Opini

Imam Mahdi Lahir di Madinah?

imam mahdi

نحمده ونصلي على رسوله الكريم

   بسم الله الرحمن الرحيم

وعلى عبده المسيح الموعود

Lahir di Madinah?

Sejak masa permulaan, berdasarkan petuah Nabi Suci MuḥammadSAW, umat Islam telah menanti-nantikan kedatangan Imam Mahdi secara turun-temurun. Mereka percaya bahwa Imam Mahdi adalah tokoh penyelamat yang akan muncul pada akhir zaman untuk membangkitkan serta memenangkan Islam setelah sebelumnya dilanda kemunduran. Di tengah-tengah hiruk-pikuk dan gejolak dunia seperti sekarang ini, kedambaan kaum muslimin akan hadirnya sosok Imam Mahdi kian hebat dan menjadi-jadi. Hal tersebut terbukti dengan ditulis, dicetak, dan diperjualbelikannya berbagai literatur yang memuat prediksi-prediksi mengenai tahun kedatangan Imam Mahdi dalam waktu dekat. Apabila kita berkunjung ke berbagai toko buku, kita akan dengan mudah menjumpai buku-buku, poster-poster, ataupun kaset-kaset yang berpembawaan semisal itu.

Tiada keraguan bahwa hadis-hadis yang menjadi pijakan bagi akidah kemunculan Imam Mahdi masuk dalam kategorimutawātir, yakni diriwayatkan oleh banyak orang dari satu generasi ke generasi secara berkesinambungan sehingga memberikan rasa kepastian dan menghilangkan keraguan-keraguan[1]. Asy-Syaukānī meringkaskan kenyataan ini dengan berkata:

فَتَقَرَّرَ بِجَمِيْعِ مَا سُقْنَاهُ أَنَّ الْأَحَادِيْثَ الْوَارِدَةَ فِي الْمَهْدِيِّ الْمُنْتَظَرِ مُتَوَاتِرَةٌ.

“Terikrarkanlah dari apa yang telah kami terangkan bahwa hadis-hadis mengenai Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu adalah mutawātir.”[2]

Di antara para Sahabatra yang meriwayatkan hadis-hadis tentang Imam Mahdi adalah ‘Alī bin Abī Ṭālibra, Ibnu ‘Abbāsra, Ibnu ‘Umarra, Ṭalḥah bin ‘Ubaidillāhra, ‘Abdullāh bin Mas‘ūdra, Abū Hurairahra, Anas bin Mālikra, Abū Sa‘īd Al-Khudrīra, Ummu Ḥabībahra, Ummu Salamahra, Tsaubānra, Qurrah bin Iyyāsra, ‘Alī Al-Hilālīra, dan ‘Abdullāh bin al-Ḥārits bin Juz’ra. Sementara itu, para imam yang memuat hadis-hadis Imam Mahdi dalam kitab-kitab mereka adalah At-Tirmidzī, Abū Dāwūd, Al-Bazzār, Ibnu Mājah, Al-Ḥākim, Aṭ-Ṭabrānī, dan Abū Ya‘lā Al-Mauṣilī[3]. Mengarifi kenyataan ini, As-Safārīnī menyimpulkan:

فَالْإِيْمَانُ بِخُرُوْجِ الْمَهْدِيِّ وَاجِبٌ، كَمَا هُوَ مُقَرَّرٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ، وَمُدَوَّنٌ فِيْ عَقَائِدِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ.

“Beriman akan keluarnya Imam Mahdi adalah wajib sebagaimana telah diikrarkan oleh para ahli ilmu dan dirumuskan dalam akidah Ahlis-Sunnah Wal-Jamā‘ah.”[4]

Imam Mahdi lahir di Madinah?

Namun, satu hal yang perlu menjadi catatan adalah bahwa ada hadis-hadis yang sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan Imam Mahdi yang akan datang pada akhir zaman, tetapi dikira oleh sebagian orang seolah-olah berhubungan dengan beliau. Yang paling masyhur di antaranya adalah suatu hadis yang menyatakan bahwa Imam Mahdi akan lahir di Madinah lalu dibaiat di antara rukn dan maqām di dekat Ka’bah, Mekkah, serta wafat di sana. Ummu Salamahramerawikan bahwa Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda:

يَكُوْنُ اخْتِلَافٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيْفَةٍ، فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ هَارِبًا إِلٰى مَكَّةَ، فَيَأْتِيْهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيُخْرِجُوْنَهُ وَهُوَ كَارِهٌ فَيُبَايِعُوْنَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ، وَيُبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْثٌ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ فَيُخْسَفُ بِهِمْ بِالْبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِيْنَةِ، فَإِذَا رَأَى النَّاسُ ذٰلِكَ أَتَاهُ أَبْدَالُ الشَّامِ وَعَصَائِبُ أَهْلِ الْعِرَاقِ فَيُبَايِعُوْنَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ، ثُمَّ يَنْشَأُ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ أَخْوَالُهُ كَلْبٌ فَيَبْعَثُ إِلَيْهِمْ بَعْثًا فَيَظْهَرُوْنَ عَلَيْهِمْ وَذٰلِكَ بَعْثُ كَلْبٍ وَالْخَيْبَةُ لِمَنْ لَمْ يَشْهَدْ غَنِيْمَةَ كَلْبٍ، فَيَقْسِمُ الْمَالَ وَيَعْمَلُ فِي النَّاسِ بِسُنَّةِ نَبِيِّهِمْ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُلْقِي الْإِسْلَامَ بِجِرَانِهِ فِي الْأَرْضِ، فَيَلْبَثُ سَبْعَ سِنِيْنَ ثُمَّ يُتَوَفّٰى وَيُصَلِّيْ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُوْنَ.

“Akan terjadi suatu perselisihan ketika wafatnya seorang khalifah. Kemudian, seseorang dari penduduk Madinah akan melarikan diri ke Mekkah. Orang-orang Makkah pun mendatanginya dan membawanya keluar, sedangkan ia tidak menyukainya, lalu membaiatnya di antara rukn dan maqām. Suatu pasukan dari kalangan penduduk Syam akan dikerahkan untuk melawannya, tetapi mereka akan mengalami kemunduran di gurun antara Mekkah dan Madinah. Ketika orang-orang melihat hal tersebut, orang-orang pilihan dari kalangan penduduk Syam dan tokoh-tokoh penduduk Irak akan mendatanginya lalu membaiatnya di antara rukn dan maqām. Kemudian, seseorang dari Quraisy yang keluarga ibunya berasal dari suku Kalb akan bangkit lalu mengerahkan pasukan dari suku Kalb dan meraih kemenangan atas mereka. Orang pelarian itu akan membagi-bagikan harta, mengamalkan sunah NabiSAW di tengah-tengah manusia, serta menyebarkan Islam kepada tetangganya di muka bumi. Ia akan hidup selama tujuh tahun lalu wafat dan disalatkan oleh kaum muslimin.”

Di bawah hadis ini, Abū Dāwūd berkomentar:

قَالَ بَعْضُهُمْ عَنْ هِشَامٍ: تِسْعَ سِنِيْنَ. وقَالَ بَعْضُهُمْ سَبْعَ سِنِيْنَ.

“Sebagian orang mengatakan bahwa pelarian itu akan hidup selama sembilan tahun, sedangkan sebagiannya lagi mengatakan tujuh tahun.”[5]

Apabila kita memerhatikan narasi di atas, akan tampak kepada kita bahwa kata Imam Mahdi sama sekali tidak disebut-sebut di sana. Artinya, pendapat yang menyatakan bahwa riwayat tersebut bercerita tentang Imam Mahdi tidak lebih dari sebuah anggapan belaka karena tidak didasari pada nas yang jelas. Lebih lanjut, jika kita menelaah kitab-kitab tarikh dengan saksama, kita akan mengarifi bahwa hadis itu sebenarnya telah tergenapi dalam sosok ‘Abdullāh bin Zubairra.

Rekonstruksi Sejarah

Setelah Amīr Mu‘āwiyahra selaku khalifah pertama Banī ‘Umayyah, salah satu klan suku Quraisy, wafat pada Rajab 60 H, putra beliau yang bernama Yazīd dibaiat sebagai khalifah baru. Kemudian, Yazīd memerintahkan Gubernur Madinah, Al-Walīd bin ‘Utbah, untuk memaksa Ḥusain bin ‘Alīra, ‘Abdullāh bin ‘Umarra, dan ‘Abdullāh bin Zubairraberbaiat kepadanya tanpa sedikitpun keringanan. Mengetahui hal ini, Ḥusainra dan Ibnu Zubairra melarikan diri ke Mekkah, sedangkan Ibnu ‘Umarra tetap berada di Madinah kendati tidak berbaiat[6].

Sesudah Imam Ḥusainra syahid dalam Peristiwa Karbalā’ pada Muharam 61 H, Ibnu Zubairra banyak memberikan khotbah dan pidato di tengah-tengah masyarakat Mekkah tentang keutamaan cucu Ḥaḍrat RasūlullāhSAW tersebut sekaligus menyarankan mereka untuk melepaskan kesetiaan terhadap Yazīd. Banyak orang pun mengikat tali baiat kepada beliau secara diam-diam. Mereka lalu meminta beliau untuk menampakkan pembaiatan beliau, tetapi yang demikian itu tidak memungkinkan mengingat Gubernur Mekkah saat itu, ‘Amrū bin Sa‘īd, sangat keras meskipun ia lembut dalam beberapa sisi. Barulah setelah Yazīd menggantinya dengan Al-Walīd bin ‘Utbah sebagai Gubernur Dua Kota Suci sekaligus, sebagian besar penduduk Mekkah dan Hijaz condong kepada beliau[7].

Pasca terjadinya Tragedi Ḥarrah pada akhir Zulhijah 63 H, Yazīd memerintahkan komandan 17.000 pasukannya saat itu[8], Muslim bin ‘Uqbah Al-Murrī, untuk melanjutkan ekspedisinya ke Mekkah guna menghabisi ‘Abdullāh bin Zubairra dan para pendukung beliau dari kalangan penduduk Mekkah, Madinah, dan Yamamah. Namun, begitu sampai di suatu daerah bernama Musyallal antara Mekkah dan Madinah, Muslim wafat dan digantikan oleh Ḥuṣain bin Numair As-Sakūnī. Pertempuran antara keduanya berlangsung sejak akhir Muharam 64 H. Taktala kelompok ‘Abdullāh bin Zubairra terdesak pada permulaan Rabiulawal, prajurit Ḥuṣain mulai melempari Ka’bah dengan manjanīq, ketapel raksasa, sampai terbakar. Kemudian, pengepungan dilangsungkan hingga awal Rabiulakhir. Pada waktu pengepungan berlangsung, Yazīd wafat. Mengetahui hal ini, Ḥuṣain dan laskarnya mengurungkan niat untuk menaklukkan Mekkah. Sebaliknya, ia memohon kepada Ibnu Zubairra supaya ia dan tentaranya diizinkan untuk melaksanakan tawaf. Ibnu Zubairra pun mengizinkan. Selain itu, Ḥuṣain bin Numair juga menawarkan untuk baiat kepada ‘Abdullāh bin Zubairradengan syarat bahwa beliau sendiri harus pergi ke Syam, pusat pemerintahan Banī ‘Umayyah, tetapi beliau menolak. Akhirnya, Ibnu Numair dan tentaranya kembali pulang ke Syam[8].

Praktis, pada 64 H, ‘Abdullāh bin Zubairra tidak memiliki kesulitan lagi dalam mengonsolidasi kekuatan beliau sebagai khalifah. Wilayah-wilayah seperti Kufah, Basrah, Mesir, Yaman, dan Khurasan menyatakan diri berbaiat kepada beliau. Tidak hanya itu, daerah-daerah di Syam, seperti Homs, Qinnasrin, dan Palestina pun turut serta bergabung. Hanya saja, beberapa orang dari suku Kalb di Damaskus dan Yordania tidak ikut berbaiat karena mereka telah membaiat Marwān bin al-Ḥakam sebagai khalifah sepeninggal Mu‘āwiyah bin Yazīd, putra Yazīd bin Mu‘āwiyah, yang hanya memimpin selama 40 hari[9].

