Opini

Hakikat Al-Qur’an sebagai Kitab yang Terang dan Penyempurna

al quran

Sebelum penulis menuliskan hal-hal inti yang ingin disampaikan dalam tulisan ini, penulis ingin sekali menjelaskan dasar pemikiran apa yang melatarbelakangi penulis untuk membuat tulisan ini.

Tulisan ini, sebenarnya, penulis buat untuk memberikan penjelasan singkat sekaligus menjawab terhadap pernyataan-pernyataan dari beberapa penentang Ahmadiyah yang selalu saja menolak untuk menggunakan akal pemikiran dan menggunakan fakta-fakta ilmiah yang logis dalam memahami penjelasan hakiki mengenai

Wahyu pengangkatan as ke langit. Mereka selalu saja berdalih bahwa pengangkatan Isa as ke langit merupakan kuasa Allah Ta’ala yang mana bisa saja terjadi melampaui batas-batas akal pemikiran manusia, dan menyuruh umat untuk tidak memikirkan hal ini lagi karena hal ini sudah menjadi kuasa dan takdir Allah Ta’ala.

Ada juga beberapa di antara mereka yang berpendapat bahwa pengetahuan-pengetahuan ilmiah dunia itu berbeda ranah dan tidak pernah bisa menjelaskan peristiwa tersebut yang akan tetapi pasti terjadi. Jadi intinya mereka menolak penjelasan-penjelasan rasional, penjelasan-penjelasan logis yang mudah dipahami manusia berkenaan peristiwa tersebut dan menilai bahwa penjelasan-penjelasan rasional, logis dan ilmiah tidak bisa melebihi Kuasa Allah Ta’ala.

Kalau saja mereka menggunakan pemikiran tersebut, lalu untuk apa Allah Ta’ala berfirman bahwa Al-Qur’an hanya dipergunakan bagi mereka (manusia) yang berpikir, lalu mengapa Allah Ta’ala berfirman juga bahwa Al-Qur’an merupakan Al- yang terang dan penyempurna, lalu mengapa di dalam Surat Al-Nahl Allah Ta’ala berfirman bahwa lebah sangat bermanfaat lalu bisa dibuktikan secara ilmiah bahwa di dalam lebah terdapat sesuatu yang berkhasiat bagi manusia, yaitu madu.

Hal ini sudah pastinya membuktikan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan untuk Umat dan seluruh manusia, sudah bersesuaian dengan perkembangan akal pemikiran mereka yang sudah berkembang dengan sangat maju dan sempurna, yang sejatinya seharusnya mereka sudah bisa memahami setiap penjelasan-penjelasan yang tersirat di dalam Al-Qur’an ketika telah terbuka.

Lalu mengapa ketika Allah Ta’ala berfirman bahwa lebah sangat bermanfaat bagi manusia dan bisa dibuktikan secara ilmiah, akan tetapi ketika Allah Ta’ala berfirman tentang Nubuatan Isa Al-Masih yang akan datang di Akhir Zaman tidak bisa atau tidak boleh dijelaskan atau dibuktikan secara ilmiah dan logis pula ? apakah itu suatu pemikiran yang sangat berkontradiksi ?

Allah Ta’ala telah berfirman bahwasanya Al-Qur’an merupakan sebuah Al-Kitab yang Terang dan Penyempurna, tentunya hal ini harus menjadi perhatian lebih dan dipikirkan oleh umat manusia dan umat Islam untuk mengetahui mengapa bisa demikian, apa yang membuat Al-Qur’an sebagai Kitab yang terang dan sempurna ?

Jangan sampai kita meyakini akan tetapi kita tidak mengetahui atau tidak memiliki ilmu tentangnya. Maksud atau hakikat dari Al-Qur’an sebagai Kitab yang terang dan sempurna adalah bahwasanya Al-Qur’an itu pasti memiliki penjelasan yang hakiki yang terkandung di dalamnya yang dengannya maka akan membuka pintu hati manusia, membuka kesadaran setiap manusia dan menambah ilmu pengetahuan manusia.

