa manusia masih terikat oleh keduniawian, dan masih terikat oleh benda-benda material, serta masih dipengaruhi oleh rasa emosional yang tinggi.

Selanjutnya bunga-bunga tersebut juga dibawa ke atas oleh jari-jari tangan yang tercakup, hal ini menyimbolkan Bahwa seseorang mempersembahkan karma wasananya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan kata lain kecenderungan yang mengarah pada hal-hal yang berbau duniawi kini diarahkan menuju Brahman atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

BUDHA
Menurut ajaran Agama Budha saat gerhana matahari atau bulan merupakan waktu terbaik untuk melaksanakan Sadhana Akasagarbha Boddhisattva untuk meningkatkan kekuatan pikiran. ibadah ketika gerhana matahari berupa Sadhana ini merupakan menekuni Sadhana tertentu ketika atau matahari guna mendapat adi duniawi maupun siddi duniawi (lokiya maupun lokuttara). Seluruh tata cara ritual ketika gerhana matahari ini telah termuat dalam Tripitaka.

ISLAM

 وَخَسَفَ ٱلْقَمَرُ.وَجُمِعَ ٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ

“Dan apabila bulan telah hilang cahayanya. Dan Matahari dan bulan dikumpulkan.” (QS. Al-Qiyamah: 8-9)

(QS 28:82 dan QS 75:8)
Bagi umat Islam, peristiwa gerhana dianggap sebagai tanda kekuasaan dan kebesaran Allah swt. Karena hal tersebut, peristiwa gerhana mempunyai makna khusus bagi umat Islam. Bila gerhana terjadi, umat Islam dianjurkan untuk melakukan salat gerhana, satu-satunya salat yang dianjurkan untuk dilakukan saat terjadi perististiwa alam tersebut.

Rasulullah saw. bersabda :

Dari Abu Mas’ud r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kebesaran Allah, di mana Allah menakuti hamba-Nya. Tidak terjadi gerhana karena kematian seseorang manusia, akan tetapi keduanya merupakan dua tanda kebesaran Allah, apabila kamu menyaksikannya, maka laksanakan solat dan berdoalah kepada Allah sehingga dikembalikan kembali oleh Allah” (HR Bukhari dan Muslim, nas ini lafaz Muslim 4/463 hadits nomor 1516)

Sabda Rasulullah saw.,

“Maka jikalau kamu melihatnya berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, bersedekahlah serta bersembahyanglah”. (Hadis riwayat Bukhari)

Telah terjadi gerhana Matahari pada hari wafatnya Ibrahim putra Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Berkatalah manusia: Telah terjadi gerhana Matahari karana wafatnya Ibrahim. Maka bersabdalah Rasulullah saw,

“Bahwasanya Matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Allah mempertakutkan hamba-hambaNya dengan keduanya. Matahari gerhana, bukanlah kerana matinya seseorang atau lahirnya. Maka apabila kamu melihat yang demikian, maka hendaklah kamu salat dan berdoa sehingga selesai gerhana.” (HR. Bukhari & Muslim)

Jumat 20 Maret 2015 lalu di London juga terjadi gerhana matahari, Khalifah Islam Ahmadiyah, Mirza Masroor Ahmad, memimpin shalat gerhana dan dalam khutbah setelahnya mengenai esensi gerhana dikatakan bahwa di dunia saat ini orang menganggap bahwa gerhana hanyalah tontonan semata, mereka menempuh perjalanan jauh hanya untuk dapat menyaksikan pemandangan gerhana dengan jelas, namun bagi mukmin sejati tidaklah pantas melakukan hal seperti itu.

Menurut ajaran Nabi Muhammad saw. gerhana merupakan suatu peringatan, oleh karenanya mukmin sejati harus mengarahkan perhatiannya untuk mengingat Allah taala, memohon ampunan dan bersedekah. Dalam meriwayatkan sabda Rasulullah saw, Huzur mengatakan:

“Tanda gerhana yang Allah tunjukkan ini bukan terjadi karena kehidupan atau kematian seseorang, sebaliknya, Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya melalui hal-hal tersebut. Jadi ketika kalian menyaksikannya, maka bergegaslah untuk mengingat Allah dan meminta ampunan-Nya.”

Kemudian pada hari itu, selama khutbah Jumat, Huzur mengatakan bahwa menurut sabda Rasulullah saw peristiwa gerhana matahari dan bulan telah dinubuatkan sebagai tanda kedatangan Nabi Isa yang dijanjikan. Pada tahun 1894, tanda ini telah tergenapi di masa kehidupan Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, yang mendukung pendakwaannya sebagai Imam Mahdi dan Almasih Yang Dijanjikan. Huzur mengatakan bahwa ratusan orang percaya kepada pendakwaan Hadhrat Masih Mau’ud saat mereka menyaksikan gerhana matahari dan bulan.

 

Penulis: Rafiq Ahmad

Tentang Penulis

Rafiq Ahmad