Opini

Inilah Cara Tuhan Menyapa Hamba-Nya

Manusia punya asa, punya Kuasa

Kehidupan duniawi yang begitu menggoda menarik minat manusia banyak ber-asa. Terkadang, asa pun sudah tak memikirkan rasa. Apalagi rasa terhadap pencipta-Nya.

Menelisik dunia saat ini, tuntutan kesibukan duniawi tak pelak menjadikan para manusia melupakan – Nya. Jangankan untuk mengingat segala kebaikan – Nya, untuk menyapa – Nya dalam waktu shalat pun terburu – buru karena dikerjar waktu.

Namun, Tuhan tetap ada dan tetap menunggu dengan kuasa – Nya. Dengan cara – Nya Tuhan menyapa para manusia yang mulai menomor duakan – Nya. Dengan cara – Nya  Tuhan menyapa, yaitu dengan ujian –Nya. Memang, tak seharusnya manusia meminta ujian pada – Nya. Namun, ketika ujian – Nya datang, itulah titik untuk kembali pada – Nya dan hendak mengingat – Nya.

Kesulitan, kemiskinan, hingga kelaparan dapat terjadi kapan saja. Miris memang jika kita dihadapkan dengan kondisi perekonomian yang serba sulit di antara hingar bingar dunia ini. Tak sedikit para manusia jatuh dalam dunia hitam kriminalitas menghadapi ujian ekonomi ini. Namun ingatlah, bagi para manusia yang bersabar dan dinyatakan lulus oleh Tuhan, akan ada buah yang menunggu sesudahnya. Sebagaimana dalam surat Al – Baqarah ayat 155:

Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar

Itulah ketika Tuhan menyapa dan memberikan kasih sayang – Nya pada manusia agar manusia senantiasa lebih dekat pada – Nya karena akan ada berita gembira setelah manusia melewati ujian – Nya.

Kasih sayang Tuhan juga dapat berupa kesakitan dan penyakit yang menimpa pada manusia. Memang, rasa sakit yang tak tertahankan tak pelak juga membuat manusia tergelincir untuk mencari sosok lain yang dapat menjadi penyembuhnya. Terkadang ahli medis menjadi dia Tuhankan sehingga Tuhan mulai dinomor duakan. Miris memang, maksud Tuhan menyapa dengan cara – Nya dan agar hamba – Nya semakin dekat dengan – Nya. Namun, masih ada saja para manusia yang terperosok dan salah mengartikan maksud Tuhan – Nya karena yang perlu dipahami, kasih sayang Tuhan bukanlah sebatas pada kenikmatan. Dan dapat berupa kesakitan. Selaras dengan sabda Rasulullah SAW:

Tidaklah seorang muslim yang tertimpa gangguan berupa penyakit atau semacamnya, kecuali Allah akan menggugurkan bersama dengannya dosa-dosanya, sebagaimana pohon yang menggugurkan dedaunannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sekali lagi, Tuhan berjanji pada umat – Nya, ujian kesakitan yang menimpa manusia akan menggugurkan dosa – dosa para manusia. Sudah pasti, itulah bentuk kasih sayang – N ya. Saat Tuhan menggugurkan dosa – dosa para manusia dikala sakit, tentu manusia pun akan lebih dekat dengan – Nya.

Begitulah Allah Taala bekerja. Dia menyayangi para manusia dengan cara – Nya. Layaknya guru yang selalu mengajari para murid. Tentunya seorang guru tak akan mendiamkannya. Akan selalu ada ujian – ujian dan cara untuk mengingatkan muridnya. Dan bagi para murid yang berhasil melewatinya, akan ada kenaikan kelas yang menjadi penantian dan harapan.

Para manusia, bersyukurlah karena Allah masih mau menyapa dan menyayangi dengan cara – Nya. Sebuah harapan dan senantiasa mendekatkan diri pada Allah Taala menjadikan manusia menjadi kekasih – Nya. Namun, ketika Tuhan hanya mendiamkan disaat manusia masih lalai dalam kafanaan dunia, itulah hal yang paling menakutkan. Karna diam – Nya adalah bentuk kemarahan – Nya. Terima kasih Tuhan atas rasa yang membuat mata hati terbuka untuk menerima cara – Mu menyapa. Kami memang memiliki asa, namun kuasa – Mu adalah segalanya.

Sumber gambar : https://clutterbusting.com/sunshine/

Tentang Penulis

Mutia Siddiqa Muhsin

Tinggalkan komentar