Akhlaq Faḍi'l-Lāh

Islam mengembalikan Hak Perempuan

DI dalam Islam, perempuan adalah mitra dari laki-laki untuk menyebarkan kebaikan, dan memberikan pertolongan kepada sebagian yang lain.

SEKELOMPOK orang yang mengatasnamakan Islam kembali membuat onar. Mereka membubarkan secara paksa acara workshop music “Lady Fast” yang diadakan di Yogyakarta, 2—3 April 2016. Acara ini diprakarsai oleh komunitas Kolektif Betina, sebuah komunitas yang menjadi tempat berkumpulnya teman-teman dengan latar belakang yang berbeda namun dengan semangat persaudarian dan saling mendukung satusama lain.

Secara hukum , tentu kelompok Islam ini telah melakukan pelanggaran. Direktur LBH Jakarta, Hamzal Wahyudi, menegaskan kedua pelanggaran yang dilakukan kelompok radikal itu. “Ada persoalan tindak pidana yang terjadi yaitu bahwa ada caci-makian yang diucapkan oleh sekelompok orang terhadap komunitas  yang terlibat dalam acara tersebut. Dan itu masuk dalam pidana ujaran kebencian. Yang kedua, ada pelanggaran HAM terjadi, yaitu Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 dimana hak warga negara untuk berkumpul, berdiskusi, berserikat dan itu dilindungi secara hukum,” ungkap Hamzal.

Lalu, apakah sebenarnya Islam tidak memberikan hak untuk berkumpul, berdiskusi, berserikat kepada perempuan? Mengapa sekelompok orang tersebut mengatasnamakan Islam? Untuk menjawab hal ini, marilah kita kembali kepada dua hal yang pokok dalam ajaran Islam, yakni kitab suci (Alquran) dan Sunnah atau kebiasaan .

Kedatangan Islam ke ini membangkitkan hak-hak manusia atas kaum perempuan yang sebelumnya terkekang. Sebelum Islam datang, Kristen tidak memberikan hak-hak yang  cukup pada kaum perempuan. Hal ini dapat kita lihat pada Bibel—Kejadian 2:18: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Dijelaskan pada ayat ini bahwa perempuan diciptakan hanya untuk menjadi kaum penolong bagi laki-laki. Lalu pada Kejadian 3:16: “Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu;  namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.”

Kesimpulannya, menurut ajaran Kristen, kaum perempuan adalah kaum yang mendapat kesakitan dari Tuhan dan kaum yang tunduk kepada kaum laki-laki. Diskriminasi ini juga terjadi pada kaum Arab sebelum kedatangan Islam dan Rasulullah saw.. Lihatlah kebiasaan mengubur bayi perempuan mereka -hidup hanya karena mereka perempuan. Jangankan hak untuk berkumpul, hak untuk saja pun tidak ada—innā li’l-Lāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.

Alḥamdu li’l-Lāh— swt. telah mengirimkan ajaran Islam yang mengembalikan hak dan derajat kaum perempuan. Di dalam Islam, perempuan adalah mitra dari laki-laki untuk menyebarkan , dan memberikan pertolongan kepada sebagian yang lain. Karena Allāh swt. berfirman: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan ṣalāt (salat), menunaikan zakat dan mereka taat pada Allāh dan rasul-Nya. Mereka itu akan diberi raḥmat oleh Allāh; sesungguhnya, Allāh Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS At-Taubah {9}: 71)

Andina Septia, salah seorang penggerak acara “Lady Fast” ini menyatakan bahwa acara ini bertujuan untuk menguatkan teman-teman perempuan mereka melalui berbagai medium: Musik, workshop, pemutaran film, diskusi, sharing session, pameran karya, lapak arts and crafts, dan lainnya. Jadi, tujuan dari acara ini adalah kebaikan.

Lantas, jika Allāh swt. saja memberikan kebolehan bagi kaum perempuan untuk menyebarkan kebaikan, mengapa kelompok radikal itu berani melawan firman Allāh swt.? Ditambah dengan bagaimana perlakuan Rasulullah saw. terhadap perempuan, sebagaimana beliau saw. bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para perempuan.” (HR : 3729). Kesimpulan akhir, kelompok radikal ini melawan perintah Allāh swt. dan nasihat Rasulullah saw..

Jadi, mulai sekarang hapuslah jauh-jauh gambaran negatif dari perlakuan ajaran Islam terhadap perempuan. Sesungguhnya, kaum radikal yang mengatasnamakan dari agama Islam itu hanyalah bualan belaka. Mereka hanyalah sekelompok kaum radikal, yang melakukan kekerasan, pelanggaran hukum, dan apabila mereka terdiri dari orang-orang Islam, melawan perintah Allāh swt. dan rasul-Nya.

Tentang Penulis

Fariz Abdussalam