Pada awalnya, melihat kekuatan Ibnu Zubairra yang begitu besar dari berbagai negeri, Marwān telah berniat pergi ke Madinah untuk berbaiat kepada beliau serta meminta jaminan keamanan bagi Banī ‘Umayyah. Bahkan, Gubernur Damaskus – yang menjadi ibu kota Banī ‘Umayyah saat itu –, yakni Ḍaḥḥāk bin Qais Al-Fihrīra, telah membaiat penduduknya atas kekhalifahan ‘Abdullāh bin Zubairra. Selain itu, calon khalifah yang sebelumnya diusung dari kalangan ‘Umayyah pun bukanlah Marwān, melainkan putra Yazīd lainnya yang bernama Khālid atas usulan pamannya dari suku Kalb, Ḥassān bin Mālik. Ḥassān pun telah membaiat penduduk Yordania guna melanggengkan kekuasaan Banī ‘Umayyah. Namun, ketika sampai di daerah Adzri‘āt, masih wilayah Syam, Marwān bertemu dengan mantan Gubernur Irak yang telah diusir oleh para penduduknya yang mendukung Ibnu Zubairra, ‘Ubaidullāh bin Ziyād, beserta Ḥuṣain bin Numair As-Sakūnī dan ‘Amrū bin Sa‘īd. Mereka semua menyarankan Marwān untuk mengumumkan diri sebagai khalifah. Marwān pun melakukannya dan ia dibaiat di daerah Jābiyah pada Zulkadah 64 H[11]. Kemudian, Marwān menikahi ibunda Khālid bin Yazīd, Ummu Hāsyim binti Abī Hāsyim bin ‘Utbah bin Rabī‘ah, sehingga orang-orang semakin memandangnya dan berbaiat kepadanya. Dengan begitu, selain para pengikut Ḍaḥḥākra, semua penduduk Syam, termasuk Banī ‘Umayyah, bersepakat atas kekhalifahan Marwān. Atas dasar ini, ia mengumpulkan dan memimpin pasukan sebesar 13.000 tentara untuk melawan Ḍaḥḥākra dengan 30.000 prajuritnya di daerah bernama Marj Rāhiṭ pada Muharam 65 H selama 20 hari. Berkat kelihaian dan kelicikan ‘Ubaidullāh bin Ziyād, pasukan Marwān berhasil meraih kemenangan sekaligus mengukuhkan kekuasaannya atas seluruh Syam. Ḍaḥḥākrasendiri terbunuh di tangan seseorang dari suku Kalb, Zuḥmah bin ‘Abdillāh[12].

Pada tahun 65 H, Marwān dan ‘Amrū bin Sa‘īd berhasil merebut Mesir dari kepenguasaan gubernur yang ditunjuk Ibnu Zubairra, yaitu ‘Abdullāh bin Jaḥdam. Marwān lalu menunjuk putranya, ‘Abd-ul-‘Azīz, selaku gubernur yang baru. Sebagai balasan, Ibnu Zubairra mengutus saudaranya, Muṣ‘ab, untuk menaklukkan Syam yang dihadang oleh ‘Amrū bin Sa‘īd di daerah Palestina hingga ia kembali tanpa memperoleh kemenangan. Dengan begitu, kekuasaan Banī ‘Umayyah menjadi kokoh di sepanjang wilayah Syam dan Mesir. Pada tahun yang sama pula, Marwān mengirimkan dua pasukan lagi guna melemahkan kekuasaan ‘Abdullāh bin Zubairra: pertama di bawah kepanglimaan Ḥubaisy bin Dulajah Al-Qainī untuk menguasai Madinah dan kedua di bawah pimpinan ‘Ubaidullāh bin Ziyād untuk mengambil alih Irak. Di tengah perjalanan, tepatnya di daerah ‘Ain al-Wardah, pasukan ‘Ubaidullāh mendapat perlawanan dari jaisy at-tawwābīn yang menuntut pembalasan akan darah Imam Ḥusainra di bawah komando Sulaimān bin Ṣurad Al-Khuzā‘īra. Walaupun berhasil mengatasinya, tentara ‘Ubaidullāh menarik diri setelah mendengar berita  meninggalnya Marwān pada 3 Ramadan karena dibunuh oleh istrinya sendiri, Ummu Hāsyim, yang mendekapnya dengan bantal sewaktu ia tidur[13].

Sebagai khalifah pengganti, ‘Abd-ul-Malik bin Marwān dibaiat oleh para penduduk Syam dan Mesir. Sementara itu, pasukan Ḥubaisy berhasil merangsek ke Madinah hingga membuat Gubernurnya saat itu, Jābir bin al-Aswad bin ‘Auf, melarikan diri. Mengarifi keadaan tersebut, Ḥārits bin ‘Abdillāh bin Abī Rabī‘ah selaku Gubernur Basrah mengirim pasukan balasan untuk mengeluarkan Ḥubaisy dari Madinah. Akhirnya, ia bersama para prajuritnya keluar untuk bertempur. Memanfaatkan kekosongan Madinah, ‘Abdullāh bin Zubairra lantas menempatkan ‘Abbās bin Sahl bin Sa‘d pada pucuk kepemimpinan kota suci itu. Kemudian, beliau juga memerintahkan ‘Abbās untuk mengejar Ḥubaisy. Mereka pun berhasil dikejar di daerah Zabadah. Sebagian tentara Ḥubaisy terbunuh dan ia sendiri mengalami nasib yang serupa karena panah Yazīd bin Siyāh. Akhirnya, sisa tentara yang masih bertahan terpukul mundur hingga harus pulang ke Syam, sedangkan 500 orang di antara mereka terkepung di Madinah hingga ditangkap dan dihukum mati[14].

Perseteruan antara Ibnu Zubairra dan Banū ‘Umayyah sempat mereda selama enam tahun. Bahkan, pada ibadah haji tahun 68 H, empat bendera dari kelompok-kelompok kaum muslimin yang berlainan saat itu berkibar di Padang ‘Arafah: yang pertama adalah bendera Muḥammad bin al-Ḥanafiyyah yang menjadi representasi Syiah, yang kedua adalah Najdah Al-Ḥarūrī dari Khawārij, yang ketiga adalah Banī ‘Umayyah, dan yang terakhir adalah Ibnu Zubairra[15]. Barulah pada 71 H, cekcok antara keduanya kembali memanas dengan invasi ‘Abd-ul-Malik bin Marwān ke wilayah Irak yang saat itu berada di bawah kegubernuran Muṣ‘ab bin Zubair. Kedua pasukan bertemu di daerah Maskin, dekat Biara Jātsālīq di kota Basrah. ‘Abd-ul-Malik bin Marwān bertindak lihai pada peperangan ini dengan mengirimi setiap pembesar Basrah sepucuk surat guna mengundang mereka untuk membelot kepadanya seraya menjanjikan kedudukan pemerintahan bagi mereka apabila ia menang. Sebagian besar fraksi dari pihak Muṣ‘ab pun lari dan bergabung dengan ‘Abd-ul-Malik sehingga ia menjadi sangat lemah. Akhirnya, Muṣ‘ab terbunuh di medan pertempuran pada 13 Jumadilula atau Jumadilakhir di tangan ‘Ubaidullāh bin Ziyād bin Ẓaibān At-Tamīmī[16].

Setahun berikutnya, yakni pada 72 H, ‘Abd-ul-Malik bin Marwān mengajak Gubernur Khurasan, ‘Abdullāh bin Khāzimra, untuk melepaskan kesetiaan terhadap ‘Abdullāh bin Zubairra dan berbaiat kepadanya. Ajakan ini ditolak oleh beliau. Namun, wakil beliau yang bernama Bukair bin Wisyāḥ menyambut undangan tersebut karena ia telah dijanjikan pemerintahan Khurasan andaikata kemenangan ada di pihak Banī ‘Umayyah. Peperangan pun tercipta antara keduanya. Ibnu Khāzimra terbunuh dalam peperangan itu di tangan Wakī‘ bin ‘Umairah dan Bukair ditunjuk sebagai Gubernur Khurasan yang baru[17]. Pada tahun yang sama pula, ‘Abd-ul-Malik berhasil merebut Madinah dari Ibnu Zubairra dan menetapkan Ṭāriq bin ‘Amrū sebagai Gubernurnya[18].

Pada tahun 73 H, tepatnya 17 Jumadilula, ‘Abdullāh bin Zubairra akhirnya mereguk piala kesyahidan setelah dikepung selama lebih dari lima bulan oleh pasukan Al-Ḥajjāj bin Yūsuf Ats-Tsaqafī di bawah titah ‘Abd-ul-Malik bin Marwān. Pengepungan dilakukan dari enam pintu: Pintu yang menghadap pintu Ka’bah oleh para prajurit dari Homs, pintu Banī Syaibah oleh para prajurit dari Damaskus, pintu Ṣafā’ oleh para prajurit dari Yordania, pintu Banī Jumaḥ oleh para prajurit dari Palestina, pintu Banī Sahm oleh para prajurit dari Qinnasrin, serta pintu al-Abṭaḥ dengan Al-Ḥajjāj bin Yūsuf dan Ṭāriq bin ‘Amrū selaku komandannya. Kala itu juga, peristiwa pelemparan Ka’bah dengan manjanīq kembali terulang, kali ini dengan lima buah ketapel raksasa tersebut. Para pengepung menahan pasokan makanan untuk masuk ke Mekkah hingga para penduduknya kelaparan dan mereka terpaksa minum dari Sumur Zamzam[19].

Ketika Ibnu ‘Umarra mengetahui kabar kewafatan Ibnu Zubairra, beliau berujar:

رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْكَ يَا أَبَا خُبَيْبٍ، أَمَّا وَاللهِ لَقَدْ كُنْتُ أَنْهَاكَ عَنْ هٰذَا، وَلَقْدَ كُنْتَ وَاللهِ صَوَّامًا قَوَّامًا وَصُوْلًا لِلرَّحْمِ.

“Semoga Allah merahmatimu, wahai Abū Khubaib! Demi Allah! Sungguh, Aku telah mencegahmu untuk tidak masuk ke dalam persengketaan ini. Engkau, demi Allah, sungguh merupakan orang yang banyak berpuasa, bersalat, dan menyambung tali silaturahim.”[20]

Demikian juga, Ibnu ‘Abbāsra berkomentar sewaktu Ibnu Zubairra wafat:

كَانَ قَارِئًا لِكِتَابِ اللهِ، مُتَّبِعًا لِسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ، قَانِتًا للهِ، صَائِمًا فِي الْهَوَاجِرِ مِنْ مَخَافَةِ اللهِ، ابْنَ حَوَارِيْ رَسُوْلِ اللهِ، وَأُمُّهُ بِنْتُ الصِدَّيْقِ، وَخَالَتُهُ عَائِشَةُ حَبِيْبَةُ حَبِيْبِ اللهِ، زَوْجَةُ رَسُوْلِ الله، فَلَا يَجْهَلُ حَقَّهُ إِلَّا مَنْ أَعْمَاهُ اللهُ .

“Beliau adalah seorang pembaca Kitab Allah, pengikut sunah RasūlullāhSAW, penurut kepada Allah, yang berpuasa di tempat-tempat sunyi karena takut akan Allah. Beliau adalah putra hawari Ḥaḍrat RasūlullāhSAW, ibunda beliau adalah putri Ḥaḍrat Aṣ-Ṣiddīqra, bibi beliau adalah Ḥaḍrat ‘Ā’isyahra, sang kekasih dari Kekasih Allah, istri Ḥaḍrat RasūlullāhSAW. Oleh karena itu,  tak ada yang tidak mengetahui hak beliau, kecuali ia yang dibutakan oleh Allah.”[21]

Dari rangkaian peristiwa-peristiwa sejarah ini, kita bisa memastikan bahwa sosok yang dinubuatkan dalam hadisSunan Abī Dāwūd di atas bukanlah Imam Mahdi yang akan muncul pada akhir zaman, melainkan Ḥaḍrat ‘Abdullāh bin Zubairra. Artinya, pendapat yang menyatakan bahwa Imam Mahdi akan lahir di Madinah dan meninggal di Mekkah adalah keliru. Sekarang, pertanyaannya adalah: Kalau begitu, dari manakah Imam Mahdi akan berasal?

Dari Timur, Khurasan

Jika kita menelaah keterangan-keterangan hadis, akan tampak kepada kita bahwa kemunculan Imam Mahdi pada akhir zaman ialah dari sebelah timur. Ḥaḍrat ‘Abdullāh bin al-Ḥārits bin Juz’ra meriwayatkan bahwa Nabi SuciSAWbersabda:

يَخْرُجُ نَاسٌ مِنَ الْمَشْرِقِ فَيُوَطِّئُوْنَ لِلْمَهْدِيِّ.

“Sekolompok orang akan keluar dari timur sehingga mereka bisa mempersiapkan kekuasaan bagi Imam Mahdi.”[22]

Demikian juga, Ḥaḍrat Tsaubānra merawikan bahwa Nabi SuciSAW bersabda:

يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمُ ابْنُ خَلِيْفَةٍ، ثُمَّ لَا يَصِيْرُ إِلٰى وَاحِدٍ مِنْهُمْ، ثُمَّ تَطْلُعُ الرَّايَاتُ السُّوْدُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ، فَيَقْتُلُوْنَكُمْ قَتْلًا لَمْ يُقْتَلْهُ قَوْمٌ، ثُمَّ ذَكَرَ شَيْئًا لَا أَحْفَظُهُ، فَقَالَ: فَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَبَايِعُوْهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ، فَإِنَّهُ خَلِيْفَةُ اللهِ الْمَهْدِيُّ.

“Akan saling bersengketa soal harta kalian tiga orang yang semuanya merupakan putra-putra seorang khalifah. Akan tetapi, harta itu tidak akan menjadi milik salah seorang pun dari antara mereka. Kemudian, akan terbit bendera-bendera hitam dari arah timur lalu mereka akan memerangi kalian dengan peperangan yang belum pernah diperagakan oleh satupun kaum. Kemudian, Nabi SuciSAW menyebutkan sesuatu yang tidak Aku ingat. Beliau lalu berkata: Apabila kalian melihatnya, berbaiatlah kepadanya walaupun harus merangkak di atas salju sebab ia adalah Khalifah Allah, Imam Mahdi.”[23]

Apa yang secara spesifik dimaksud dengan “sebelah timur” dalam hadis itu? Apabila kita membuka lagi lembaran-lembaran kitab hadis, kita akan menjumpai bahwa yang dimaksud dengannya adalah Khurasan. Masih dari Ḥaḍrat Tsaubānra, diceritakan bahwa Nabi SuciSAW pernah bersabda:

يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ هَذِهِ ثَلاثَةٌ كُلُّهُمْ وَلَدُ خَلِيْفَةٍ، لا تَصِيْرُ إِلٰى وَاحِدٍ مِنْهُمْ، ثُمَّ تُقْبِلُ الرَّايَاتُ السُّوْدُ مِنْ خُرَاسَانَ، فَيَقْتُلُوْنَكُمْ مَقْتَلَةً لَمْ تَرَوْا مِثْلَهَا، ثُمَّ ذَكَرَ شَيْئًا: فَإِذَا كَانَ ذٰلِكَ فَأْتُوْهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيْفَةُ اللهِ.

“Akan saling bersengketa soal harta kalian tiga orang yang semuanya merupakan putra-putra seorang khalifah. Akan tetapi, harta itu tidak akan menjadi milik salah seorang pun dari antara mereka. Kemudian, akan muncul bendera-bendera hitam dari Khurasan lalu mereka akan memerangi kalian dengan peperangan yang sama sekali belum pernah dilihat oleh kalian. Kemudian, Nabi SuciSAW menyebutkan sesuatu. Beliau lalu berkata: Apabila keadannya demikian, datanglah kepadanya walaupun harus merangkak di atas salju sebab ia adalah Khalifah Allah.”

Di bawah hadis ini, ada keterangan:

وَفِيْ رِوَايَةِ ابْنِ عَبْدَانَ: فَإِنَّهُ خَلِيْفَةُ اللهِ الْمَهْدِيُّ.

“Dalam riwayat Ibnu ‘Abdān: Sebab, ia adalah Khalifah Allah, Imam Mahdi.”[24]

Jadi, kedatangan Imam Mahdi pada akhir zaman akan berawal dari Khurasan, bukan Madinah.

Letak Khurasan

Dalam sejarah Islam, Khurasan adalah wilayah yang terkenal sebagai pusat keilmuan dan kebudayaan. Para ahli geografi Islam memberi batas Khurasan sebagai berikut:

خُرَاسَانُ: بِلَادٌ وَاسِعَةٌ. أَوَّلُ حُدُوْدِهَا مِمَّا يَلِيُ الْعِرَاقَ أَزَاذَوَرْدُ قَصْبَةُ جُوَيْنَ، وَبَيْهَقُ، وَآخِرُ حُدُوْدِهَا مِمَّا يَلِيُ الْهِنْدَ طَخَارِسْتَانُ، وَغَزْنَةُ، وَسِجِسْتَانُ.

