Opini

Infaq di Era Modernisasi

infaq

Sebagai seorang muslim sejati tentunya kita sangat ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Dan orang-orang non muslim juga pasti mempunyai keinginan yang sama. Untuk menjadi orang yang demikian terdapat banyak sekali jalan yang bisa ditempuh. Misalnya dengan berbuat baik terhadap orang tua, saudara, anak yatim, orang miskin, tetangga, dan jika hidup berasrama, maka berbuat baik dengan teman-teman seasrama adalah suatu keharusan bagi kita.

Dan pada kesempatan kali ini penulis akan membahas mengenai salah satu contoh kebaikan yang sangat familiar di kalangan umat yaitu membelanjakan harta di jalan Allah Ta’ala atau yang biasa dikenal dengan sebutan .

Infaq menurut kamus besar bahasa Arab berarti membelanjakan atau mengeluarkan harta. Dan pada konteks kali ini infaq berarti membelanjakan harta di jalan Allah Ta’ala demi berbuat baik kepada sesama manusia. Di dalam Jamaah Muslim , sangat ditekankan untuk melaksanakan kebaikan tersebut. Dan mereka biasa menyebutnya dengan sebutan Candah (iuran). Ketika seluruh anggotanya diwajibkan untuk mengorbankan harta mereka mulai dari 1/16 sampai 1/3 dari penghasilan mereka perbulannya.

Bagi anak-anak yang belum berpenghasilan pun sudah diajarkan untuk mengorbankan harta yang mereka sisihkan dari uang saku pemberian orang tua mereka. Berkenaan dengan hal ini Allah Ta’ala berfirman “Sekali-kali kamu tidak akan mencapai kebaikan yang sempurna, sebelum kamu membelanjakan sebagian dari apa yang kamu cintai, dan apa pun yang kamu belanjakan, maka sesungguhnya tentang itu Allah swt. Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imran 3:93)

Dalam menafsirkan ayat di atas ke-2 Jamaah Muslim Ahmadiyah menulis: “untuk mencapai keimanan sejati, yang merupakan inti segala kebajikan yang sempurna dan merupakan bentuk tertinggi kebaikan, orang harus siap sedia mengorbankan segala sesuatu yang disayanginya. Taraf tertinggi kebajikan yang sempurna dapat dicapai hanya dengan membelanjakan harta di jalan Allah swt. Dari apa-apa yang paling dicintainya. Akhlak luhur (birr) tidak dapat dicapai tanpa diresapi dengan jiwa pengorbanan yang sebenarnya.”

(Al-Quran Terjemah dan Tafsir Singkat hal.264 no.438)

Dengan membelanjakan apa yang paling kita cintai di jalan Allah Ta’ala akan membuat kita sadar bahwa sejak kita dilahirkan di dunia ini, kita tidaklah memiliki apa-apa, melainkan semuanya adalah milik-Nya. Dan berkenaan dengan hal ini Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as.) bersabda: Sebenarnya jika dia memiliki mata, tentu dia akan melihat bahwa dia tidak memiliki apa-apa, sebab segala sesuatunya hanya milik Tuhan. Ini adalah suatu tabir yang lazim terdapat  di dalam ittiqa (takwa). Keinginan kondisi ittiqa itu yang membuat orang mutaki tersebut mengeluarkan sebagian dari apa-apa yang telah diberikan Tuhan padanya.”

(Malfuzat, jld I, hlm. 31-32)

Dan ayat di atas telah mendeskripsikan kepada kita bahwa kebaikan yang sejati akan diraih jika kita membelanjakan apa yang paling kita cintai di jalan Allah Ta’ala. Dalam hal ini bukan hanya uang, akan tetapi semua yang telah dianugerahkan atau direzekikan oleh Allah Ta’ala kepada kita. Misalnya tenaga dan pikiran kita. Dan berbahagialah orang-orang yang telah mewaqafkan dirinya untuk berkidmat di dalam Jamaah Ilahi ini. Karena dengan mewaqafkan diri berarti menyerahkan atau memberikan seluruh kehidupannya untuk mengkhidmati agama.

