Dalil Fiqih

Haruskah syarat Shalat Jumat mesti ada 40 orang?

Ilustrasi Shalat Jumat di Jamaah Muslim Ahmadiyah; gambar 1 di Masjid Baitul Futuh Morden, London, Inggris Raya; gambar 2 dan 3 di gang depan mushalla dan rumah muballigh Jamaah Muslim Ahmadiyah di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan. (Dokumentasi Media Center JAI)

Ilustrasi di Jamaah Muslim Ahmadiyah; gambar 1 di Baitul Futuh Morden, London, Inggris Raya; gambar 2 dan 3 di gang depan mushalla dan rumah muballigh Jamaah Muslim Ahmadiyah di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan. (Dokumentasi Media Center JAI)

ADA yang mempertanyakan saat ada tigabelas orang dari Jamaah Muslim Ahmadiyah di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, melaksanakan Jumat, hari Jumat (12/6) lalu, “Mengapa tidak ada empatpuluh orang?”

Empatpuluh orang yang dimaksud adalah salah satu syarat sah dalam shalat Jumat. Bukan hanya syarat empatpuluh orang saja yang dipertanyakan, tapi “Mengapa juga tidak di masjid?”

Sebenarnya, haruskah dengan jumlah empatpuluh orang dan mesti di masjid jami’ untuk mendirikan Shalat Jumat?

Dari hasil penelusuran teks maupun literatur dan di beberapa situs internet, kami temukan bahwa tidak mesti empatpuluh orang untuk sebuah syarat sah mendirikan Shalat Jumat. Bahkan, menurut Ḥaḍrat Imam Asy-Syaukani r.h., “Jika ada dua orang melakukan Shalat Jumat di suatu tempat yang tidak ada jamaah lainnya maka mereka berarti telah memenuhi kewajiban.”

 

MENDIRIKAN Ṣalāt Jum‘at (Shalat Jumat) adalah dengan berjamaah di masjid. Syaratnya, sebagian ulama menyarankan, harus minimal empatpuluh jamaah agar bisa dinyatakan sah. Sebagian lainnya menyatakan dengan jumlah tertentu, ada dua, tiga, empat, duabelas, dan Yang Mulia (Ḥaḍrat) Imam Ahmad r.h. sendiri menyaratkan limapuluh orang sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mughnī.

Shalat Jumat bermakna jama‘ah atau banyak orang. Ḥaḍrat Rasulullah—ṣallal-Lāhu ‘alaihi wa sallam (saw.)—selalu menunaikan ṣalāt ini secara berjamaah, bahkan hal ini menjadi ijma’ (kata sepakat) para ulama. (Al-Mawsu‘ah Al-Fiqhiyyah, 27:202)

Menurut madzhab atau aliran Hanafiyah, jika telah hadir satu jamaah selain imam maka sudah terhitung sebagai jamaah Ṣalāt Jum‘at. Karena demikianlah minimalnya jamak. Dalil dari pendapat Hanafiyah adalah seruan jamak dalam ayat di ˻QS LXII—Al-Jumu‘ah: 9˺:

فَاسْعَوْا إِلٰى ذِكْرِ‌ اللَّـهِ وَذَرُ‌وا الْبَيْعَ

“Maka bersegeralah Anda untuk mengingat Allāh dan tinggalkanlah jual-beli.” (QS 62:9)

Seruan dalam ayat ini dengan panggilan jamak. Minimal jamak adalah dua orang. Ada pula ulama Hanafiyah yang menyatakan tiga orang selain imam.

Ulama aliran Malikiyyah menyaratkan bahwa yang menghadiri Shalat Jumat minimal duabelas orang dari orang-orang yang diharuskan menghadirinya. Mereka berdalil dengan hadits Jabir:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ قَآئِمًا يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَجَآءَتْ عِيرٌ مِنْ الشَّامِ فَانْفَتَلَ النَّاسُ إِلَيْهَا حَتَّى لَمْ يَبْقَ إِلَّا اثْنَا عَشَرَ رَجُلًا

“Rasulullah—ṣalla’l-Lāhu ‘alaihi wa sallam—berdiri berkhotbah pada hari Jumat, lalu datanglah rombongan dari Syam, lalu orang-orang pergi menemuinya sehingga tidak tersisa, kecuali dua belas orang.” (HR Muslim, hadis ke-863)

Ulama aliran Syafi’iyah dan Hambali memberi syarat empatpuluh orang dari yang diwajibkan menghadiri Shalat Jumat. Di dalam kitab Al-Mughni (2:171) tercantum, “Syarat empatpuluh orang dalam jamaah Shalat Jumat adalah syarat yang telah masyhur dalam aliran Hambali. Syarat ini adalah syarat yang diwajibkan mesti ada dan syarat sahnya Shalat Jumat. …Empat puluh orang ini harus ada ketika dua Khotbah Jumat.”

