Akhlaq Faḍi'l-Lāh Qureta

Islam yang memberi Rahmat

BELUM lagi sederet aksi terror di berbagai daerah yang diklaim dilakukan oleh kelompok-kelompok yang mengatas namakan Islam, telah benar-benar menutup mata dunia untuk melihat Islam sebagai rahmat untuk sekalian alam.✨?
Penulis Harpan Ahmad

AKHIR-akhir ini kita menyaksikan bagaimana pemberitaan tengah diramaikan oleh hal-hal yang sedemikian rupa menyudutkan Islam. Ancaman kedamian yang dihembuskan oleh kelompok-kelompok intoleran atau bahkan arogansi “Negara-negara Islam” itu sendiri tanpa disadari telah banyak menarik perhatian dunia kepada suatu deskripsi bahwa Islam dipandang tak mampu menjadi solusi perdamaian jangankan untuk dunia, bahkan untuk para penganutnya sendiri-pun amat-amat sulit untuk diwujudkan.

Pandangan demikian bukan tanpa alasan, berbulan-bulan kita disuguhi oleh prilaku bengis sebuah kelompok yang mencatut nama Islam () di dan Irak. Belum lagi sederet aksi terror di berbagai daerah yang diklaim dilakukan oleh kelompok-kelompok yang mengatas namakan Islam, telah benar-benar menutup mata dunia untuk melihat Islam sebagai rahmat untuk sekalian alam.

Di negara kita sendiri, Indonesia yang dahulu dikenal dengan Islam yang ramah pun ternyata kini sedang berjalan menyimpang ke arah Islam yang marah. Tidak jarang kita melihat prilaku-prilaku kasar dari ormas-ormas ber-atribut Islam, yang tidak sekedar ujaran kebencian dan ancaman, bahkan apabila amarah sudah pada puncaknya tak jarang fasilitas-fasilitas umum pun menjadi sasaran pelampiasan.

Tentu bukan di sini tempatnya untuk merunut daftar panjang tentang konflik dan prilaku keliru dalam ber-Islam yang telah, sedang atau bahkan akan terus dipertontonkan. Namun yang pasti bahwa menjadi penting untuk kita bersama terus mengkampanyekan penolakan atas segala bentuk kekerasan dan intoleransi, agar kiranya kedamaian yang dicita-citakan tidak sebatas kata, bahkan mewujud sebagai rahmat untuk sekalian alam.

Banyak sudah kita lihat berbagai upaya untuk menahan kencangnya laju penyebaran -paham radikal, hampir di tiap negara. Di Indonesia sendiri kampanye “” terhadap kekerasan, intoleransi dan radikalisme telah menjadi agenda walaupun dalam prakteknya belum se-garang yang diharapkan, dan masih terkesan tambal sulam.

Timbul kemudian pertanyaan tentang apa dan bagaimana cara untuk memutus mata rantai kekerasan dan aksi terror tersebut? Karena bukan tak mungkin bahwa ketika semua ini sampai pada puncak klimaknya, tanpa ada langkah-langkah pencegahan, maka umat manusia akan mengalami suatu kehancuran total yang tiada akan pernah ada contohnya.

Mengarah kepada kekhawatiran tersebut Khalifah Islam Ahmadiyah Ḥaḍrat Mirza Masroor Ahmad–ayyadahulLāhu ta‘ālā binarihil-‘azīz, dalam salah satu acara Konfrensi Agama-agama Dunia yang diselenggarakan di gedung Guildhall, (11/2/14), menyampaikan:

“Kebutuhan mendesak dan kritis bagi dunia saat ini adalah menegakan perdamaian dan keimanan kepada Tuhan. Jika dunia memahami realitas ini maka semua negara, baik negara besar maupun kecil, tidak akan, atas nama belanja pertahanan, mengalokasikan jutaan atau milyaran dollar untuk memperluas kemampuan militer mereka. Sebaliknya, mereka tentu akan membelanjakan harta mereka untuk memberi makan mereka yang kelaparan, menyediakan pendidikan , dan meningkatkan standar hidup negara-negara berkembang.”

Dengan penjelasan yang singkat itu Khalifah Ahmadiyah telah memberikan solusi yang demikian tepat bahwa sumber kedamian dunia terletak kepada baiknya hubungan spiritual kita dengan Tuhan.

Pasalnya seseorang yang memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan seyogyanya juga harus bisa mengejewantahkan rasa kasihnya terhadap hasil ciptaan Tuhan, dalam hal ini manusia.

Sehingga pantaskah jika kemudian kita disebut sebagai ‘kawan yang baik’ dalam pandangan Tuhan jika alih-alih menghormati malah menghujat atau bahkan merusak hasil karya-Nya?

Inilah konsep Islami guna menciptakan perdamian yang Nabi saw. senantiasa tanamkan dalam diri umatnya bahwa “tidak kepada Allāh seseorang yang tidak kepada manusia”.

Kebenaran sejati ini bukan sebatas kata-kata bahkan telah mencatat bahwa bagaimana pendekatan spiritual telah mampu menjadi penyejuk bagi gersangnya kejiwaan seseorang. Sebagai contoh di masa awal Islam berapa banyak orang-orang yang garang dan tak beradab telah dibebaskan dari prilaku-prilaku buruknya yang lama, bahkan kemudian mereka mampu menjadi pengkhidmat-pengkhidmat agama dan duta perdamaian.

Nilai-nilai inilah yang kemudian Jamaah Islam Ahmadiyah terus terapkan dan perjuangkan, melalui hubungan kedekatan dengan tuhan seperti itu manusia tidak hanya bisa memenuhi hak-hak tuhan, akan tetapi juga dengan menampilkan standar moral yang tinggi kita bisa memenuhi hak-hak ciptaan Tuhan.

Oleh karenanya dengan mottonya “Love for All, Hatred for None” Ahmadiyah akan menjadi garda terdepan dalam mewujudkan cita-cita perdamian dunia, agar kiranya Islam benar-benar menjadi rahmat bagi sekalian alam. Salam Damai Indonesia!

_
Qureta.com

Tentang Penulis

Harpan Ahmad