Satire

Gus Jari, Mengapa Engkau Bertobat?

SAYA sayangkan, mengapa Gus Jari bertobat setelah keluarnya fatwa MUI? Saya yakin, Gus Jari sudah memikirkan matang-matang dengan klaim kenabiannya.
SAYA sayangkan, mengapa Gus Jari bertobat setelah keluarnya fatwa MUI? Saya yakin, Gus Jari sudah memikirkan matang-matang dengan klaim kenabiannya.

SAYA sayangkan, mengapa Gus Jari bertobat setelah keluarnya fatwa ? Saya yakin, Gus Jari sudah memikirkan matang-matang dengan klaim kenabiannya.

ANDA pasti mengenal Jari bin Supardi, kali ini biar saya memanggil beliau dengan Gus Jari. Tidak apa-apa khan? Anggap aja ini sebuah penghormatan kepada beliau, khan beliau punya pondok. Malah, kalau punya pondok khan harus dipanggil kiayi. Tapi, media kok malah memanggil beliau dengan apa adanya, Jari. Ada juga yang ditambahi sedikit, Jari bin Supardi, yah sama saja. Pasti ada sesuatu sehingga seorang owner dari sebuah pondok pesantren dipanggil apa adanya, Jari.

Dunia memang keras. Seseorang yang mengatakan dirinya adalah seorang pejabat negara, tentu Anda akan memanggilnya dengan sebuah sebutan yang paling hormat, Bapak misalnya, atau Pak, atau Tuan, atau dengan sejelek-jeleknya sebutan, Bung. Tak peduli ia adalah bagian dari mereka yang suka makan uang rakyat atau tidak, insting manusiawi Anda yang seorang rakyat jelata harus menggunakan sebutan itu. Apalagi jika ada orang yang mengaku polisi di jalan dimana Anda lupa membawa SIM. Sebuah suguhan kehormatan akan Anda berikan meski Anda tahu berapa kali Anda ditilang yang berakhir damai.

Gus Jari ini mengaku dirinya nabi. Saya sungguh kasihan dengan Gus Jari. Kenapa harus mengaku ‘nabi’, Gus? Mengaku diri nabi di negeri ini adalah besar. korupsi, suap, tipu-menipu, pengakuan palsu dan -dosa yang sering dilakukan para manusia berdasi ini tak ada apa-apanya dibanding dengan sebuah pengakuan kenabian. Padahal, itu baru pengakuan yang diketahui oleh banyak orang, termasuk yang kita muliakan ‘alim-‘ulamā’ di MUI. Saking durjananya dosa pengakuan kenabian, MUI tak punya waktu untuk mengurusi dosa-dosa kecil  seperti malingin duit rakyat. Gus Jari, Anda sedang berada dalam masalah yang besar.

Gus Jari ini mengaku sebagai Nabi Isa HabibAllāh. Saya tidak tahu, apakah itu Nabi Isa yang telah dikabarkan oleh Rasulullah saw. dulu, dimana beliau akan turun di akhir zaman, atau Nabi Isa yang lain, hanya Gus Jari dan Allāh yang mengetahuinya. Terlepas dari subyektifnya wahyu yang Gus Jari dapatkan sehingga beliau menyakini bahwa beliau adalah sosok Nabi Isa-yang-dijanjikan, tentu Gus Jari tidak punya keberanian untuk menjual negeri ini hanya bermodalkan pengakuan kenabian. Bisa saja, ada mimpi-mimpi yang indah tentang di masa depan. Bukankah kedatangan seorang nabi membawa kebaikan? Setidaknya, klaim kenabian tidak serta-merta membuat orang tersebut membentuk sebuah partai, lalu menguasai khan?

Yang saya sayangkan, mengapa Gus Jari bertobat setelah keluarnya fatwa MUI? Saya yakin, Gus Jari sudah memikirkan matang-matang dengan klaim kenabiannya. Sebab, seluruh penduduk negeri sudah tahu bahwa dosa mengaku diri sebagai nabi adalah dosa besar. Dosa yang sulit diampuni umat yang terluka, sebab telah dinistakan. Apalagi, motor dari sikap umat di negeri adalah MUI. Gus Jari khan tahu, MUI ini sangat alergi dengan klaim kenabian. Sebisa mungkin MUI berjuang melenyapkan orang yang menyatakan dirinya nabi juga umat yang mengikutinya.

Apakah Gus Jari tidak yakin lagi dengan wahyu atau ilham yang ia terima? Atau Gus Jari takut akan adanya amukan umat yang merasa tersakiti atas pengakuan kenabiannya? Atau Gus Jari takut dipenjara seperti Lia Eden dan Ahmad Musadek? Seharusnya, kalau Gus Jari yakin dengan wahyu yang diterimanya, Gus Jari harus berani menghadapi semua resiko itu. Bukankah seorang nabi datang ke dunia pasti ditolak dan ditentang? Bukan karpet merah dan taburan bunga yang menyambut kenabian seseorang. Seorang nabi biasa ditolak dan ditentang sebab ia membawa sesuatu yang orang di zamannya masih merasa nyaman dengan kebiasaan lama.

Ada seorang nabi dari India, bernama Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., beliau membawa sebuah konsep baru tentang . Orang-orang di zamannya menolak, menentang, bahkan menyatakan kafir karena beliau meniadakan konsep dengan pedang. Menurut beliau, pada masa ini yang harus diusung adalah dengan pena. Orang-orang Islam hendaknya mampu menuliskan  tentang keindahan agama Islam dengan argumentasi-argumentasi yang umat agama lain tak mampu membantahnya. Inilah yang dianggap menyimpang, sampai-sampai dikatakan bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. adalah antek . Seiring berjalannya waktu, justru konsep beliaulah yang mulai diadopsi oleh banyak kalangan. Bukankah itu resiko menjadi seorang nabi? Yang pada akhirnya, orang-orang secara bertahap mengikuti ajaran-ajarannya meski di awal semua itu tidak diterima.

Sebenarnya, ada apa dengan Gus Jari? Apakah Gus Jari tidak tidak memiliki keyakinan yang kuat bahwa kedatangan beliau akan membawa perubahan? Seorang nabi datang ke dunia tidak bermodalkan harta, jabatan, relasi dan kemitraan. Nabi bukan politikus yang harus bermodalkan segalanya. Modal kenabian seseorang hanyalah keyakinan yang kuat bahwa ia benar. Keyakinan yang kuat bahwa di belakangnya ada sumber yang tak terbatas, Allāh Ta‘ālā. Dengan bermodalkan keyakinan ini, apalagi yang perlu ditakutkan? Menjadi seorang kepala negera, Anda perlu mendapat perlindungan keamanan ekstra. Menjadi seorang nabi, hanya Allāh tempat bergantung.

Gus Jari, apakah Anda takut dengan fatwa ulama? Atau Anda takut dipenjara? Atau Anda takut kehilangan apa yang sudah Anda upayakan di dunia? Kalau semua ketakutan ini membuat Anda ingin bertobat, lalu menarik kembali pengakuan kenabian Anda, berarti Anda sedang bermain-main dengan . Para Nabi yang telah diceritakan dalam tidak pernah menarik kembali klaim kenabiannya. Mengapa? Karena mereka memang benar-benar datang dari Allāh. Lantas, Gus Jari ini datang dari mana? Jawabannya bukan dari Jombang khan?

Saran saya, Gus Jari perlu banyak belajar ke sebelum mengumumkan kenabiannya. Sebab, adalah sebuah organisasi Islam yang berdiri di atas pondasi kenabian. Pendiri Jemaat adalah seorang Nabi, dimana beliau menyatakan diri sebagai Nabi Isa yang dijanjikan turun ke dunia. Selama beliau, beliau tidak pernah menyatakan tobat dan menarik kembali klaim kenabian beliau. Jemaat beliau kini sudah tersebar ke seluruh dunia, sekitar 206 negara. Terlalu panjang untuk menceritakan tentang disini. Mudah-mudahan Gus Jari bisa mempertimbangkan saran saya ini. Semoga saja.

 

Penulis: Muhammad Nurdin; editor: F. Ahmadi dan Raam DMX.

Tentang Penulis

Muhammad Nurdin

Tinggalkan komentar