Dalil yang menyatakan harus empatpuluh jamaah adalah kesimpulan dari perkataan sahabi Ḥaḍrat Ka’ab bin Malik—rāḍiya’l-Lāhu ‘anhu (r.a.):

لأَسْعَدَ بْنِ زُرَارَةَ قَالَ لأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ جَمَّعَ بِنَا فِى هَزْمِ النَّبِيتِ مِنْ حَرَّةِ بَنِى بَيَاضَةَ فِى نَقِيعٍ يُقَالُ لَهُ نَقِيعُ الْخَضِمَاتِ. قُلْتُ كَمْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ قَالَ أَرْبَعُونَ.

“As‘ad bin Zararah adalah orang pertama yang mengadakan Shalat Jumat bagi kami di daerah Hazmi An-Nabit dari harrah Banī Bayāḍah di daerah Naqi‘ yang terkenal dengan Naqi‘ Al-Khaṣamat. Saya bertanya kepadanya, ‘Waktu itu, ada berapa orang?’ Dia menjawab, “Empatpuluh.” (HR Abu Daud, hadis ke-1069; Ibnu Majah hadis ke-1082; Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa ḥadīts tersebut ˻ḥasan˺).

Begitu pula ditarik dari hadits Ḥaḍrat Jabir bin ‘Abdillah,

مَضَتِ السُّنَّةُ أَنَّ فِيْ كُلِّ أَرْبَعِينَ فَمَا فَوْقَهَا جُمْعَةٌ

“Telah berlalu sunnah bahwa setiap empatpuluh orang ke atas diwajibkan shalat Jumat.”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Ḥaḍrat Imam Al-Baihaqī dalam “Al-Kubro, 3: 177”. Hadits itu lemah atau ḍa‘if (daif) sebagaimana didaifkan oleh Syaikh Al-Albani dalam “Irwau’l-Ghalil 603”.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam “Talkhish Habir, 2:567” berkata bahwa di dalamnya terdapat ‘Abdul ‘Aziz di mana Ḥaḍrat Imam Ahmad r.h. mengatakan bahwa ḥadītsnya dibuang karena dia adalah perawi dusta atau pemalsu ḥadīts.

Ḥaḍrat Imam An-Nasai r.h. berkata bahwa ‘Abdul ‘Aziz tidaklah tsiqah atau dipercaya. Ḥaḍrat Imam Ad-Dāruquṭnī r.h. berkata bahwa ‘Abdul ‘Aziz adalah munkarul hadits atau orang yang diingkari ḥadītsnya.

Kesimpulannya, ḥadīts terakhir ini adalah hadits yang daif  sehingga tidak bisa menjadi dalil pendukung.

Sedangkan, ˻ḥadīts dari Ḥaḍrat Ka‘ab bin Malik r.a.˺ hanya menjelaskan keadaan dan tidak menunjukkan jumlah empatpuluh sebagai syarat. Sehingga, pendapat yang rajih atau kuat dalam masalah ini adalah jamaah Shalat Jumat tidak beda dengan jamaah shalat lainnya. Yakni, sah dilakukan oleh dua orang atau lebih karena sudah disebut jamak.

Adapun ḥadīts yang menceritakan dengan duabelas jamaah, maka ḥadīts ini tidak dapat dijadikan dalil pembatasan hanya duabelas orang saja. Karena, ia terjadi tanpa sengaja dan ada kemungkinan sebagiannya kembali ke masjid setelah menemui mereka.

Adapula pendapat Ḥaḍrat Imam Ahmad r.h. yang menyaratkan limapuluh orang namun ḥadītsnya lemah sehingga tidak bisa dijadikan pendukung. Seperti hadits Ḥaḍrat Abu Umamah r.a., dikatakan bahwa Ḥaḍrat Rasulullah saw. bersabda:

عَلَى الْخَمْسِيْنَ جُمْعَةٌ وَلَيْسَ فِيْمَا دُوْنَ ذٰلِكَ

“Diwajibkan [ṣalāt] Jum’at pada lima puluh orang dan tidak diwajibkan jika kurang dari itu.”

Hadis itu diriwayatkan oleh Ḥaḍrat Imam Ad-Dāruquṭnī dalam kitab “Sunan 2:111”. Haditsnya lemah, di sanadnya terdapat Ja’far bin Az Zubair, seorang yang matruk. Ḥadīts yang matruk adalah ḥadīts yang pada sanadnya terdapat rawi yang tertuduh berdusta.

Juga hadits Ḥaḍrat Abu Salamah, beliau bertanya kepada Ḥaḍrat Abu Hurairah r.a.:

عَلَى كَمْ تَجِبُ الْجُمُعَةُ مِنْ رَجُلٍ ؟ قَالَ : لَمَّا بَلَغَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسِينَ جَمَّعَ بِهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Berapa jumlah orang yang diwajibkan shalat jamaah?” Abu Hurairah menjawab, ”Ketika sahabat Rasulullah saw. berjumlah limapuluh, Rasulullah mengadakan Shalat Jumat.”

Hadis ini disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam ˻Al-Mughni 2: 171˺. Terkait hadis tersebut, Ḥaḍrat Imam Al-Baihaqī berkata, “Telah diriwayatkan dalam permasalahan ini, hadits tentang jumlah limapuluh, namun isnad-nya tidak shahih. (Sunan Al-Kubra, 3: 255)”

Isnad adalah “mengasalkan ḥadīts kepada orang yang mengatakan” dan atau “silsilah orang-orang yang menghubungkan hadits kepada matan.” Matan merupakan suatu kalimat tempat berakhirnya sanad.

Apa yang menjadi pendapat terkuat tentang berapa jumlah minimal Shalat Jumat?

Perlu diperhatikan bahwa yang menjadi permasalah di sini adalah problematisir para alim-ulama mengenai syarat sah jumlah jamaah untuk Shalat Jumat.

Namun jumlah jamak itu menjadi syarat sah shalat Jum’at adalah berdasarkan ijma’ atau kesepakatan ulama. Ini yang dimaktubkan dalam kitab Syarh ‘Umdatul Fiqh karya Profesor Doktor ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Jibrin di Juz I:396.

Untuk minimal jamaknya ada yang mengatakan dua dan mayoritas ulama menyatakan minimal jamak adalah tiga. Ini sebagaimana tercantum dalam ‘catatan kaki’ kitab ˻Syarh ‘Umdatul Fiqh, I:396˺.

Ḥaḍrat Imam Asy-Syaukani r.h. mengatakan:

“Shalat Jumat adalah seperti shalat jamaah lainnya. Yang membedakannya adalah adanya khotbah sebelumnya. Selain itu, tidak ada dalil yang menyatakan bahwa shalat jumat itu berbeda.

“Perkataan ini adalah sanggahan untuk pendapat yang menyatakan bahwa ˻Shalat Jumat disyaratkan dihadiri imam besar, dilakukan di negeri yang memiliki masjid Jaami’, dan dihadiri oleh jumlah jamaah tertentu.˺

“Persyaratan ini tidak memiliki dalil pendukung yang menunjukkan sunnahnya, apalagi wajibnya, dan lebih-lebih lagi dinyatakan sebagai syarat. Bahkan, jika ada dua orang melakukan Shalat Jumat di suatu tempat yang tidak ada jamaah lainnya maka mereka berarti telah memenuhi kewajiban.” (Ad-Dararil Muḍiyyah Syarah ad-Durari’l-Bahiyah: 163)

 

Rumaysho.com | DMX | RajaPena.org

_
Sebagaimana ditulis di Rumaysho.com dengan penyuntingan ulang oleh Redaksi untuk kepentingan edukasi

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia

1 komentar

  • artikel yang bagus…golongan Islam yg saklek perihal syarat2 jumat, 40 orang, masjid jamik, imam besar, di suatu kampung yg ada shalat jumat tidak boleh ada shlat jumat lagi dst…ialah ahlus sunnah wal jamaah (NU)..

    Di jawa tengah pernah terjadi, shalat Jumat dari ormas Muhammadiyah (bukan Ahmadiyah) dihalang-halangi pihak NU. Sempat terjadi tindak kekerasan. Alasannya, tidak memenuhi syarat tadi.

Tinggalkan komentar