Dengan sempurna dan terangnya Al-Qur’an, maka hal ini menandakan sebagai pelengkap atau penyempurna dari Kitab-Kitab terdahulu dan menjadi pembelajaran bagi umat manusia kedepannya. Untuk membuat Al-Qur’an menjadi Kitab yang terang dan sempurna, maka manusia diperintahkan Allah Ta’ala untuk melakukan pengkajian secara mendalam dan ilmiah terhadap setiap Allah Ta’ala yang terkandung di dalamnya.

Yang disempurnakan dengan adanya Ilmu Ruhani atau Bimbingan Ruhani berupa wahyu atau ilham yang langsung diberikan oleh Allah Ta’ala. Ketika kamu telah menemukan hakikatnya, maka kamu akan menyadari betapa begitu melimpah ruahnya kekayaan ilmu yang terkandung di dalam Al-Qur’an.

Dengan diperlukannya pengkajian secara mendalam dan ilmiah, maka manusia diperintahkan untuk melakukan pencarian bukti-bukti lain yang mendukung kandungan ilmu Al-Qur’an yang bersesuaian dan logis bagi pemahaman manusia. Pengkajian mendalam, logis dan ilmiah ini berlaku secara universal. Termasuk di dalamnya pencarian kebenaran hakiki mengenai Nubuatan Imam Mahdi Akhir Zaman, karena hal inilah yang belum ada kejelasan bagi sebagian besar umat Islam.

Ketika bukti-bukti telah diperoleh, maka langkah selanjutnya manusia harus dibimbing oleh Allah Ta’ala untuk meyakini hatinya dan untuk memperoleh suatu rahasia kebenaran hakiki dari Allah Ta’ala dari bukti-bukti yang ada. Akan tetapi dalam tulisan ini, saya tidak ingin menjelaskan secara spesifik mengenai penjelasan ilmiah dari nubuatan Imam Mahdi di akhir zaman, melainkan ingin lebih memberikan beberapa penjelasan yang menggambarkan telah terbukanya rahasia kebenaran hakiki dari Allah Ta’ala yang menggenapi atau membuktikan Al-Qur’an sebagai Kitab yang terang, jelas dan sempurna, berikut beberapa penjelasannya:

Di sini, saya mungkin akan menjelaskan tiga atau lima tulisan yang menjadi bukti penjelasan bagi Al-Qur’an sebagai Kitab yang Terang dan Sempurna. Pertama adalah tulisan Ammar Ahmad mengenai “Cara Nabi Elia as atau Ilyas as turun dari Langit”. (Baca: http://rajapena.org/cara-nabi-elia-as-turun-dari-langit/).

Melalui tulisan ini, telah menandakan atau membuktikan sempurnanya dan terangnya Al-Qur’an. Di dalam Al-Qur’an memang tidak dijelaskan lebih banyak tentang kisah Nabi Ilyas as atau Nabi Elia as. Akan tetapi dengan adanya peristiwa Nabi Isa as atau Yesus yang diangkat ke Langit dan turun dari Langit, hal ini membuat umat Muslim harus mengkaji dan mempelajari Kitab-Kitab terdahulu yang mengisahkan Nabi Elia as secara lengkap untuk memperoleh kejelasannya.

Terangnya Kitab Al-Qur’an terhadap permasalahan Isa Al-Masih yang kedua terletak pada adanya pengulangan kisah yang akan terjadi di dalam Umat Islam mengenai kedatangan Imam Mahdi yang akan serupa atau sama persis dengan umat-umat terdahulu ketika diturunkannya utusan Tuhan.

Lalu sempurnanya Al-Qur’an terletak pada bantahan Al-Qur’an yang membantah akidah Kristen bahwa Yesus adalah tuhan dan diangkat ke langit. Jadi untuk mendapatkan kebenaran hakiki mengenai datangnya Imam Mahdi atau Isa Al-Masih yang kedua. Maka seorang Umat Muslim harus mempelajari dan mengkaji Kitab-Kitab terdahulu. Barulah mereka akan menyadari dan menemukan hakikat dari Al-Qur’an sebagai Kitab yang terang dan sempurna.

Tulisan kedua adalah tulisan yang berkenaan dengan Jinn. Di dalam buku Wahyu dan Rasionalitas yang dituliskan oleh Khalifah ke-4 Jamaah Muslim Ahmadiyah, Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh. dalam pembahasan mengenai Hakikat Jinn.

Buku tersebut, sebenarnya, telah membuktikan dan menjelaskan bagaimana Al-Qur’an merupakan Kitab yang terang dan sempurna. Sebagai umat Islam yang awam, sebelumnya, saya memahami Jinn sebagai makhluk raksasa yang menyeramkan dengan badan yang besar dan tinggi, dan makhluk itu nyata sebagai makhluk ghaib atau astral.

Akan tetapi melalui buku tersebut – yang saya pahami – menjelaskan bahwasanya Jinn yang ada di dalam pikiran saya itu tidaklah nyata atau eksis di alam semesta ini sebagai makhluk ghaib. Beliau menjelaskan bahwa kata Jinn secara bahasa merupakan sesuatu yang tak terlihat dengan kasat mata, dan sesuatu yang tidak diketahui, akan tetapi kata tersebut tidak mengarah pada suatu makhluk raksasa yang ada di pikiran saya sebelumnya.

Kata ini mengandung makna tak terlihat akan tetapi bukan makhluk ghaib. Hazrat Mirza Tahir Ahmad rh. melalui buku beliau menjelaskan bahwa kata Jinn itu bisa merujuk pada makhluk-makhluk hidup mikroba atau makhluk hidup lainnya yang ukurannya sangat mikro dan memang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Kebanyakan dari mereka hidup di tempat kotor dan menjadi makhluk-makhluk pengurai makanan sisa atau busuk. Makna Jinn lainnya merujuk pada kisah Nabi Sulaiman as yang dikisahkan dalam Firman Allah Ta’ala.

Makna Jinn yang dimaksud di dalam kisah Nabi Sulaiman as ini merujuk pada sekelompok orang atau suatu bangsa yang tidak diketahui oleh Nabi Sulaiman as sendiri mengenai dari mana mereka berasal dan bahasa mereka sangat sulit dipahami atau dimengerti. Yang mana mereka membantu Nabi Sulaiman as membangun sebuah bangunan megah untuk menyambut kedatangan Ratu Bilqis.

Kata Jinn tersebut merujuk pada arti dari sesuatu yang tidak diketahui atau dikenali oleh Nabi Sulaiman as dan rakyatnya. Dengan telah memahami dan menemukan makna hakiki dari Jinn tersebut, penulis memperoleh kejelasan bahwasanya satu-satunya makhluk ghaib yang eksis di alam dunia ini dan telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an hanyalah merujuk pada Allah Ta’ala semata sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga penulis tidak perlu lagi merasa takut dengan gambaran-gambaran makhluk ghaib lainnya seperti setan, iblis, kuntilanak, pocong dll. Dengan memperoleh kejelasan seperti ini, hal ini juga telah menandakan bahwasanya penulis telah memperoleh hakikat dari Al-Qur’an sebagai Kitabullah yang Terang dan Sempurna.

Tulisan ketiga adalah mengenai hakikat beriman kepada para Malaikat. Tulisan atau penjelasan tersebut sebenarnya telah menjadi pembuktian atau hakikat dari Al-Qur’an sebagai sebuah kitab yang terang dan sempurna.

Pembuktiannya terletak pada penjelasan hakikat Malaikat yang dijelaskan oleh Hadrat Masih Ma’ud as melalui tulisan tersebut. Sebagai seorang umat Muslim pasti telah mengenal 10 para Malaikat Allah Ta’ala, dan sebenarnya memang telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an bahwasanya jumlah para Malaikat Allah Ta’ala sangatlah banyak tapi yang wajib diimani hanyalah 10 saja.

Akan tetapi saya melihatnya ternyata lama-kelamaan para malaikat yang jumlahnya banyak ini mulai diabaikan. Sehingga kini ketika mendengar kata malaikat maka yang ada di bayangan dan dikenali oleh umat muslim pada umumnya hanyalah kesepuluh malaikat tersebut.

