Opini SainsTek

Ilmu Pengetahuan dan Agama

 

 

Kenapa kita harus mempelajari pengetahuan?

Tahun 1996, Carl Sagan seorang Kosmolog dan Astronom terkenal melakukan sesi wawancara terakhirnya dengan Charlie Rose. Sagan dalam wawancara itu berkata bahwa:

“kita hidup di jaman ilmu pengetahuan (dan teknologi), dan jika kita tidak merasa peduli akan hal itu (karena merasa hal itu terlalu sulit dimengerti), lantas siapa yang akan bertanggung jawab atas masa depan anak cucu kita kelak?”.

Bagaimanapun juga kita akan sulit menyangkal perkataan Carl Sagan tadi, sejak era revolusi industri yang dimulai abad ke 18-19 yang berawal dari benua Eropa, kita menyadari bahwa masa depan suatu negara atau peradaban berasal dari kekuatan ekonomi, dan kekuatan itu hanya bisa kita raih melalui pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Era industri adalah era terakhir yang diteorikan Herbert Spencer dalam teori evolusi sosialnya. Jika suatu peradabaan sudah berada pada era industri atau modern maka peradabaan itu sudah berada di puncak evolusi sosial yang lebih tinggi dari masyarakat militan dan primitif. Aguste Comte sering menyebut masa puncak peradabaan manusia sebagai masa positif.

Positif di sini bukan berarti baik, tetapi berarti masa ketika manusia tidak lagi percaya pada takhayul dan mitos-mitos metafisik serta menjadikan ilmu pengetahuan sebagai kenyataan logis tertinggi yang menggantikan semua pola pikir terbelakang di masa lampau. Bukan sesuatu yang berlebihan Comte berkata demikian.

Pada abad pertengahan sekitar abad 6-13 Masehi di Eropa, mereka mengalami jaman kegelapan. Jaman di mana orang-orang Eropa menjadikan hal-hal metafisik, sihir dan perdukunan sebagai sesuatu yang dianggap masuk di akal. Pada masa itu banyak sekali orang yang tertuduh sebagai penyihir diadili dan dipenjara atau dihukum mati, sesuatu yang sama sekali tidak rasional.

Galilleo harus dihukum penjara seumur hidup karena membuat teori bahwa Bumi dan planet-planet lain yang mengitari Matahari, yang menjadikan Matahari menjadi pusat di Tata Surya (Heliosentris; juga dikembangkan oleh Kopernikus selain Galilleo). Namun karena kebanyakan orang saat itu termasuk para pemuka menganut teori Bumi sebagai pusat tata planet (Geosentris), teori itu di bid’ahkan, membuat Galilleo dianggap kafir dan dihukum penjara seumur hidup.

Di sisi lain Yohanes Kepler, ilmuwan yang juga mendukung teori hilleosentris seperti halnya Galilleo dan bahkan dapat membuktikannya dengan matematika atau berbagai metode ilmiah lainnya, harus berhadapan dengan fakta bahwa dirinya diasingkan oleh banyak orang (ibu kandungnya harus dihukum karena dianggap nenek sihir). Hal itu membuat Kepler menyerah dan merubah profesinya dari astronom menyadi astrolog (Astronomi mempelajari bintang dan antariksa/luar angkasa dengan metode ilmiah, sementara astrologi menambahkannya dengan unsur-unsur seperti ramalan bintang atau biasa disebut zodiak).

Masa kegelapan di Eropa lalu berakhir saat mereka fokus pada perkembangan ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan membuat mereka bangkit (disebut masa Reinnassance) dan membuka pintu gerbang masa yang mereka sebut jaman pencerahan (menuju masa modern/Industrial).  Perubahan ini tentu memberikan banyak sudut pandang baru bagi budaya dan politik di Eropa, masa Primordial (kerajaan) dianggap tidak manusiawi dan masa dimana orang-orang dari kalangan biasa memberontak dan mengakhiri masa kerajaan menjadi masa republik demokrasi dimulai (seperti yang terjadi di Perancis dan Russia).