Sejak manusia dilahirkan di dunia ini ada tiga hal yang sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala hingga ia kembali ke hadirat-Nya yaitu rezeki, jodoh dan ajal. akan tetapi pada kesempatan kali ini penulis tidak akan menjelaskan ketiga hal tersebut, melainkan hanya salah satunya saja yang erat kaitannya dengan harta yaitu rezeki. Yang dimaksud dengan rezeki tidak hanya berarti harta/kekayaan, melainkan segala sesuatu yang telah dianugerahkan kepada kita yakni ilmu, hikmah, kemahiran dalam bidang kesehatan, semua termasuk di dalam rezeki. Dan sebenarnya rezeki itu ada dua macam, yang pertama adalah ibtila (ujian/cobaan), yang kedua sebagai ishihifa.  Rezeki  yang sebagai  cobaan adalah rezeki yang tidak ada hubungannya dengan Allah Ta’ala, dan rezeki yang sebagai ishihifa adalah rezeki yang diperuntukkan bagi Allah Ta’ala.

Mungkin masih banyak di antara kita yang masih memiliki pemikiran bahwa yang dimaksud rezeki adalah sesuatu yang berkaitan dengan harta atau uang saja. Padahal untuk berbuat baik atau bersedekah kepada orang lain tidak selamanya dengan harta. Melainkan kita juga bisa bersedekah dengan cara berbagi ilmu dengan mereka yang tuna ilmu (kurang pengetahuan) atau kepada anak-anak yang putus sekolah dikarenakan tidak adanya biaya untuk melanjutkan sekolah dan dengan cara apapun yang bisa kita lakukan. Karena dengan malakukan hal itu kita akan sedikit mengurangi beban hidup mereka.

Di berbagai cabang Jamaah Muslim Ahmadiyah telah sering diadakan bakti sosial kepada warga sekitar dengan berbagai macam jenis kegiatan sosial di dalamnya. Mulai dari menjual sembako (sembilan bahan pokok) murah, pakaian layak pakai dengan harga yang sangat terjangkau, pengobatan Homeopathy/Alopathy gratis, sunatan masal, donor darah, dll. Bahkan pada bulan Suci Ramadhan menjelang Hari Raya Idul Fitri sembako dibagikan dengan Cuma-Cuma (gratis) untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Berkenaan dengan hal ini, ada beberapa gerakan kemanusiaan yang dinaungi langsung oleh Jamaah Muslim Ahmadiyah seperti HF (Humanity First), Give Blood, dan CTC (Clean The City). Gerakan-gerakan kemanusiaan tersebut bisa ditemui dimana saja terdapat Jamaah Muslim Ahmadiyah. Gerakan-gerakan ini dibentuk guna melancarkan bantuan atau kegiatan kemanusiaan di tempat-tempat yang memang sedang membutuhkan bantuan.

Misalnya kegiatan Clean The City pada acara Asean Games yang diadakan di Jakarat dan Palembang beberapa bulan yang lalu oleh para Khuddam setempat dan kegiatan ini pun menarik perhatian sebuah Stasiun Televisi yang mengundang beberapa anggota khuddam untuk diwawancarai.

Para relawan dari gerakan-gerakan ini kebanyakan adalah para Ahmadi dari berbagai negara, akan tetapi ada juga relawan yang non Ahmadi yang mempunyai misi yang sama dalam hal kemanusiaan dan keinginan untuk berbagi. Inilah yang dibutuhkan oleh dunia pada era sekarang ini. Di saat orang-orang sedang sibuk membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi, memperkaya diri sendiri, dan hal-hal keduniawian lainnya. Para relawan ini justru lebih mementingkan keperluan orang lain dan membahagiakan mereka yang terkena musibah. Semoga amal dan keikhlasan mereka dibalas dengan ganjaran yang lebih indah. Aamiin.

Dan di dalam Hadis, Rasulullah saw. pun mengajarkan kepada umatnya, bahwa dengan memberikan senyuman kepada sesama saja sudah merupakan sedekah. Oleh karena itu jangan pernah takut untuk memberikan bantuan sekecil apapun kepada sesama hamba Allah Ta’ala. karena “uluran tangan kita yang penuh dengan keikhlasan adalah jembatan untuk menuju kebahagiaan yang sejati”.

 Sumber:

  1. Malfuzat (Sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud as.)
  2. Al-Quran Terjemah dan Tafsir Singkat JAI

Sumber Gambar:https://www.kompasiana.com/anggah/5a581069cf01b459e67b6403/perbedaan-mendasar-infaq-dan-sedekah

Tentang Penulis

Muhammad Dahlan