Hazrat Masih Ma’ud as menjelaskan bahwa hakikat para malaikat itu jauh lebih dari itu dan bukan hanya kesepuluh Malaikat tersebut. Tugas-tugas para Malaikat itu sangatlah menyeluruh dan dapat dipastikan menyentuh segala lini kehidupan manusia yang pastinya atas izin, perintah atau kuasa dari Allah Ta’ala.

Inilah yang dimaksudkan oleh sabda Jibril bahwasanya ia tidak akan bisa bekerja tanpa perintah Allah Ta’ala. Hazrat Masih Ma’ud as menjelaskan bahwasanya malaikat itu merupakan ciptaan Allah Ta’ala yang berasal dari Zat-Nya, yaitu cahaya. Yang hanya tunduk dan patuh pada Allah Ta’ala, maka mereka akan bekerja.

Hazrat Masih Ma’ud as menjelaskan bahwasanya dari proses penciptaan manusia sampai dengan kematiannya, di sana terdapat Tangan Allah Ta’ala yang bekerja melalui para malaikat-Nya.

Allah Ta’ala memerintahkan para malaikat-Nya untuk membentuk organ-organ yang ada di dalam diri manusia, menyalurkan sel-sel darah bagi manusia agar mereka bisa hidup, dan mereka diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk membentuk daging-daging manusia agar mereka menjadi manusia yang utuh.

Di antara para malaikat tersebut, Allah Ta’ala perintahkan kepada mereka untuk mengambil peran menjadi ruh yang dapat menghidupkan ruhani dan jasad manusia. Di antara para malaikat tersebut, Allah Ta’ala perintahkan kepada mereka untuk mengatur planet-planet agar melintas sesuai dengan orbitnya agar keseimbangan alam semesta tetap terjaga.

Bahkan Hazrat Masih Ma’ud as menjelaskan bahwa tugas para Malaikat itu juga sampai bagaimana mereka mengendalikan unsur-unsur partikel-partikel terkecil untuk membuat alam semesta ini bekerja.

Inilah bentuk kekuasaan Allah Ta’ala atas para Malaikat-Nya dan atas alam semesta yang diciptakan oleh-Nya. Allah Ta’ala adalah perancang, sementara para Malaikat-Nya adalah pekerja.

Dan bentuk perwujudan Malaikat lainnya adalah ketika musuh-musuh Rasulullah saw menjadi gentar dan takut saat berperang. Inilah hakikat para Malaikat yang dijelaskan oleh Hadrat Masih Ma’ud as sebagai sebuah bentuk hakikat dari Al-Qur’an sebagai Kitabullah yang Terang dan Sempurna.

Mungkin cukup tiga saja yang ingin penulis sampaikan sebagai sebuah penjelasan mengenai hakikat Al-Qur’an sebagai kitab yang terang dan sempurna. Sebenarnya ada banyak bukti lainnya tapi tidak mungkin untuk penulis jelaskan secara seluruhnya.

Inti atau pesan yang ingin penulis sampaikan melalui tulisan ini adalah sebagai seorang muslim yang meyakini dan mengimani bahwa Al-Qur’an sebagai sebuah Kitab yang terang dan sempurna, maka Muslim tersebut harus menemukan dan memahami hakikat yang terdapat di dalamnya. Dengan cara melakukan pengkajian secara mendalam dan ilmiah secara terus-menerus dengan menggali sebanyak apapun bukti lainnya yang mendukung.

Seorang muslim juga harus senantiasa menggunakan akal pikirannya yang logis untuk memahami segala firman Allah Ta’ala. Akan tetapi hal itu semua harus disempurnakan dengan bimbingan atau ilmu ruhani langsung dari Allah Ta’ala apabila mereka belummenemukan atau memiliki Guru Ruhani yang hakiki.

Sumber Gambar: http://nur-muslim.blogspot.com/2013/08/baca-al-quran-yuuuk.html

Tentang Penulis

Mansoor Ahmad Syahid