“Khurasan adalah wilayah dari negeri-negeri yang luas. Batas pertamanya yang meliputi Irak adalah Azadvarad, yakni Benteng Juwain, serta Baihaq. Adapun batas akhirnya yang meliputi India adalah Takharistan, Ghazna, serta Sijistan.”[25]

Pendahulu Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas dari Khurasan

Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, mendakwahkan diri sebagai Imam Mahdi pada tahun 1891. Dari keterangan historis, diketahui bahwa pendahulu beliau merupakan Haji Barlās, paman Timur Leng, yang mendiami satu daerah di Persia bernama Kish. Setelah Timur Leng menaklukkan daerah tersebut, keluarga Barlās pindah ke wilayah Khurasan dan menetap di sana dalam jangka waktu yang lama. Barulah pada abad ke-16 Masehi, salah seorang anggota keluarga itu, Mīrzā Hādī Beig, bermigrasi ke India beserta 200 orang pengikutnya lalu berkediaman di Qadian, Punjab[26]. Jadi, berdasarkan data hadis dan sejarah, pendakwahan Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas selaku Imam Mahdi pada akhir zaman memang benar adanya.

Catatan Kaki

[1] Jalāl-ud-Dīn As-Suyūṭī, Tadrīb ar-Rāwī Fī Syarḥ Taqrīb an-Nawawī, vol. 1 (Beirut: Maktabat al-Kautsar, 1415 H), hlm. 142.

[2] Muḥammad Syams-ul-Ḥaqq Al-‘Aẓīmabādī, ‘Aun al-Ma‘būd Syarḥ Sunan Abī Dāwūd, vol. 11 (Madinah: Al-Maktabah as-Salafiyyah, 1969 M/1389 H), hlm. 458.

[3] Ibnu Khaldūn, Al-Muqaddimah, vol. 1 (Damaskus: Dār Ya‘rab, 2004 M/1425 H), hlm. 514.

[4] Muḥammad bin Aḥmad As-Safārīnī, Lawāmi‘ al-Anwār al-Bahiyyah, vol. 2 (Damaskus: Mu’assasat al-Khāfiqīn, 1992 M/1402 H), hlm. 84.

[5] Sunan Abī Dāwūd, Kitāb al-Mahdī, no. 4286.

[6] ‘Allāmah Ibnu Katsīr, Al-Bidāyah Wa an-Nihāyah, vol. 11 (Kairo: Hijr, 1997a M/1417a H), hh. 466-469.

[7] Ibid, hh. 599, 607.

[8] Ibid, hlm. 616.

[8] Ibid, hh. 633-637.

[9] Ibid, hh. 662, 666-668.

[10] Ibid, hlm. 715.

[11] Ibid, hh. 669-672.

[12] Ibid, hlm. 673-675.

[13] Ibid, hh. 703-705.

[14] Ibid, hlm. 715.

[15] ‘Allāmah Ibnu Katsīr, Al-Bidāyah Wa an-Nihāyah, vol. 12 (Kairo: Hijr, 1997b M/1417b H), hlm. 76.

[16] Ibid, hh. 137-140.

[17] Ibid, hh. 166-167.

[18] Ibid, hlm. 167.

[19] Ibid, hh. 177-178, 182.

[20] Ibid, hlm. 185.

[21] Ibid, hlm. 191.

[22] Sunan Ibni Mājah, Kitāb al-Fitan, Bāb Khurūj al-Mahdī, no. 4088.

[23] Sunan Ibni Mājah, Kitāb al-Fitan, Bāb Khurūj al-Mahdī, no. 4084.

[24] Abū Bakr Al-Baihaqī, Dalā’il an-Nubuwwah Wa Ma‘rifat Aḥwāl Ṣāḥib asy-Syarī‘ah, vol. 6 (Kairo: Dār al-Bayān Li at-Turāts, 1988 M/1408 H), hlm. 515.

[25] Yāqūt Al-Ḥamawī, Mu‘jam al-Buldān, vol. 2 (Beirut: Dār Ṣādir, 1977 M/1397 H), hlm. 350.

[26] Ḥaḍrat Mīrzā Basyīr-ud-Dīn Maḥmūd Aḥmadra, Hadhrat Ahmad (Surrey: Islam International Publications Limited, 1998), hlm. 9.

Sumber: http://nafirizaman.blogspot.co.id/2017/04/imammahdi-lahir-di-madinah-sejak-masa.html?m=1

Tentang Penulis

R. Iffat Aulia Ahmad A.

Seorang musafir yang terdampar di persimpangan ruang dan waktu, yang duduk termangu menatap segala kericuhan zaman, menengadah ke langit di tengah keheningan, memandang takjub Sang Markaz-ud-Dā’irāt.

Tinggalkan komentar