Opini

Islam Yang Damai dan Mendamaikan

islam damai

Kesatuan dalam rasa kebersamaan,,

mulai teruji karena perbedaan..

Sudah menjadi suatu hal yang tak dapat dipungkiri, kita, yang saat ini berpijak di bumi Indonesia terlahir dengan berbagai macam perbedaan. Dari Sabang hingga Merauke dengan pulau-pulaunya yang berjajar, tentunya melahirkan banyak suku dan kebudayaan yang berbeda. Begitu pula dengan agama dan kepercayaan, di bumi Indonesia ini juga terdapat perbedaan.

Lalu, haruskah perbedaan yang sudah menjadi warisan leluhur dari nenek moyang kita ternodai oleh suatu kericuhan demi mencari persamaan dan egoisme dengan mengatasnamakan Agama?

Miris memang, namun inilah yang sedang terjadi di bumi kita Indonesia. Perbedaan yang sejatinya adalah rahmat mulai diwarnai dengan gesekan-gesekan. Gesekan sudah tak dapat dielakan ketika egoisme sudah tak dapat diredam. Belum lagi, dengan gelar mayoritas yang sudah disandang dari sekian abad yang lalu di Indonesia. Seakan-akan sudah membuat diatas angin untuk memandang sebelah mata kaum minoritas.

Entahlah, mungkin agama sebagai agama Mayoritas di Indonesia menjadi ujian tersendiri bagi para pemeluknya. Sehingga, dengan mudahnya memaksanakan kehendaknya. Namun, Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 256 yang artinya:

“Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan”

Sekalipun sebagai agama mayoritas, Allah SWT melarang pemaksaan agama minoritas untuk memeluk Islam. Begitu juga masalah pemahaman agama, pola pikir, dan kehidupan. Dalam Islam, kita mempelajari semuanya, namun bukan berarti pula kita dapat memaksakan apa yang dipelajari kepada mereka yang tidak memeluk agama Islam.

Dan perlu diingat dan ditanamkan dalam hati bahwa Islam adalah agama yang . Nabi besar kita pun, Nabi Muhammad SAW, juga banyak mengajarkan toleransi yang sejatinya tak hanya diteladani, namun perlu diikuti.

Kemanakah murid sejati Rasulullah SAW saat ini? Murid yang sejatinya mengikutinya tanpa suatu alasan dan sanggahan di hati. Rasulullah SAW saja begitu humanisnya menghormati jenazah Yahudi. Mengapa kita yang hanya mengaku sebagai umatnya dengan mudah ‘mengkafirkan’ hingga menghujat umat yang tidak sesuai dengan hati?

Entahlah, mengapa fenomena ini terus terjadi. Semoga saja tak sampai berlarut, hingga pada akhirnya membuat wajah Islam menjadi tercoreng dan terpuruk karna keegoisan segelintir pemeluknya.

Aku salah seorang dari pemeluk Islam, dan aku berpijak di bumi Indonesia. Namun pilihanku, aku memilih tak peduli dengan latar belakang suku, ras, budaya, hingga agama pada siapa pun itu.  Yang Kutahu, agamaku mengajarkan Kedamaian dan juga harus menebarkan kedamaian. Karna cinta kasih untuk semua tidak ada kebencian untuk siapa pun. (Love for all hatred for none).

Sumber gambar : http://www.muslimsforpeace.org/peace/

 

Tentang Penulis

Mutia Siddiqa Muhsin

Tinggalkan komentar