Opini

Harapan di Hari Esok

harapan

Beribu-ribu aksi muncul satu per satu

Berjuta-juta ujaran kebencian berdatangan

Wahai dimana rasa kemanusiaan mu

Yang telah membunuh tiada ampun

Inilah aku, hidup di kota besar yang tidak pernah tidur. Dimana pusat pemerintahan tumbuh, dimana semua pengaduan akan selalu berdatangan ke kota ini. Berbagai macam pengaduan muncul, mulai dari pelanggaran tata tertib lalu lintas hingga ujaran kebencian.

Dari surat Al-Maidah hingga Ibu Indonesia. Dari pejabat negara hingga anak presiden. Dari ucapan hingga sebuah puisi. Dari semua hal itu, selalu berujung pada kebencian hingga penghakiman terhadap orang tersebut. Sudah menjadi suatu hal klasik di kota ini ketika permasalahan itu ada.

Hidup di kota yang penuh ujaran kebencian memanglah sangat sulit. Tidak gampang di kota ini untuk menyebarkan nilai perdamaian dan menumbuhkan nilai . Tidak hanya di kota ini saja, tetapi juga di tempat lain yang ujaran kebencian sudah menjadi makanan sehari-hari.

Sesat, itulah kata yang sering mereka lontarkan tanpa ada klarifikasi yang benar. Prasangka atas nama agama akan terus bermunculan. Entah darimana asalnya, tapi memang hal itu selalu terjadi. Walaupun itu sangat menarik jadi bahan gosip di sore hari, tapi entah berapa nyawa yang akan terbunuh di malam harinya.

Aku pernah berdiskusi dengan salah satu teman dan dia berkata, “Tidak salah jika masa kecil kita tidak berpikir kritis, yang salah ketika sudah dewasa pemikirannya tidak kritis”. Kalimat itu menyimpan makna yang sangat dalam dengan melihat kondisi yang sekarang telah terjadi.

Kenyataannya, banyak elemen masyarakat yang dengan mudahnya menerima suatu berita tanpa mencernanya terlebih dahulu sehingga menjadi salah persepsi. Aku selalu berfikir, sampai kapan rasa kedewasaan akan pemikiran itu muncul, sampai kapan sikap kekanak-kanakan mereka akan hilang. Ketika mereka dengan mudahnya percaya kepada orang lain, padahal hal tersebut belum tentu benar adanya.

Banyak yang menyikapi perbedaan adalah penghalang untuk membuat perdamaian. Pemikiran saling mengkafirkan satu sama lain membuat kita tidak mengerti esensi dari kata persamaan.

Padahal, dengan adanya persamaan, kita dapat menciptakan perdamaian. Persamaan memang sangatlah sedikit dibandingkan perbedaan. Tapi, dengan menghargai arti persamaan kita dapat menciptakan ikatan kekeluargaan dan melahirkan cipta rasa untuk memunculkan suatu perdamaian.

Aku terus berdoa di malam hari. Di relung hati yang sangat dalam, aku ingin adanya perdamaian. Suatu perdamaian abadi. Tanpa adanya cacian dan makian, tanpa adanya istilah kafir mengkafirkan, tanpa adanya saling benci.

Entah sudah berapa banyak aku harus menahan cacian dan makian atas hidup yang telah aku jalani. Entah sudah berapa banyak saudara ku yang sudah menjadi korban intoleransi. Entah sudah berapa nyawa yang tidak berdosa di bunuh.

Di dalam Alquran, Allah SWT telah menjelaskannya di dalam surat An Nisa ayat 129

خَيْرٌ وَالصُّلْحُ

Artinya: “Dan perdamaian itu lebih baik”

Selain itu, Nabi Muhammad SAW telah menyerukan kepada umatnya untuk menyebarkan nilai perdamaian yang telah dikutip di dalam hadits:

“Demi Jiwaku yang ada di tangan-Nya, tidak akan masuk surga kecuali orang beriman dan tidak beriman tanpa ada rasa saling kasih sayang, Sebarkanlah perdamaian” (HR. Ahmad, dalam kitab Baqi Musnad al-Mukatstsirin, No. 9788, 9332, dan 8722)

Tidak hanya itu. Khalifatul Masih ke V Hadhrat Mirza Masroor Ahmad di dalam khutbahnya menjelaskan bahwa:

“Di dalam Alquran telah ditegaskan bahwa orang-orang Islam baik secara pribadi maupun kolektif sebagai suatu bangsa, tidak patut memperlihatkan perilaku yang buruk terhadap suatu bangsa disebabkan rasa permusuhannya, sehingga tidak memenuhi tuntutan keadilan.”

Selain itu, penting sekali bagi kita saat ini untuk menanggapi segala sesuatu dengan kritis. Jangan dengan mudahnya untuk menerima suatu informasi secara tekstual yang melahirkan pemikiran yang belun tentu benar adanya.

Menumbuhkan pemikiran kritis memang bukanlah hal mudah. Perlu bagi kita saat ini untuk melakukan tabayyun terhadap suatu informasi yang posisinya di antara hitam dan putih, karena kita tidak pernah mengetahui apakah berita itu akan membawa kepada mimpi buruk atau tidak.

Mungkin hidup kita akan terus bermunculan ujaran kebencian. Mungkin sampai ajal kita kebencian akan terus tetap ada. Mungkin kata perdamaian akan terus menjadi bacaan dongeng di saat sebelum tidur.

Tapi, kita tidak boleh menyerah sedikitpun untuk membawakan narasi perdamaian. Ingatlah apa yang telah Allah pesan kepada manusia, yaitu untuk menjadi khalifah di muka bumi dan tetaplah teguh untuk menyebarkan nilai perdamaian.

Love for All, Hatred for None

Cinta untuk semua, kebencian tidak untuk siapapun

Sumber gambar

https://www.jasonisaacs.me/prayer-boring-3-ways-fix/

Tentang Penulis

Nabilah Hurul Aini