Kebangsaan Kemanusiaan Opini

Implementasi Toleransi bagi Kemanusiaan dan Harmoni (1/4) | Manusia makhluk sosial

Oleh Maulana H. Abdul Basit-Shaheed[1]

Penggalan pertama | Makhluk Sosial

 

Manusia Makhluk Sosial. (ilustrasi dari blog Arif Saipi Ridwan) Manusia Makhluk Sosial Implementasi Toleransi bagi Kemanusiaan dan Harmoni

Manusia Makhluk Sosial. (ilustrasi dari blog Arif Saipi Ridwan)

manusia secara () sebagai makhluk sosial ialah hidup bermasyarakat.

Dalam keadaan bermasyarakat itu mereka saling memerlukan antara satu dengan yang lain. Kehidupannya bergantung pada sesamanya.

Allāh swt. telah menciptakan manusia beragam dalam berbagai aspek.

Mereka berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.

Beragam dalam bentuk dan corak warna fisik. Kitab Suci secara jelas menyebutkan demikian.

Tidak ada kelebihan di antara mereka kecuali karena ketakwaannya.[2]

Allāh swt. menganugerahkan manusia dengan berbagai yang sejak lahir.

Potensi alami ini perlu diatur supaya menjadi sumber dan penyebab kemajuan karena kalau tidak akan menjadi kekacauan, keburukan dan malapetaka. (BERSAMBUNG)

 

Bagian I | Bagian II | Bagian III | Bagian IV

 

[1] Disampaikan dalam bertempat di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah pada 30 September 2015

[2] Kitab Suci Al-Qur’ān Sūrah (QS) al-Ḥujurāt, 49:14. Penomoran ayat dalam makalah ini dengan menghitung basmalah sebagai bagian ayat pertama tiap surah kecuali QS at-Taubah yang merupakan lanjutan/bagian dari QS . Silakan merujuk pada kitab Ḥadits Ṣaḥīḥ Muslim Kitābu’ṣ-Ṣalāt Bāb Ḥujjah man qāla al-Basmalah āyatun min awwali kulli Sūrah siwā al-Bara’ah (bab tentang dasar pendapat basmalah adalah ayat awal tiap surah kecuali Bara’ah atau at-Taubah); kitab Sunan Abi Daud, Kitābu’ṣ-Ṣalāt, Bāb man jahara bihā, ke-784 dan ke-788; dan kitab Sunan ad- Kitābu’ṣ-Ṣalāt.

Tentang Penulis

Maulana H. Abdul Basit-Shaheed