Opini

Jangan Salah Kaprah dalam Berjihad

bom bunuh diri

Pada 10 dan 11 Desember lalu, Detasemen Khusus 88 Antiteror Kepolisian RI berhasil meringkus sejumlah anggota jaringan yang berencana melakukan bom di Istana Presiden. Mereka berencana untuk mengadakan aksi bom bunuh saat berlangsungnya upacara pergantian penjaga Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) pada Minggu pagi, 11 Desember 2016.

Yang menarik dalam penangkapan ini adalah bahwa calon pelaku bom bunuh diri tersebut ternyata seorang perempuan yang bernama Dian Yulia Novi. Hal ini tentu mengejutkan bahwa seorang perempuan seperti Novi sampai hati untuk merencanakan aksi bom bunuh diri yang disebutnya sebagai amaliyah itu.

Bom yang telah dirakitnya pun dikabarkan berjenis TaTp (triacetone triperoxide). Bom ini memiliki daya ledak tinggi (high explosive) yang berkomposisikan bubuk kristal, gliserin, dan paku seberat 3 kilogram yang dimasukkan ke dalam panci sehingga bom ini juga disebut bom panci. Jika berhasil diledakkan, bom ini bisa menyemburkan ledakan sejauh 300 meter dengan paku yang menebar ke segala arah untuk melukai korban. Jenis bom panci ini bukanlah jenis bom baru dalam dunia perteroran. Bom jenis ini juga pernah diledakkan di Boston pada tahun 2013 dan di New York, Amerika Serikat, September lalu.

Dalam wawancaranya dengan wartawan Tempo, Dian Yulia Novi mengaku bahwa ia mendapat perintah langsung dari Bahrun Naim yang mengontaknya dari Suriah untuk melakukan amaliyah ini.

Membaca kisah di atas membuat kita berpikir, sepertinya rangkaian aksi teror meningkat sebelum dan setelah aksi 411 dan 212. Aksi seperti ini pun tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara lain di dunia pada waktu yang sama.

Sebagai contoh, pada tanggal 11 Desember, telah terjadi aksi bom kembar di Istanbul Turki. Dua buah bom high explosive diletakkan di dalam dua mobil di depan Stadion Vodafone Arena dan menewaskan 38 orang yang mayoritasnya adalah polisi. Aksi di Turki ini mirip dengan aksi yang direncanakan oleh Bahrun Naim bersama Dian Yulia Novi untuk melukai pihak keamanan kepresidenan di Istana Negara.

Apakah aksi bom bunuh diri dibenarkan dalam ?

Bunuh Diri Tidak Dibenarkan dalam Islam

Aksi bom bunuh diri yang direncanakan oleh Dian Yulia Novi sangatlah tidak dibenarkan dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa yang sengaja melakukan bunuh diri dengan suatu cara tertentu, Allah akan menyiksanya di neraka jahanam dengan cara itu pula.” (H.R. Muslim)

Korban dalam aksi bom bunuh diri yang selama ini terjadi pun banyak berasal dari kalangan umat Islam yang tidak bersalah dan tidak tahu-menahu dengan apa yang dipersoalkan oleh para pembom. Hal ini jelas sangat bertentangan dengan ajaran Islam sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT dalam Alquran:

“Dan, siapa saja yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, balasannya ialah neraka jahanam; ia akan menetap di dalamnya. Dan, Allah akan memurkai dan melaknatnya serta akan menyediakan baginya azab yang sangat besar.” (Q.S. An-Nisa: 94)

Dalam surah lain, Allah SWT berfirman:

“Dan, mereka itu adalah orang-orang yang tidak menyeru kepada tuhan lain di samping Allah, tidak pula membunuh suatu jiwa yang telah dilarang oleh-Nya, kecuali dengan alasan yang tepat, serta tidak pula berzina. Siapa saja yang berbuat demikian, niscaya ia akan menemui hukuman atas dosanya itu; Akan digandakan pula baginya azab pada hari kiamat yang di dalamnya ia akan tinggal dengan terhina.” (Q.S. Al-Furqan: 69-70)   

Dalil-dalil di atas dengan jelas menyatakan bahwa bunuh diri dan membunuh nyawa orang lain tanpa ada alasan yang jelas merupakan suatu kesalahan yang besar dan ganjaran bagi perlakuan itu adalah neraka jahanam.

Oleh sebab itu, aksi bom bunuh diri dan aksi serangan lainnya sama sekali tidak dibenarkan dalam Islam.

Pentingnya Menyebarkan Ajaran Islam Sejati

Melihat eskalasi paham radikalisme yang terus meningkat, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifah Kelima Jamaah Muslim Ahmadiyah, menyampaikan dalam salah satu wawancara beliau ketika melawat ke Kanada pada bulan November lalu:

kami bukanlah dengan pedang, senjata, ataupun bom. kami pun bukan dengan kejahatan, kebrutalan, dan ketidakadilan. Sebaliknya, kami adalah cinta, kasih, dan sayang. kami adalah toleransi, keadilan, dan simpati terhadap sesama manusia. kami adalah pemenuhan akan hak Allah SWT dan hak makhluk ciptaan-Nya.”

Dengan demikian, jihad yang menggunakan senjata apapun untuk melakukan kekerasan sama sekali tidak dibenarkan dalam Islam.

Jihad yang dilakukan pada masa Rasulullah SAW memang menggunakan pedang dan senjata karena kaum yang melakukan perlawanan kepada Rasulullah terlebih dahulu menggunakan kekerasan yang jauh lebih besar kepada umat muslim.

Namun, apa yang terjadi sekarang adalah justru kebalikannya, yakni para pejihadlah yang terlebih dahulu melakukan serangan ketika warga sedang dalam keadaan damai.

Pada tanggal 29 Juli 2016, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, menyampaikan dalam Khotbah Jumat di Masjid Baitul Futuh, London:

“Allah berfirman bahwa salat dapat mencegah kalian dari tindakan keji dan munkar. Islam mengajarkan kalian untuk menyebarkan salam dan menyampaikan ajaran yang penuh kebahagiaan ini kepada orang lain. Mengucapkan salam tidak hanya terbatas kepada umat Muslim saja. Pada zaman Rasulullah SAW, salam diucapkan kepada setiap orang tanpa adanya diskriminasi dan tanpa memperdulikan agama atau etnis. Beberapa keutamaan yang telah disebutkan berkenaan dengan Islam semata-mata ditujukan guna menciptakan perdamaian. Jika kalian mengamatinya dengan lebih cermat dan melihatnya dari berbagai sudut pandang, akan tampaklah bahwa Islam adalah agama yang sungguh damai dan mengajarkan perdamaian.”

Atas dasar ini, marilah kita merujuk kembali kepada ajaran Islam dan sunah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW sehingga kita dapat menunjukkan wajah Islam yang sebenarnya, yakni Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Sumber Gambar: http://www.radarislam.com/2016/05/teroris-itu-tidak-paham-islam.html

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia