Opini

Hormati Gurumu, Cerdaskan Bangsamu

hari guru

Hari sudah lewat 5 hari. Tapi tak mengapa karena penulis juga berprofesi sebagai . Maklumkanlah karena tak mudah menjadi . Ketika seluruh siswa masih libur akhir tahun pelajaran, masuk kerja terlebih dahulu untuk mempersiapkan bahan ajar untuk satu tahun ke depan.

Bahan ajar harus disiapkan sedetil mungkin supaya akreditasi sekolah tinggi. Siswa tidak boleh kebingungan dengan apa yang mereka pelajari karena guru tidak menguasai apa yang akan mereka ajarkan. Pendidikan S1 atau S2 Pendidikan sepertinya tidak cukup untuk menghadapi siswa yang beranjak lebih pintar dari gurunya karena ketika di rumah mereka berguru kepada Profesor Google inc.

Lalu, di mana peran guru sebenarnya ketika sekarang seakan-akan murid jauh lebih cerdas dari gurunya? Sepertinya peribahasa “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” tak berlaku lagi di zaman now yang serba googling minded ini.

Apakah kita harus hentikan praktik googling atau duckduckgoing yang marak di era internet search engine ini? Jawabannya bisa anda cari sendiri di google.

Mari kita telaah Negara Finlandia dengan nilai PISA (Programme for International Student Assessment) tertinggi pada tahun 2001 oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development/Organisasi Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi). Finlandia berada di peringkat 1 pada keterampilan membaca, peringkat 4 dalam IPA, dan peringkat 5 dalam matematika.

Bagi beberapa orang mungkin peringkat ini biasa saja. Tapi bagi praktisi pendidikan Finlandia ini menjadi bukti dan prestasi bagi mereka karena berhasil mengubah keterpurukan pendidikan di negara Nordic ini.

Ketika Finlandia melakukan reformasi pendidikan sejak 1970, kritik tajam datang dari masyarakat yang menilai masa ajar 9 tahun di Sekolah Dasar (Basic Education) tidak masuk akal. Dalam Kata Pengantar buku Teach Like Finland (2017), Pasi Sahlberg menceritakan kekhawatiran sekolah-sekolah menengah atas dan universitas-universitas dengan sekolah model baru ini karena dinilai akan berperan dalam menurunnya tingkat pengetahuan dan keterampilan siswa.

Lalu, apakah hasil PISA Finlandia yang mencengangkan dunia pendidikan pada tahun 2001 masih relevan untuk kita pelajari? Bisa ya, bisa tidak. Namun, jika kita lihat dari sisi reformasi kualitas calon guru di Finlandia, kita harus banyak berkaca dari mereka.

Para calon guru di Finlandia diharuskan mengenyam pendidikan minimal magister berbasis penelitian seperti profesi lain sebelum mereka mulai mengajar. Mereka pun harus mempelajari psikologi anak, pedagogi, pendidikan khusus, mata pelajaran didaktik, dan kurikulum yang lebih banyak daripada mahasiswa lain di perguruan tinggi.

Dari sisi prestise, profesi guru di Finlandia pun mendapatkan penghormatan yang paling tinggi di antara profesi lain di negara lingkar Arktik itu. Data Eficiency Index pada tahun 2014 dari GEMS Education Solutions, dari segi pemberian upah, gaji guru di Finlandia paling efisien di antara profesi guru di negara lain walaupun bukan yang paling tinggi di dunia.

Efek dari reformasi pendidikan Finlandia adalah kini Finlandia menjadi salah satu dari 30 negara terkaya di dunia jika dibandingkan beberapa puluh tahun lalu ketika negara ini menjadi salah satu negara termiskin di dunia. Pendapatan per kapita Finlandia mencapai 41.812 USD, lebih tinggi dibandingkan dengan Jepang dengan 38.893 USD.

Pencapaian ini memberi kita petunjuk bahwa peningkatan kualitas guru dan pendidikan di Finlandia memberikan dampak positif bagi perekonomian di sana.

Bagaimana dengan ?

Indonesia tidak perlu berkecil hati karena Indonesia berada di peringkat 65 dalam keterampilan membaca, peringkat ke 66 di bidang IPA, dan peringkat ke 68 dalam matematika menurut PISA pada tahun 2012. Indonesia perlu berbangga karena kita berada di atas beberapa negara seperti Qatar, Peru, Panama, dan Kirgizstan.

Namun, Indonesia masih kalah jauh dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN lain seperti Singapura yang berada di peringkat ke 2 dalam matematika dan Malaysia di peringkat ke 57 di bidang yang sama.

Indonesia tentu mampu berubah jika pemegang otoritas pendidikan melakukan reformasi besar-besaran dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Perlu ada peningkatan dan terobosan dalam pengembangan pendidikan profesi guru dan peningkatan penghargaan terhadap guru.

Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua DPR RI, penulis mendukung penuh pernyataan Fadli Zon yang mengkritik kebijakan Presiden Joko Widodo yang fokus melakukan pembangunan jalan tol, MRT, LRT, dan pembangkit listrik 35.000 mega watt di berbagai daerah. Presiden Joko Widodo seharusnya menaruh perhatian yang jauh lebih dalam kepada pembangunan manusia Indonesia yang juga akan berdampak pada peningkatan ekonomi Indonesia di masa yang akan datang.

Nampaknya, Kartu Indonesia Pintar (KIP) belum memberikan hasil yang signifikan terhadap peningkatan taraf pendidikan anak Indonesia. KIP ini hanya membantu siswa dan orang tua siswa membayar biaya pendidikan, bukan pada peningkatan sarana dan prasarana pendidikan.

Ketika Sekolah Internasional berdiri mentereng di banyak kota di Indonesia, Sekolah Negeri Indonesia menjadi terpinggirkan di kalangan Orang Kaya Indonesia yang lebih mempercayakan anak mereka diajarkan oleh guru berbasis kurikulum International Baccalaureate yang berpusat di Cardiff, Wales. Guru Indonesia kini bersaing dengan guru taraf Internasional yang datang dari belahan dunia lain dengan perbedaan upah yang pasti jauh berbeda dibandingkan guru honorer di Indonesia yang digaji 200 sampai 300 ribu rupiah.

Pemerintah bisa memilih akan memulai berbenah dari sisi mana. Bisa dari sisi sarana dan prasarana atau peningkatan kesejahteraan guru sehingga masyarakat menyadari bahwa nilai-nilai pendidikan Indonesia masih tinggi dan terpercaya.

Selain kita memiliki tokoh pendidikan seperti Ki Hadjar Dewantara, R.A. Kartini, dan Dewi Sartika. Dewasa ini kita pun memiliki tokoh Bu Mus yang berdedikasi tinggi sebagai seorang guru SD Muhammadiyah Gantong, yang sempat memukau jagat kesusastraan Indonesia dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.

Dalam keadaan serba kekurangan dari segi sarana dan prasarana, Bu Mus terus memperjuangkan pendidikan kesepuluh anak Kampung Gantong yang ia namakan Laskar Pelangi. Nama Laskar Pelangi seakan-akan ia buat untuk menggambarkan keindahan kepribadian setiap anak didiknya selain tentunya memudahkan Bu Mus ketika ingin memanggil mereka semua.

Pak Julian dalam novel Andrea Hirata lainnya, Sang Pemimpi, pun mampu menyihir Ikal dan Arai untuk melanjutkan pendidikan hingga ke Perancis. Sosok Pak Julian digambarkan mampu memukau para murid hingga mereka berani bermimpi setinggi angkasa walau mereka datang dari keluarga miskin.

Sosok Bu Mus dan Pak Julian ini sepertinya masih banyak bertebaran di Indonesia, mereka yang mengajar dengan dedikasi tinggi, harapan tinggi terhadap anak didiknya, dan cinta putih suci layaknya orang tua yang melahirkan seluruh murid-muridnya. Namun kesejahteraan mereka masih terpinggirkan. Masihkah Indonesia terjebak di masa lalu dengan kualitas pendidikan dan penghargaan guru yang rendah? Untuk ini, jangan tanya google. Tanyakanlah pada Fadli Zon.

Selamat   

Sumber:

  1. http://ncee.org/what-we-do/center-on-international-education-benchmarking/top-performing-countries/finland-overview/finland-teacher-and-principal-quality/
  2. http://www.edefficiencyindex.com/
  3. http://uk.businessinsider.com/the-richest-countries-in-the-world-2017-3/#30-japan-gdp-per-capita-38893-31732-1

Sumber Gambar: https://lapakfjbku.com/15-alasan-mengapa-profesi-guru-patut-dibanggakan

Tentang Penulis

Taufik Khalid Ahmad

Tinggalkan komentar