Muhammad Nurdin Opini

Ibadah Haji | sebuah pesan Cinta yang teramat dalam

 

Ibadah Haji sebuah pesan Cinta yang teramat dalam bimas islam 3493894fa4ea036cfc6433c3e2ee63b0-bimas-islam-berkomitmen-sukseskan-penyelenggaraan-ibadah-haji-1435-h2014-h Bimas Islam Kemenag RI

sebuah pesan Cinta yang teramat dalam. (Ilustrasi dari Bimas Islam Kemenag RI)

PERGI Haji adalah puncak ke--an seorang . Dengan melaksanakannya, seorang telah melengkapi hakikatnya sebagai pemeluk , itu pun jika ia mampu. Sampai di titik ini pasti tidak akan menimbulkan perdebatan yang berarti. Apalagi, bagi mereka yang beragama hanya bermodal hapalan.

Pulang dari ibadah Haji, tentunya, bukan gelar, kan, yang kita bawa? Tak sedikit dari mereka yang berhaji punya harapan ada tambahan gelar pada namanya. Nyatanya, beragama itu masih berkisar pada upaya membentuk identitas spiritual tertentu. Padahal, tidak ada dinas yang mengurusi pahala dan dosa kita di dunia ini. Manusia memang suka mereka-reka level kerohaniannya.

Haji itu tak sekedar gelar. Ia lebih mengasyikkan dari itu. Mengasyikkan bukan dalam takaran piknik atau plesiran, sebab tercipta bukan sebagai tempat tamasya. Sama halnya dengan ibadah-ibadah lainnya, aspek “asyik” perlu melekat sebab ia yang akan menjadi penyedap. Kalau aspek “takut” yang kita tumbuh-biakkan dalam ibadah-ibadah kita, seumur hidup, bayang-bayang neraka akan terus memecut kita hingga sampai ke .

Dalam , derajat ‘isqun-‘asyiq adalah lebih tinggi dari maḥabbah. Seorang yang sedang “asyik” beribadah, itu artinya ada cinta yang bergelora yang mengalir di tiap urat syarafnya. Alirannya amat deras, mampu memompa denyut kalbu hingga suatu titik yang sulit dituliskan dalam kalimat yang paling mesra sekalipun.

Tak banyak orang tahu bahwa ‘ibadah haji’ memiliki pesan cinta yang amat mendalam. Semisal seorang pecinta yang berkunjung ke rumah kekasihnya untuk pertama kali, baru melihat rumahnya saja perasaan gembira yang bercampur rindu dan berbalut gelisah menyatu dalam tiap langkah. Ibadah haji bukan tentang Ka’bahnya, serupa dengan kunjungan sang pecinta ke rumah kekasihnya, bukan tentang rumahnya. Tapi tentang sang pemilik rumah itu, sang kekasih.

Kadang cinta membuat orang menjadi gila, itu tanda saat derajat “asyik” bergelora. Cinta yang tak kenal logika, sebab logika itu tidaklah mengasyikkan. Seperti keadaan sang pecinta, mondar-mandir tak karuan di sekitar rumah kekasihnya. Mau masuk malu, tidak masuk gelisah jadinya serba salah. Dan, semua ini tak masuk dalam takaran logika. Sang pecinta melihat-lihat dari kejauhan, barangkali ia akan keluar dari kamarnya untuk melihat sesekali. Lalu, sang pecinta pun mencari-cari cara untuk menarik perhatiannya. Bukankah yang seperti ini tak masuk dalam takaran logika?

Seorang muslim yang beribadah haji sedang dirundung cinta yang meremukkan raga tapi mengokohkan sukma. Ungkapan cintanya yang mendalam dapat dilihat dari aktivitas ibadahnya. Ia mengenakan dua lembar kain putih tak berjahit, layaknya mayat yang mau dikafani, ia hendak melenyapkan segala yang ia punya, sebab tak butuh harta yang selama ini kita upayakan, meski dengan lumuran dosa.

Kepalanya dibiarkan terbuka, kakinya hanya beralaskan sandal, rambutnya mulai asing dengan sisir. Kalau bukan karena cinta, kekuatan apalagi yang dengan lugunya mau melawan takaran logika? Lalu, ia menghadapkan wajahnya kepada Ka’bah, rumah Sang Kekasih, sambil mengucapkan kata-kata untuk menarik perhatian-Nya “Labbaik, labbaik”—“aku hadir, aku hadir di sini, wahai Pujaan Hati-ku, wahai Gelora Jiwa-ku.” Ahh… ia telah benar-benar gila.

Apakah Anda keberatan jika Hajar Aswad diciumi? Lagi-lagi, cinta membuat sang pecinta menjadi gila. Sialnya, ia semakin dihadapkan pada takaran logika yang benar-benar tidak mengasyikkan. Padahal, tak ada logika dalam surat cinta. Dan tak ada salah menciuminya berkali-kali. Meski surat itu tak beraroma kasturi, ia lebih pantas untuk diciumi, bahkan berkali-kali. Dan Hajar Aswad lebih dari sekedar surat cinta yang dibuat oleh manusia, sebab ia adalah pesan cinta yang paling mendalam, dari Sang Kekasih Sejati.

kita memang Maha Asyik, sedang hamba-Nya kebanyakan maha takut akan ke-Asyik-an-Nya. Wahai Allāh, kami, kami selalu takut akan neraka yang telah Kau sediakan, dan terus berkhayal tentang indahnya Surga yang Kau ciptakan. Kami hanyalah makhluk-Mu yang maha pamrih. Kami selalu berharap imbalan atas kebaikan kami. Kami sulit untuk benar-benar tulus menjadi hamba-Mu, apalagi pecinta sejati-Mu.

Pernahkah kita berpikiran untuk menikah sebab rasa takut yang melanda? Tentunya, cinta yang mendorong kita melakukannya, meski tak berharap surga sebagai imbalannya. Ibadah haji pun demikian adanya. Pesan cinta telah tertanam di dalamnya, tinggal sadarkah kita tentangnya? Kalau belum, bangunlah dari bayang-bayang menakutkannya ibadah.

 

Yang teramat lemah

Muhammad Nurdin

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia