Nihad Awad Opini Terjemahan Time Yadly Rozali

ISIS bukan hanya tidak Islami, tapi Anti-Islam

Oleh Nihad Awad | 5 Sep 2014

Jika kita ingin menghentikan ISIS, kita harus menolak klaim bahwa ISIS merupakan Islam dan mencegah ketidakadilan yang merupakan katalis dari berkembangnya ISIS.

 

ISIS bukan hanya tidak Islami, tapi Anti-Islam Militant Islamist fighters take part in a military parade along the streets of the northern Raqqa province in Syria, June 30, 2014 Reuters Capture Reuters; Time

ISIS bukan hanya tidak Islami, tapi . (Reuters; Time)

MESKI menyalahgunakan nama “negara Islam,” ISIS tidak lebih dari sebuah geng kriminal yang menempel seperti lintah kepada suatu simbol Islam yang mulia. Mereka mengeksploitasi kebijakan kontraproduktif Barat yang menggiring banyak orang putus asa untuk bergabung ke mereka dan menggunakan ketidakadilan terhadap dunia sebagai tabir asap untuk menutupi kekejaman mereka sendiri.

Ketika ISIS menggunakan pernyataan keimanan Islam, yaitu Syahadat, dan mengunakan stempel pada bendera mereka, mereka secara harfiah—dan hal ini tidak benar—mengklaim menegakkan bendera Islam. Ketika ISIS mengatakan mereka mendirikan “Khilafah,” sebuah istilah bersejarah yang beresonansi dengan kaum Muslim di seluruh dunia, mereka melakukannya dengan tujuan memperdaya orang-orang yang telah mengalami ketidakadilan dan penindasan untuk percaya bahwa kejayaan masa lalu Islam akan pulih.

Sayangnya, media, analis politik dan pejabat publik—benar-benar kita semua—secara tidak sadar berpartisipasi dalam kampanye humas ISIS ini.

Setiap kali kita memandang ISIS sebagai “negara Islam,” menyebut anggotanya sebagai “pejuang jihad” atau dengan cara apapun membenarkan legitimasi keagamaan yang mereka usahakan dengan susah payah, kita secara simultan telah: meperkuat image mereka, mencoreng citra Islam dan meminggirkan lebih jauh lagi kelompok Mayoritas Muslim yang sebenarnya juga muak dengan tindakan tidak Islami dari kelompok ISIS ini.

Islam melarang ekstremisme dipamerkan oleh ISIS. Sebuah bagian penting dari iman adalah moderasi (menghindari hal ekstrim/berkecenderungan ke jalan tengah).

Seperti yang dinyatakan dengan jelas dalam , kitab suci Islam. “Kami menjadikan kamu satu umat yang mulia supaya kamu menjadi penjaga manusia dan supaya itu menjadi penjaga kamu. (Al-Qur’ān Sūrah II—Al-Baqarah: 143)”

Al-Qur’ān juga menyatakan, “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang menjadi penegak keadilan dan jadilah saksi karena Allāh walaupun bertentangan dengan dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabat. Baik ia orang kaya atau miskin, maka Allāh lebih memperhatikan kepada keduanya. (QS IV—An-Nisā’: 135)”

Secara harfiah, jihad berarti berjuang, berusaha dan mengerahkan usaha. Ini adalah konsep Islam yang sentral dan luas yang mencakup perjuangan melawan kecenderungan jahat dalam diri sendiri, berjuang untuk meningkatkan kualitas hidup dalam masyarakat, perjuangan di medan perang untuk pertahanan diri (misalnya, tentara untuk pertahanan nasional), atau melawan tirani atau penindasan.

Walaupun Islam memperbolehkan pertahanan diri, Islam melarang pembunuhan non-kombatan, meski di saat perang atau konflik sekalipun. Agresi tidak pernah diijinkan. “Dan perangilah orang-orang yang memerangi kamu di jalan Allāh, janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allāh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS 2:190)”

Muslim ekstrimis yang melakukan kejahatan seperti yang dilakukan oleh ISIS harus disebut penjahat. Kita tidak boleh melegitimasi tindakan mereka dengan cara menyebut mereka .

Komunitas muslim Amerika Serikat (AS) dan ulama Islam di seluruh dunia telah menyangkal dan menolak ideologi sinting ISIS, menyebutnya bukan hanya tidak Islami, tapi “anti-Islam.”

Organisasi Kerjasama Islam (OKI), “PBB-nya negara-negara Islam,” menyatakan bahwa ISIS “tidak ada hubungannya dengan Islam,” dan telah melakukan kejahatan “yang tidak dapat ditoleransi.”

Dengan penyangkalan legitimasi religius ISIS dan pemutusan korelasi ISIS dengan simbol-simbol dan istilah Islam, kita bisa menyingkirkan tabir asap yang menutupi ketidakadilan mereka dan menghentikan orang-orang yang tertindas bergabung ke ISIS dengan merubah kebijakan kita sendiri.

Tidak akan ada ISIS di Suriah jika kita mendukung penuh perjuangan untuk kemerdekaan di negara itu sejak tahun 2011. ISIS terjadi karena adanya kekosongan politik yang diciptakan oleh kurangnya dukungan kepada oposisi utama yang menentang rezim Suriah yang brutal, dan tidak akan ada pembantaian lebih dari 200.000 orang dan jutaan lebih pengungsi, yang memberi kesempatan ISIS untuk terbentuk dan tumbuh.

Kita (AS) perlu mendukung oposisi politik dan mainstrem Suriah dalam memperjuangkan kebebasan dan demokrasi. Suriah yang merdeka dan adalah jaminan jangka panjang untuk kehancuran dan marginalisasi kelompok-kelompok seperti ISIS.

Kita juga perlu mendukung penegakan demokrasi dan hak asasi manusia di Irak, Mesir, dan di seluruh wilayah. dan kebiadaban ISIS dan kelompok-kelompok teror lainnya didorong oleh penindasan brutal dari kediktatoran yang sayangnya sering didukung oleh AS. agama dan penindasan politik seperti bayangan satu sama lain dalam cermin dan mengakibatkan hal yang sama.

ISIS mampu menembus Irak hanya karena kita terlalu lama mendukung pemerintah yang benar-benar meminggirkan kelompok muslim Sunni dan kelompok minoritas etnis dan agama lainnya. Warga Irak yang akan ditembak di sebuah pos pemeriksaan pemerintah hanya karena menjadi anggota dari sekte yang “salah” terlambat menyadari bahwa ISIS adalah alternatif yang lebih buruk.

Jika kita ingin menghentikan ISIS, kita harus menolak klaim bahwa ISIS merupakan Islam dan mencegah ketidakadilan yang merupakan katalis dari berkembangnya ISIS.

Terserah para pemimpin politik kita untuk memimpin melalui strategi internasional yang komprehensif, tidak dengan jumlah bom yang dapat dijatuhkan, namun dalam penegakan kebebasan dan keadilan yang akan menjadi akhir dari ISIS dan kelompok sejenisnya.

_
Nihad Awad adalah direktur eksekutif nasional Dewan Hubungan Amerika-Islam (), organisasi hak-hak sipil Muslim dan advokasi terbesar di AS.

 

TIME | Penerjemah: Yadly Rozali

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia