Peristiwa Satria Utama Terjemahan Terorisme Yadly Rozali

ISIS menerapkan ajaran perkosaan sebagai salah satu ibadah (4/4)

Oleh Rukmini Callimachi
13

Penggalan keempat (4/4) | Properti Milik

 

Ilustrasi ISIS menerapkan ajaran perkosaan sebagai salah satu ibadah. (TNYTimes)

Ilustrasi ISIS menerapkan ajaran perkosaan sebagai salah satu ibadah. (TNYTimes)

PADA awalnya penerapan perbudakan seks oleh ISIS mengejutkan, bahkan bagi pihak pendukung mereka, beberapa dari mereka memprotes melalui tulisan online setelah laporan pertama tentang pemerkosaan sistematis.

Para pemimpin ISIS berulangkali menyuarakan pembenaran terhadap perbudakan seks ke pengikut internal mereka.

Setelah artikel pertama Dabiq terbitan bulan Oktober, isu tersebut kembali muncul secara umum tahun ini, dalam sebuah ulasan di bulan Mei yang menunjukkan bahwa sang penulis merasa sakit hati dan kecewa terhadap kenyataan bahwa beberapa kelompok pendukung mereka mempertanyakan tentang perbudakan tersebut.

“Yang membuat saya khawatir adalah kenyataan bahwa beberapa pendukung ISIS mulai menyangkal hal tersebut, seakan para pasukan tersebut telah melakukan suatu kesalahan atau kejahatan,” tulis sang pengarang.

“Saya menulis ini dengan penuh kebanggan di setiap hurufnya,” katanya. “Kami memang menyerang dan menangkap kumpulan kafirah dan mengarak mereka dengan todongan pedang terhunus bagaikan kawanan domba.”

Kafirah berarti orang kafir.

Dalam sebuah selebaran online di bulan Desember, Departemen Riset dan Fatwa ISIS menjelaskan rincian pelaksanaan, termasuk penjelasan bahwa budak merupakan barang/aset milik pejuang yang membeli mereka dan dengan demikian bisa diwariskan atau dibuang sebagaimana halnya benda lainnya setelah kematian majikannya.

Beberapa tawanan yang baru saja melarikan diri menggambarkan adanya birokrasi yang rumit mengenai penangkapan mereka, tentang status mereka sebagai budak yang tercatat dalam sebuah kontrak. Saat pemiliknya akan menjual mereka pada pemilik baru, kontrak baru pun segera disusun, layaknya jual beli kepemilikan rumah. Di saat yang sama, seorang budak bisa saja dibebaskan, dan pejuang yang melakukannya dijanjikan imbalan surga untuk hal itu.

Walaupun sangat jarang, namun hal ini menciptakan peluang bagi para korban untuk melarikan diri.

Seorang korban berusia 25 tahun yang berhasil melarikan diri bulan lalu, sebut saja A, menjelaskan bagaiman pada suatu hari, majikannya, seorang Libya, menyerahkan padanya secarik kertas terlaminasi. Majikannya mengatakan bahwa dia telah menyelesaikan pelatihannya sebagai pelaku bom bunuh diri dan bermaksud untuk meledakkan dirinya sendiri, oleh karena itu dia membebaskannya.

Bertuliskan “Certificate of Emancipation” (Sertifikat kesetaraan hak), dokumen tersebut ditandatangani oleh Hakim Propinsi Barat ISIS. Perempuan tersebut hanya menunjukkan surat tersebut pada penjaga perbatasan saat dia meninggalkan Syria untuk kembali ke dan berkumpul kembali dengan keluarganya pada bulan Juli.

ISIS juga menegaskan bahwa berhubungan badan dengan perempuan Kristen dan Yahudi yang ditangkap dalam peperangan juga diperbolehkan, berdasarkan petunjuk pelaksanaan setebal 34 halaman yang diterbitkan pada musim panas oleh Departemen Riset dan Fatwa kelompok teror tersebut.

Hanya karena larangan berhubungan seks dengan budak yang sedang mengandung dan aturan bahwa majikan harus menunggu tawanan perempuannya untuk mendapat menstruasi, dengan tujuan “memastikan tidak ada apa pun dalam rahimnya” sebelum berhubungan badan, dari 21 perempuan yang diwawancarai untuk artikel ini, beberapa yang tidak mengalami pemerkosaan adalah perempuan yang sedang mengandung pada saat ditangkap, atau sudah memasuki masa menopause.

Selain itu, bisa dikatakan tidak ada larangan terhadap hubungan seksual. Pemerkosaan terhadap -anak pun diperbolehkan: Diperbolehkan melakukan hubungan seksual dengan yang belum memasuki usia baligh jika dia dianggap mampu melakukannya.

Demikian bunyi selebaran di Twitter yang diterjemahkan oleh the Middle East Media Research Institute pada bulan Desember yang lalu.

Seorang perempuan Yazidi berusia 34 tahun yang berulang kali diperkosa oleh pejuang Saudi di kota Shadadi, Syria, menggambarkan bahwa dia “lebih beruntung” dibanding budak lainnya dalam rumah tersebut, seorang anak berusia 12 tahun, yang diperkosa selama berhari-hari walaupun mengalami pendarahan hebat.

“Dia menghancurkan tubuh mungilnya. Anak itu mengalami infeksi parah. Si pejuang terus saja mendatanginya dan bertanya, ‘Mengapa anak itu mengeluarkan bau tidak enak?’ Dan saya menjawab bahwa dia mengalami infeksi organ dalam, Anda harus mengobatinya,” kata perempuan itu.

Namun tanpa mempedulikan permohonan perempuan tersebut, dia tetap memulai ritual doanya sebelum dan sesudah memperkosa anak tersebut.

“Saya berkata padanya, ‘Dia hanya seorang anak kecil’,” kenang si perempuan tersebut.

Namun pejuang itu menjawab, “Tidak. Dia bukan seorang anak perempuan. Dia budak. Dan dia bisa berhubungan seks.”

“Dan berhubungan seks dengannya akan menyenangkan Tuhan,” jawabnya.

 

BERDASARKAN kasus pemerkosaan dalam artikel di atas, adalah sangat salah bahwa memperbolehkan hubungan seksual (baca: pemerkosaan), apalagi jika tindakan tersebut dianggap sebagai bagian dari ibadah.

Dalam Al-Qur’ān Sūrah XXIV—An-Nūr ayat 31:

“Katakanlah kepada orang-orang mukmin laki-laki, mereka hendaknya menundukkan mata mereka dan memelihara aurat mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka kerjakan.”

Ayat di atas menjelaskan perintah bagi kaum laki-laki untuk menjaga pandangannya dan auratnya dari perempuan-perempuan yang bukan muhrim. Perintah menjaga pandangan ini ditekankan terlebih dahulu bagi kaum laki-laki karena mata merupakan pintu masuk utama pikiran jahat ke dalam hati manusia.

Setelah itu, barulah perintah selanjutnya ditujukan pada kaum perempuan dalam ayat 32-nya:

“Dan katakanlah kepada orang-orang mukmin perempuan, bahwa mereka hendaknya menundukkan mata mereka dan memelihara aurat mereka, dan janganlah mereka menampakkan kecantikan mereka, kecuali apa yang dengan sendirinya nampak darinya, dan mereka mengenakan kudungan mereka hingga menutupi dada mereka…”

Keyakinan anggota ISIS tentang pemerkosaan terhadap perempuan dari kaum tertentu sebagai bagian pelaksanaan ibadah, tidak memiliki dasar pembenaran dari sebagaimana mereka suarakan selama ini, melainkan hanya merupakan dorongan pikiran jahat.

 

Bagian 1 | Bagian 2 | Bagian 3 | Bagian 4

NYTimes | Satria Utama | Yadly R

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia