Opini

Tak ada alasan untuk bergabung dengan ISIS

oleh Dildaar Ahmad Dartono

Republika Online

SEBAGIAN orang menyatakan keheranannya atas sikap dukungan dan janji setia (baiat) dari sebagian warga Muslim Indonesia terhadap (Islamic State of Iraq and Suriah, Negara Islam Irak dan Suriah).

Menurut saya, keheranan itu wajar mengingat beberapa hal berikut ini; pertama, dari segi nama, ISIS sendiri berarti negara Islam Irak dan Suriah. Tentu saja, keheranan sebagian orang pantas dimunculkan bila ada warga Muslim di NKRI ini menyatakan bergabung dan berjuang untuk ISIS.

Kedua, latar belakang dan personal yang mendirikan ISIS pun masih kontroversial dan misterius. Ada fakta bahwa para pendiri ISIS adalah orang-orang dekatnya Saddam Husain. Saddam sendiri adalah kader partai Baath yang kita tahu berhaluan sekuler. Ada fakta bahwa Suni, Syiah, dan Kurdi di Irak saling bersaing dan menegasikan satu dengan yang lain dalam kepemimpinan di negeri itu. Sementara ISIS yang muncul dari kalangan Suni, berdiri setelah kekalahan persaingan mereka oleh pihak Syiah. Sehingga, atas hal ini, muncul pertanyaan, benarkah motif ISIS murni untuk mengamalkan ajaran Islam atau karena semata-mata kekuasaan.

Ketiga, bagi sementara kalangan Muslim, debat tentang pendirian negara Islam adalah debat yang senantiasa seru. Tema-tema seputar debat, di antaranya ialah apakah tepat mendirikan negara dalam sebuah negara Muslim; apakah negara yang mengklaim negara Islam sahih untuk didirikan saat ini; dan sebagainya. Sementara bagi sebagian orang Muslim, sebuah negara yang sudah berjalan adalah bentuk sah yang harus dipertahankan.

Apalagi, aspirasi dan standar peribadatan orang Muslim sama sekali tidak diganggu dan dapat diperjuangkan.

Menyikapi fakta ini, mari kita kembali berpikir jernih untuk melihat dengan tenang bahwa kita adalah warga negara NKRI yang sebagian besarnya Muslim, sudah punya negara dan cukup membanggakan dari segi kemusliman dan demokrasi. Kita punya peluang dan kesempatan mengembangkan nilai-nilai keislaman kita di sini. Tidak ada alasan kuat untuk hijrah atau berpindah ke ISIS.

Dildaar Ahmad Dartono
Kampung Babakan, Desa Pondok Udik, Kecamatan Kemang
Kabupaten Bogor, Jawa Barat

_
Versi lengkap dari WordPress:

dildaar-ahmad-dartono

Dildaar Ahmad Dartono
Kampung Babakan, Desa Pondok Udik, Kecamatan Kemang
Kabupaten Bogor, Jawa Barat

SEBAGIAN orang menyatakan keheranannya atas sikap dukungan dan janji setia (baiat) dari sebagian warga Muslim Indonesia terhadap ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah, Negara Islam Iraq dan Suriah) dan Khalifahnya. Lebih jauh lagi, dukungan itu mengarah kepada hijrah atau perpindahan wilayah ke Islamic State tersebut, yang tentu saja berimplikasi pada kewarganegaraan.

Menurut saya, keheranan itu wajar mengingat beberapa hal berikut ini; pertama; dari segi nama, ISIS sendiri berarti negara Islam Iraq dan Suriah. Tentu saja, keheranan sebagian orang pantas dimunculkan bila ada warga Muslim di NKRI ini menyatakan bergabung dan berjuang untuk ISIS, sebuah kekuatan politik yang menyatakan dirinya sebagai negara Islam di Iraq dan Suriah.

Kedua; latar belakang dan personal yang mendirikan ISIS pun masih kontroversial dan misterius. Ada fakta bahwa para pendiri ISIS adalah orang-orang dekatnya Saddam Husain. Saddam sendiri adalah kader partai Ba’ath yang kita tahu berhaluan sekuler. Ada fakta bahwa Sunni, Syiah dan Kurdi di Iraq saling bersaing dan menegasikan satu dengan yang lain dalam kepemimpinan di negeri itu. Sementara, ISIS yang muncul dari kalangan Sunni, berdiri setelah kekalahan persaingan mereka oleh pihak Syiah. Sehingga, atas hal ini, muncul pertanyaan, benarkah motif ISIS murni untuk mengamalkan ajaran Islam atau karena semata-mata kekuasaan.

Ketiga, bagi sementara kalangan Muslim, debat tentang pendirian negara Islam adalah debat yang senantiasa seru. Tema-tema seputar debat diantaranya ialah apakah tepat mendirikan negara dalam sebuah negara Muslim; apakah negara yang mengklaim negara Islam sahih untuk didirikan saat ini; dan sebagainya. Sementara bagi sebagian orang Muslim, sebuah negara yang sudah berjalan adalah bentuk sah yang harus dipertahankan. Apalagi aspirasi dan standar peribadatan orang Muslim sama sekali tidak diganggu dan dapat diperjuangkan.

Segi lain mengenai konsep negara Islam, ialah, sejarah bangsa dan negara kita termasuk ‘kelam’. Berdirinya Negara Islam Indonesia pada tahun 1948 di Tasikmalaya dan upayanya melawan RI merupakan sebuah fakta sejarah. Ia didirikan pada saat bangsa kita yang masih muda bernegara tengah diserbu kekuatan Barat. NICA, puluhan ribu tentara Belanda yang didukung Inggris dan Amerika Serikat menduduki kota-kota penting di tanah air. Ketika Belanda hengkang, NII masih saja melakukan perlawanan yang bukannya berdampak positif bagi citra Islam, bahkan semakin memperlambat usaha negara muda NKRI yang hendak melakukan konsolidasi nasional dan pembangunan.

Keempat; dalam rangka berkuasa dan diakui kekuasaannya oleh siapa saja; tidak segan-segan jalan kekerasan menjadi cara utama. Berita-berita faktual mengenai ISIS melakukan penyerbuan ke kota-kota di perbatasan Iraq, Suriah dan Turki menghiasi media cetak dan elektronik. Fakta ini semakin menegaskan bahwa prinsip utamanya ialah kekuasaan. Entah itu, mengatasnamakan entitas politik atau keagamaan.

Menyikapi fakta ini, mari kita kembali berpikir jernih untuk melihat dengan tenang bahwa kita adalah warga negara NKRI yang sebagian besarnya Muslim, sudah punya negara dan cukup membanggakan dari segi kemusliman dan demokrasi. Kita punya peluang dan kesempatan mengembangkan nilai-nilai keislaman kita di sini. Tidak ada alasan kuat, bahkan bukan tindakan yang tepat untuk hijrah atau berpindah ke ISIS. Atau, berbaiat menyatakan dukungan dan janji setia kepada ‘Khalifah’nya.

Pendapat Pribadi tidak mewakili institusi mana pun, Dildaar Ahmad Dartono

Tentang Penulis

Dildaar Ahmad Dartono

4 komentar

Tinggalkan komentar