Peristiwa Satria Utama Terjemahan Terorisme Yadly Rozali

ISIS menerapkan ajaran perkosaan sebagai salah satu ibadah (3/4)

Oleh Rukmini Callimachi
13 Agustus

Penggalan ketiga (3/4) | Pasar Budak

 

Ilustrasi ISIS menerapkan ajaran perkosaan sebagai salah satu ibadah. (TNYTimes)

Ilustrasi menerapkan ajaran perkosaan sebagai salah satu ibadah. (TNYTimes)

BEBERAPA bulan kemudian, dalam majalah online mereka, ISIS menjelaskan bahwa aksi perbudakan mereka terhadap dan perempuan sudah direncanakan sebelumnya secara matang.

“Sebelum penaklukan Sinjar, para murid Shariah di ISIS ditugaskan untuk mempelajari umat Yazidi,” demikian disebutkan dalam artikel berbahasa Inggris, dengan judul “Jam-Jam Menjelang Kebangkitan Perbudakan” yang muncul dalam majalah Dabiq terbitan bulan Oktober.

Artikel tersebut menjelaskan bahwa tertutup kemungkinan bagi umat Yazidi untuk membayar pajak pembebasan [dari perbudakan] yang dikenal sebagai jizyah, “Berbeda dengan umat Yahudi dan Kristen.”

“Setelah penangkapan, para perempuan Yazidi dibagi menurut Syariah kepada para pejuang ISIS yang ikut serta dalam operasi Sinjar, setelah seperlimanya dikirim ke pejabat ISIS untuk dibagi-bagi,” demikian disebutkan dalam artikel tersebut.

Sebagaimana halnya beberapa ayat dalam Injil digunakan untuk mendukung perbudakan di Amerika Serikat beberapa abad yang lalu, ISIS juga mengutip ayat-ayat dalam juga beberapa hadits untuk pembenaran perbudakan yang dilakukan oleh mereka, demikian pendapat para ahli.

Namun para cendikiawan tidak setuju, dengan penafsiran yang tepat terhadap ayat-ayat tersebut, dan pada pertanyaan apakah membolehkan perbudakan.

Banyak yang berpendapat bahwa gambaran perbudakan dalam kitab Islam hampir sama dengan gambaran dalam Injil, yaitu merupakan gambaran jaman dahulu saat ajaran agama baru diturunkan.

“Dalam abad saat Al-Qur’ān diturunkan, telah menjadi kelaziman seorang laki-laki melakukan hubungan seksual dengan budak perempuan,” kata Kecia Ali, seorang dosen agama di Boston University dan pengarang buku tentang perbudakan dalam masa awal Islam. “Itu bukan merupakan ajaran agama, melainkan hanya gambaran apa yang dilakukan orang (pada saat itu).”

Cole Bunzel, seorang peneliti agama Islam di Princeton University, menyatakan tidak setuju, dengan merujuk pada beberapa referensi kalimat, “Mereka yang berhak dimiliki,” dalam Qur’an, yang selama berabad-abad ditafsirkan sebagai budak perempuan. Dia juga merujuk ke sejumlah tulisan yurisprudensi Islam yang membuat aturan rinci tentang perbudakan yang masih berlaku hingga jaman modern.

“Banyak sekali tulisan yang membolehkan perbudakan,” kata Bunzel, pengarang makalah penelitian Ideologi ISIS yang diterbitkan oleh The Brookings Institute. “Anda boleh berdebat bahwa tulisan-tulisan itu tidak lagi berlaku. Namun ISIS akan mengatakan bahwa perbudakan harus dihidupkan lagi karena itu yang dilakukan oleh Nabi dan para Sahabat.”

Perempuan yang tercantik dan termuda dibeli pada minggu-minggu pertama setelah penangkapan mereka. Yang lainnya, terutama yang lebih tua dan sudah menikah, menjelaskan bagaimana mereka diangkut dari satu tempat ke tempat lainnya, menghabiskan waktu berbulan-bulan lamanya di tempat yang mirip penjara hingga ada calon pembeli yang mau menawar.

Para penangkap mereka kelihatannya memiliki sistem untuk menginventarisir para perempuan, termasuk mempunyai istilah-istilah tersendiri. Perempuan dan anak perempuan yang disebut “sabaya” diikuti dengan nama mereka. Beberapa dibeli secara borongan, lalu difoto dan diberi nomor, untuk ditawarkan kepada calon pembeli lainnya.

Osman Hassan, seorang pengusaha Yazidi yang berhasil menyelundupkan banyak perempuan Yazidi, mengatakan dia pura-pura menjadi pembeli agar dikirimi foto. Dia lalu menyebarkan lusinan foto yang memperlihatkan perempuan Yazidi duduk di kursi dalam ruangan kosong, dengan wajah yang hampa tanpa senyum. Di tiap pojok foto tersebut tertera tulisan dalam huruf arab “Sabaya Nomor 1”, “Sabaya Nomor 2”, dan seterusnya.

Bangunan tempat menyekap para perempuan terkadang memiliki ruangan tempat melihat (viewing room).

“Saat mereka memasukkan kami ke dalam bangunan, mereka mengatakan bahwa kami sudah tiba di pasar Sabaya,” kata seorang korban, gadis berusia 19 tahun, berinisial I. “Saya pun sadar bahwa kami berada di pasar budak.”

Dia memperkirakan setidaknya 500 orang perempuan dan anak perempuan yang belum menikah berada dalam bangunan bertingkat, dengan usia paling muda 11 tahun. Saat calon pembeli datang, kami dimasukkan dalam ruang terpisah, satu demi satu.

“Para calon majikan duduk bersandar ke dinding dan memanggil nama kami. Kami disuruh duduk dan menghadap mereka. Kami harus menatap wajah mereka dan sebelum masuk, semua benda yang bisa kami gunakan untuk menutupi tubuh kami dilepas,” katanya.

“Saat giliranku tiba, mereka menyuruhku berdiri hingga empat kali, dan mereka menyuruhku berputar.”

Para tawanan juga dipaksa menjawab pertanyaan yang bersifat priabdi, termasuk menyebutkan tanggal terakhir mereka mendapat menstruasi. Mereka menyadari bahwa para pejuang tersebut ingin memastikan apakah mereka hamil atau tidak, untuk menghindari pelanggaran terhadap larangan agama berhubungan badan dengan budak perempuan saat mereka mengandung.

 

Bagian 1 | Bagian 2 | Bagian 3 | Bagian 4

NYTimes | Satria Utama | Yadly R

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia