Akhlaq Faḍi'l-Lāh

Islam, Ahmadiyah; Ajaran welas asih dan Anti Kekerasan

Oleh Ridhwan Ibnu Luqman, S.Pd.I., muballigh Jemaat Indonesia di ,
Disampaikan dalam Seminar Toleransi dan Pendidikan Damai di Kolose Xaverius Ambon hari Kamis, 5 Februari

Asas persaudaraan umat manusia

Capture QS 49 14“(Yā ayyuha’n-nāsu innā khalaqnāKum miŋ dzakarī wa uŋtsā wa ja‘alnāKum syu‘ūbaw wa qabā’ila lita‘ārafū…)

“Hai Manusia, sesungguhnya, Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan; dan Kami telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal… (QS [Al-Ḥujurāt] 49:14; http://tilaw.at/49:14).”

Ayat ini merupakan “Magna Charta” atau piagam persaudaraan dan persamaan umat manusia. Ayat ini menumbangkan rasa dan sikap lebih unggul yang semu lagi bodoh, yang lahir dari keangkuhan rasial. Karena umat manusia sama-sama diciptakan dari jenis laki-laki dan perempuan, maka sebagai makhluk manusia, semua orang telah dinyatakan sama dalam pandangan Allāh swt..

Seseorang tidak dinilai dari kulitnya, jumlah hartanyanya, oleh pangkat, atau kedudukannya dalam masyarakat, keturunan atau asal-usulnya, melainkan oleh keagungan akhlaknya dan oleh caranya melaksanakan kewajiban terhadap Tuhan dan manusia.

Seluruh keturunan manusia, tidak lain hanya suatu keluarga belaka. Pembagian suku-suku bangsa, bangsa-bangsa, dan rumpun-rumpun bangsa dimaksudkan untuk memberikan kepada mereka saling pengertian yang lebih baik terhadap satu sama lain, agar mereka dapat saling mengambil manfaat dari kepribadian serta sifat-sifat baik bangsa-bangsa itu masing-masing.

Pada peristiwa Haji perpisahan di Mekkah, tidak lama sebelum Rasūlul-Lāh (Rasulullah) saw. wafat, beliau berkhotbah di hadapan sejumlah besar orang-orang muslim dengan mengatakan, “Wahai sekalian manusia! Tuhan-mu itu Esa dan bapak-bapakmu satu jua. Seorang Arab tidak mempunyai kelebihan atas orang-orang non Arab. Seorang kulit putih sekali-kali tidak mempunyai kelebihan atas orang-orang berkulit merah. Begitu pula sebaliknya, seorang berkulit merah tidak mempunyai kelebihan apapun di atas orang berkulit putih, melainkan kelebihannya ialah sampai sejauh mana ia melaksanakan kewajibannya terhadap Tuhan dan manusia. Orang yang paling mulia di antara kamu sekalian pada pandangan Tuhan ialah yang paling bertakwa di antaramu.” (HR Baihaqī)

Islam raḥmatan lil-‘ālamīn

Suatu agama atau kepercayaan yang dapat memenuhi kebutuhan zaman ini, haruslah dapat melampaui batas-batas kesukuan, negara, rasial, dan kebudayaan, dan harus dapat berbicara dengan manusia dari segala tingkatan. Islam hadir dan menawarkan hal itu. Al-Qur’ān dibuka dengan ayat “Dengan nama Allāh, Maha Pemurah, Maha Penyayang.” Ini menerangkan kepada pembaca betapa pondasi yang diletakan Tuhan dalam agama ini adalah tentang Raḥmān dan Raḥīm, atau ajaran welas asih.

Sifat universal itulah yang kemudian memunculkan nilai-nilai welas-asih dalam Islam. Sebagaimana Rasulullah saw. (pendiri Islam) itu sendiri, kedatangannya ditetapkan sebagai “Rahmat bagi seluruh alam”. Artinya, setiap ajaran dan nilai-nilai yang disajikan dalam Islam, semua berlandaskan kepada nilai-nilai cinta atau kasih.

Sebagai pembawa ajaran welas asih itu, beliau saw. tidak melulu mengajarkan nilai-nilai kebenaran dengan perantaraan dalil-dalil yang terdapat dalam kitab suci, lebih dari itu beliau juga mengajarkan hikmah. Beliau saw. mengajarkan cita-cita dan asas-asas ajarannya serta mengajarkan filsafat, arti dan kepentingan cita-cita dan asas ajarannya itu. Didikan yang diberikan beliau kepada para pengikut beliau memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan filsafat ajaran beliau menimbulkan dalam diri mereka keyakinan iman, dan contoh mulia beliau menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Dan hal itu kemudian memancarkan welas-asih dalam setiap orang yang mengikuti beliau saw..

Interpelasi yang salah tentang Jihad

Namun nilai-nilai welas asih yang ada di dalam diri Rasulullah saw. dan Islam seolah sirna tatkala ada sebagian umatnya memperlihatkan bentuk lain dalam islam yang jauh dari nilai-nilai welas asih. Perlu kita renungkan, bahwa penomena kekerasan atas nama agama, bil khusus yang ada di lingkup Islam itu sendiri, bermula dari interpelasi jihad yang keliru. Jihad dinilai sebagai langkah offensive atas bentuk-bentuk perbedaan, nilai-nilai hikmah pun kemudian menjadi pudar. Padahal jika kita telisik lebih dalam lagi, jihad itu sendiri bersifat defensive.

Ḥaḍrat Masīḥ Mau‘ūd (Masih Mau’ud) a.s. begitu keras dalam menentang teori jihad yang diidentikan dengan kekerasan. Beliau a.s. bersabda, “Jihad yang dipraktekkan oleh kebanyakan orang barbar saat ini bukanlah Jihad Islam. Sebaliknya, kegiatan sesat yang telah menyebar di antara umat Islam adalah hasutan Nafs Amarah atau nafsu hewani untuk meraih surga.”

Lebih lanjut lagi beliau a.s. mengatakan, “Orang-orang yang menyebut dirinya muslim, tapi meyakini bahwa Islam harus disebarkan dengan pedang, mereka tidak menyadari keunggulan yang melekat pada Islam, dan tindakan mereka seperti tindakan binatang.”

Tadisi umum di kalangan muslim yang menyerang orang-orang dari agama lain, yang mereka sebut jihad, bukanlah jihad hukum agama Ilahi. Sebaliknya, itu adalah dosa besar dan pelanggaran terhadap instruksi yang jelas dari Allāh Ta‘ālā dan rasul-Nya, Nabi Muhammad saw. yang menjungjung tinggi nilai-nilai welas-asih.

Ahmadiyah dan upaya membumikan Islam raḥmatan lil ‘ālamīn

Jihad yang sebenarnya merupakan penyebaran pesan damai Islam ke seluruh dunia, dengan bantuan dan dukungan dari Allāh Ta‘ālā. Setiap kita menjadi testimoni atas ajaran yang mulia Rasulullah saw. dan siapa pun yang berada dalam lingkungan kita mereka terwarnai dan bisa merasakan manfaat dari keberadaan kita.

Di tengah penentangan dari kalangan muslim dan non muslim, Aḥmadiyyah (Ahmadiyah) berusaha untuk konsisten dalam mempromosikan nilai-nilai welas asih yang ada dalam Islam. Dengan moto “Love for All, Hatred for None”, Ahmadiyah di selururh penjuru dunia berupaya menepis pandangan yang keliru terhadap Islam sebagai agama teroris atau juga mengurangi ‘Islam phobia’. Terbukti, ketika orang-orang Ahmadi mendapatkan penganiayaan, penindasan, dan perlakuan tidak manusiawi dari pihak lain, kami tidak membalas perlakuan itu dengan bentuk yang sama, tetapi kami selalu berusaha untuk membalas semua perlakuan itu dengan doa.

Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad bersabda, “Apabila Anda mendengar caci-maki, maka doakanlah mereka.”

Kami percaya bahwa kekerasan hanya akan memunculkan kekerasan lainnya, oleh karena itu doa menjadi balasan yang mulia untuk menghentikan setiap tindakan kekerasan. Sebagaimana dulu dicontohkan oleh Hadhrat Rasulullah saw. ketika beliau dianiaya, beliau mendo’akan supaya orang yang mengaiaya beliau diberikan petunjuk oleh Allāh swt..

Kemudian, ketika kami (Ahmadiyah) meyakini kedatangan Imam Mahdi, maka tatkala kami mengimani sosok itu telah hadir dalam diri Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. maka dengan kedatangannya itu dibukalah perjuangan memenangkan Islam dengan jalan damai. Sifat jamāl dari Islam itu sendiri yang digaungkan di masa ini. Karena sebagaimana ḥadīts menyebutkan tentang tanda kedatangan Imam Mahdi bahwa tatkala ia datang maka ia akan menghapuskan peperangan. Dan dengan menebarkan nilai-nilai welas asih, kami berupaya untuk menaklukan setiap hati untuk mencicipi ajaran agung dari Yang Mulia Ḥaḍrat Rasulullah saw..

Interfaith Dialog

Ḥaḍrat Masih Mau’ud a.s. mengusulkan bahwa pertemuan para tokoh ulama harus diadakan untuk berdiskusi dan untuk mendidik mereka tentang sifat sebenarnya dari jihad. Para ulama itu kemudian menginformasikan kepada umat tentang kesalah pahaman mereka terdahulu.

Di zaman seperti saat ini, melibatkan para ulama lokal dalam suatu dialog merupakan hal yang penting dan kemudian memberikan dorongan guna mendidik masyarakat tentang kesalahpahaman mereka, karena ulama merupakan oknum paling bertanggung jawab dalam menyebarkan informasi kepada suatu umat.

Dan saat ini, jemaat Ahmadiyah juga menjadi pioner dalam pelaksanaan dialog antar agama, baik di tanah air maupun di luar negeri. “Mempertemukan para tokoh agama dan memperbincangkan satu tema yang global dan penting berkenaan dengan perdamaian”—dari dialog-dialog ini, nilai-nilai welas asih yang ada pada setiap agama disebarkan ke setiap penjuru dunia, dengan perantaraan keterwakilan agama oleh kaum ulamanya.

Dalam mengakhiri tulisan saya, izinkanlah saya menyertakan sebuah syair karya ulama dari Ahmadiyah.
Lagu-lagu Kasih Sayang

محبت کے نغمات گائيں گے ہم اخوت کی تانيں اڑائيں گے ہم
(Maḥabbat kē naghmāt gāēnggē ham; ukhuwwat kī tānaīŋ uṙāēnggē ham)
“KAMI akan mendendangkan lagu-lagu kasih sayang
“Kami akan selalu mengibarkan ikatan persaudaraan

کدورت کی ہوں تلخياں جس سے دور وہ ميٹہے ترانے سنائيں گے ہم
(Kadūrat kī hōŋ talkhiyāŋ jis sē dūr; woh mīthē tarānē sunāēnggē ham)
“Kami akan senantiasa memperdengarkan khabar-khabar yang menarik
“Yang jauh dari benih-benih kebencian-permusuhan

دلائل سے کثرت کو ديں گے شکست کہ وحدت کا پرچم اڑائيں گے ہم
(Dalā’il sē katsirat kō dēnggē syiksat; keh waḥidat kā parcham uṙāīnggē ham)
“Dengan perantaraan dalil-dalil yang nyata, kami akan unggul atas keyakinan lainnya
“Kami akan mengibarkan bendera persatuan

جہاں تک نہ پہنچی ہو آواز حق وہاں جا کے قرآں سنائيں گے ہم
(Jahāŋ tak nah pahunchī hī āwāz ḥaq; wahāŋ jā kē Qur’āŋ sunāīnggē ham)
“Di mana suara kebenaran tidak sampai
“Kami pun akan memperdengarkan lantunan al-Qur’ān di sana.”


Daftar Pustaka :
Abu Bakar Ahmad ibn Husain al-Baihaqi, “Sunan Baihaqi”.
Mirza Bayiruddin Mahmud Ahmad, Tafsir Shagir, Neratdja Press, 2014.
Mirza Ghulam Ahmad “Tiriyaq al-Qulūb”, Rūḥānī Khazā’in, Islam International Publications.
Mirza Ghulam Ahmad, The British Goverment and Jihad, Islam International Publication.
Mirza Masroor Ahmad, World Crisis and Pathway to Peace, Islam International Publications 2013.
Majalah Sinar Islam, “Jihad Palsu”, edisi V Juli 2014, Neratja Press.
Zafrullah Khan, “Islam; Memecahkan Problematika Dunia”, Arista, 1994.

Tentang Penulis

Ridhwan Ibnu Luqman