Siapapun dapat menjadi pemimpin suatu negara jika dirinya terdidik dalam ilmu pengetahuan dan politik.  Ide para ilmuwan atau filsuf pun tidak lagi diharamkan, akan tetapi kemajuan peradabaan Eropa pada berbagai cabang ilmu pengetahuan dan filsafat justru membuat mereka jauh dari agama.

Muncul hal yang bernama Sekularisme yaitu pemisahan antara urusan agama dan negara. Pemisahan ini dilakukan karena banyak para pemikir saat itu merasa bahwa agamalah yang telah mengantarkan Eropa pada masa kegelapan, dan ilmu pengetahuan sudah membawa mereka pada era pencerahan. Agama dan ilmu pengetahuan lalu seolah-olah dianggap bukan dua hal yang dapat disatukan dan sangat bertentangan. Filsuf dan ilmuwan besar saat itu seperti Nietzsche, Marx, Freud, Darwin, Feuerbach termasuk Comte (yang  saya sebutkan di paragraf ke tiga) banyak membuat berbagai karya besar yang sangat filosofis dan ilmiah tanpa menyisakan ruang untuk agama dan bahkan Tuhan.

Bagi mereka moral dan misteri di alam semesta dapat diungkapkan tanpa adanya Tuhan, ateisme dan agnostisme berkembang menjadi pemahaman rasional tertinggi peradaban Eropa atau Barat. Sampai hari ini banyak ilmuwan barat yang masih berada di ruang ateisme atau setidak-tidaknya agnostisme.

Carl Sagan, yang saya ceritakan di awal paragraf adalah seorang ateis. Sagan adalah ilmuwan abad 20 favorit saya, bukunya berjudul Kosmos adalah buku ilmu pengetahuan alam semesta atau kosmologi terbaik yang pernah saya baca.  Tapi bagi Sagan, keimanan itu buta dan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.

Lantas apakah benar antara ilmu pengetahuan dan agama, kedua hal tersebut saling bertentangan?

Ketika Eropa atau peradaban barat sedang mengalami masa kegelapan, justru peradaban di Timur Tengah dan sekitarnya sedang berada pada masa puncak kesadaran rasional. Ilmu pengetahuan, filsafat dan teologi bahkan kedokteran berkembang di sana tanpa menyingkirkan Tuhan dan agama.  Banyak Filsuf, Sufi, Insinyur dan Ilmuwan yang berpengaruh saat itu dan ajarannya masih dirasakan hingga kini.  Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Ghazali, Al Farabi, Al Khawarizmi, Al Kindi, Al Farizi, Ibnu Khaldun, Ibnu Taimiayah dan banyak lagi lainnya adalah para pemikir muslim yang tampak tak pernah meninggalkan peran agama dalam berbagai cabang ilmu yang mereka pelajari dan ajari, dus menjadikan mereka Alim Ulama yang sebenar-benarnya (kata “Alim” sendiri berarti adalah orang yang berilmu pengetahuan).

Agama dijadikan sesuatu yang luhur yang dapat mengungkap misteri di alam semesta dan kemanusiaan (moral) pada umumnya. Pada masa Keemasan Islam, banyak ajaran Filsafat Yunani Kuno (yang mereka dapat setelah menaklukan Kota Alexandria di mana di sana ada Perpustakaan Alexander yang menyimpan beebagai karya Filsuf Yunani Kuno) dipelajari para pemikir Muslim. Mereka tidak mengharamkan rasionalitas Socrates, Plato, Aristoteles atau Filsuf Yunani Kuno lain yang pada masa itu justru kurang disenangi para pemuka agama Nasrani yang ada di Eropa.

Namun era keemasan Islam tadi luntur karena gejolak politik dinasti-dinasti yang selalu kacau sejak jaman kekhalifahan Ali sampai Bani Umayah-Abasiyah dan dinasti lain setelahnya. Belum lagi kekalahan pada bangsa Eropa dalam Perang Salib. Banyak catatan-catatan ilmiah saat itu diambil oleh orang Eropa, dan merupakan salah satu faktor yang membuat ilmu pengetahuan berkembang pesat di sana.

Ketika saya masih sekolah, banyak guru agama saya yang menyesali bahkan mengecam kejadian di masa lalu tadi. Mereka seolah-olah terpukul pada kenyataan bahwa peradabaan Islam dikalahkan peradaban Barat.  Sebagai seorang Muslim, saya kira tidak ada gunanya kita menyesali hal di masa lalu.  Tentu kita dapat mempelajarinya sebagai suatu Sejarah, dan tidaklah berguna Ilmu Sejarah jikalau kita hanya menaruh dendam, karena mempelajari masa lalu adalah cara kita memahami masa kini dan membuat perencanaan yang lebih baik di masa depan.

Bagi saya dalam banyak hal, terkadang saya merasa bahwa walaupun kita menyesali kejadian itu tapi kita juga tidak berupaya untuk menjadikan agama sebagai sesuatu yang lebih fundamental. Misalnya, saat kita memulai untuk membaca ilmu pengetahuan modern yang memang saat ini kebanyakan berasal dari barat, kita mendapati diri kita disebut Liberalis atau bahkan kafir oleh ‘orang-orang religius’. Saat ini kita sebagai umat muslim seringkali menganggap bahwa ilmu pengetahuan bertentangan dengan agama, dan seperti halnya peradaban Eropa abad pertengahan membuat jurang pemisah antara dua hal tersebut.

Kita hanya menjadikan agama sebagai sarana untuk hal-hal ‘sepele’ seperti cara memiliki istri banyak atau lebih buruk untuk menghujat politikus atau tokoh lain yang kita benci dengan menjadikan agama sebagai pembenarannya.  Sekiranya kita sadar, justru fanatisme agama dalam politik jugalah yang meruntuhkan peradabaan Islam yang maju di masa lalu.

Memang benar pada dasarnya banyak tokoh-tokoh ilmuwan masa kini yang tidak percaya pada penciptaan (alam semesta beserta isinya atau bahkan sang pencipta). Mereka lebih percaya pada proses evolusi alam maupun sosial yang membentuk kehidupan tanpa adanya campur tangan Tuhan. Akan tetapi sesungguhnya kita bisa mempelajari itu (ilmu pengetahuan) tanpa harus kehilangan keimanan kita, bagi saya justru Tuhan menginginkan kita untuk mempelajari berbagai proses alam dan sosial yang dapat menjawab berbagai pertanyaan fundamental pada kehidupan kita, dan hal itu hanya bisa kita dapat dalam ilmu pengetahuan.

Jika kita sadar bahwa bumi yang merupakan planet tempat kita hidup mengitari matahari, dan matahari hanyalah satu bintang terdekat dari bumi dari ribuan/jutaan bintang lain di alam semesta yang mungkin memiliki planet yang mengitarinya juga, maka kita akan sadar betapa kecil dan tidak berartinya kita di alam semesta. Semua ketakjuban kita pada alam semesta yang kita bisa pelajari dari ilmu pengetahuan justru akan mendatangkan satu kesimpulan pandangan bahwa alam raya pasti ada yang menciptakannya.

Kita tahu bahwa ada permulaan semesta, ledakan besar (Big Bang) yang memulai adanya ruang dan waktu. Maka dari setiap proses terwujudnya alam semesta yang memiliki awal dan akhir, seharusnya ada yang merencanakannya. Siapakah beliau selain Tuhan yang maha besar dan kuasa, yang tidak tersentuh pada ruang dan waktu yang hampa.

Kita mungkin belum/tidak bisa membuktikan Tuhan dengan indra yang kita miliki, tetapi kita dapat mempelajari ciptaannya yang nantinya mengantarkan kita untuk mengetahui bahwa Wujud itu benar-benar ada, bukan di tingkatan indra tetapi mungkin pada tingkatan dimensi yang lebih tinggi. Carl Sagan mengatakan bahwa keimanan akan keberadaan Tuhan tidak dapat dibuktikan oleh ilmu pengetahuan, Sigmund Frued berpikir bahwa satu-satunya alasan manusia beriman pada Tuhan hanyalah karena rasa takut akan bencana dan kematian. Namun sebagai contoh, secara jasmani manusia tercipta dari bahan-bahan bernama atom lalu asam nukleat, protein dan hydrogen.

Kita mempelajarinya melalui ilmu pengetahuan, namun kita tidak dapat menciptakan manusia dengan semua bahan-bahan tadi (atom, asam nukleat, protein dan hydrogen) dengan cara mengaduk-aduknya dalam sebuah pabrik. Kita membutuhkan Ruh yang hanya Tuhanlah yang mengetahui apa bahan-bahan untuk menciptakannya. Tuhan berada pada alam yang lebih tinggi dari kita, para ilmuwan sering mengistilahkan “higher dimensions” (dimensi yang lebih tinggi), namun bagi saya Tuhan sejatinya lebih dari itu, beliau berada di “highest dimension” (dimensi tertinggi).

Oleh karena itu, kita bisa menyimpulkan bahwa ilmu pengetahuan justru membuktikan keberadaan Tuhan dalam berbagai wujud ciptaannya, dan Tuhan justru menginginkan Dirinya dikenal melalui ilmu pengetahuan.

“Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi dan (pada) pertukaran malam dan siang dan (pada) kapal-kapal di laut dengan membawa benda-benda yang bermafaat kepada manusia, demikian juga (pada) air hujan yang Allah turunkan dari langit lalu Allah hidupkan dengannya tumbuh-tumbuhan di bumi setelah matinya (keringnya), serta ia biakan padanya berbagai jenis binatang, demikian juga (pada) peradaran angin dan awan yang tunduk (pada kuasa Allah), kekuasaannya, kebijaksanaannya, dan keluasan rahmatnnya merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mau berpikir (mengerti)”. QS Al-Baqarah 164.

Sudah saatnya kita berkata kepada Ilmuwan yang tak percaya Tuhan, bahwa ilmu pengetahuan justru membuktikan keimanan kepada Tuhan. Dan sebaliknya sudah saatnya kita berkata pada tokoh-tokoh religus yang menganggap bahwa mempelajari ilmu pengetahuan itu sesat, bahwa ilmu pengetahuan justru dapat membuat kita semakin beriman tanpa kebutaan dan terhindar dari sifat ketidak ingin tahuan pada ciptaan-Nya.

Sudah saatnya pula kita menghindarkan diri kita dari mengambil langkah fanatis terhadap politik. Agama yang dipadukan dengan fanatisme politik tanpa ilmu pengetahuan akan membuat kita menghalalkan peperangan dengan menyebut nama Tuhan. Ilmu pengetahuan yang dipadukan fanatisme politik tanpa agama akan menimbulkan sekularisme lalu menciptakaan teknologi berbahaya seperti senjata perang (utamanya nuklir).

“ Ilmu tanpa Agama Buta, Agama Tanpa Ilmu Lumpuh”. ~ Albert Einstein

Masa depan kita tergantung pada apakah kita bisa menjadikan ilmu pengetahuan sebagai cara kita mempelajari alam semesta dan menjadikan agama sebagai tanda keimanan kita pada Tuhan YME, tanpa keinginan untuk memisahkan keduanya.

 

Note : Tulisan ini pertama kali dipublish di blog pribadi penulis pada tanggal 9 Desember 2017, dengan link https://dftemil.wordpress.com/2017/12/09/ilmu-pengetahuan-dan-agama/

Sumberg gambar: guernseydonkey.com/wp-content/uploads/2018/12/universe-backgrounds-11.jpg

Editor Yadli Rozali

Tentang Penulis

Emil Dwi Febrian

Tinggalkan komentar