Opini

JEJAK ALMASIH ADA DI KASHMIR

Isa

Kewajiban umat untuk mengikuti secara kaffah semua peri kehidupan SAW, tidak berarti menggugurkan kewajiban kita untuk tolabul ilmi, menggali pengetahuan tentang kebenaran hakiki. Karena banyak nilai kebenaran yang bersifat relatif jika dikaitkan dengan zaman dan periode waktu, tergantung penafsiran yang pas sesuai zamannya.

Pada masa Rasulullah, kaum muslim tidak mengenal sistem perbankan atau asuransi contohnya, maka untuk menetapkan sikap kita terhadap sistem itu harus digali kesesuaiannya dengan ajaran Islam, termasuk kesesuaian dengan konteks zaman ini.

Adapun hukum yang bersifat mutlak dan tetap berlaku hingga akhir zaman, juga tidak terlepas dari keharusan umat menjaga kemurniannya, agar tidak terjerumus dalam kategori penyimpangan atau bid’ah. Dalam mencapai kedua hal di atas, kita sebagai pengikutnya tidak bisa bersikap taklid tanpa alasan, guna mencegah dari amalan menyimpang serta menyesuaikan kondisi zaman dengan hal-hal prinsip yang diamanatkan nabi.

Ruh dari ketaatan kepada ajaran nabi, juga mengandung arti ketaatan yang disertai pengetahuan yang cukup. Bukan ketaatan yang asal sama dengan ajaran ulama atau leluhur, karena bisa jadi pada generasi pendahulu kita mengalami pergeseran dari akar sebelumnya, sehingga penyimpangan itu terus terbawa, sementara generasi berikutnya tanpa tahu asal muasalnya, menganggap ajaran menyimpang itu sebagai kebenaran.

Kasus yang paling menarik untuk diangkat tentang paham umum umat Islam yang sering luput dari kepedulian kita, karena terlanjur menganggapnya sebagai hal biasa, adalah tentang anggapan masih hidupnya alaihissalam (a.s). Di lain pihak, kita mengklaim bahwa Nabi yang paling mulia adalah Muhammad SAW.

Jika rujukan kemuliaan seorang Rasul diukur dari faktor usia yang panjang, sebagaimana diklaim oleh pihak yang mendiskreditkan Islam, maka banyak hal yang menjadi pertanyaan, karena di dalam Al Qur’an tidak ada ayat yang menyatakan Isa Almasih masih hidup, sementara Muhammad sendiri sudah wafat. Lalu boleh jadi anggapan itu menjadi pemicu anggapan bahwa Isa lebih mulia karena usia yang jauh lebih panjang.

Allah swt berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 117:

مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلاَّ مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيداً مَّا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Artinya: “.. dan aku sementara menjadi penjaga atas mereka selama aku di antara mereka, akan tetapi setelah Engkau mewafatkan aku, maka Engkaulah yang menjadi Pengawas mereka dan Engkaulah Saksi atas segala sesuatu.”

Keterangan: Dalam ayat ini as menjawab kepada Allah swt. bahwa beliau selalu berusaha agar pengikut-pengikutnya jangan sampai menyembah tuhan lain kecuali Allah swt. Seterusnya – dengan jelas – beliau bersabda: “Tetapi setelah Engkau mewafatkan aku, aku tidak tahu apa-apa yang mereka kerjakan.”

Faktanya, nabi Isa tidak lagi bisa dimintakan pertanggung jawaban atas amalan umatnya yang telah mereka jalankan setelah kewafatannya, termasuk segala amalan yang dianggap menyimpang.

Petunjuk lain diperoleh dari hadits, Di dalam kitab Hadits Kanzul Ummal jilid IV hal. 160, Fatimah r.a. menerangkan bahwa Rasuluhlah saw bersabda: “Sesungguhnya Isa ibnu Maryam usianya seratus dua puluh tahun”. Sementara jika masih hidup, dihitung secara kalender, Isa saat ini pasti sudah berusia dua ribuan tahun. Apakah kita tidak percaya dengan hadits nabi ?

Ketika secara ilmiah kita hendak membuktikan segala sesuatu, niscaya logika berpikirnya harus berdasarkan fakta, agar hipotesa awal menemukan pembuktian. Tetapi dalam kasus kehidupan Almasih, kita seolah menerima begitu saja, tanpa meminta fakta dan logika. Lalu bagaimana nasib ilmu pengetahuan, dimana tidak ada cabang ilmu yang mendukung anggapan salah itu ?

Dan justru faktanya, makam Isa telah ditemukan di sebuah dataran tinggi di , India. Seorang arkeolog dan sejarahwan India, Prof. Dr. Fida Muhammad Hassnain telah melakukan penyelidikan atas kuburan yang terletak di Mohalla Khanyar, Srinagar itu. Dari penyelidikan itu ia memperoleh kesimpulan, yang untuk kebenarannya ia berani mempertaruhkan reputasinya, bahwa yang berkubur di situ ialah Nabi Isa, yang datang ke sana dari Palestina kira-kira 2000 tahun lalu.

Dalam Konferensi Internasional di London awal Juni 1978 Dr. Hassnain juga diundang untuk bicara. Tetapi ia tidak dapat hadir pada konferensi itu, karena di saat-saat terakhir permintaannya untuk exit permit ditolak atas desakan orang-orang Islam fanatik, yang tidak menginginkan sarjana itu mengemukakan penyelidikan dan kesimpulannya dalam konferensi internasional itu.

Oleh karena itu Dr. Hassnain mengirimkan teks pokok-pokok uraiannya, yang memang sudah dipersiapkan lebih dulu. Pokok-pokok uraiannya itu dimuat dalam buku Truth about the Crucifixion, published by the London Mosque. 1978, hal. 79 – 87. Antara lain berkata Dr. Hassnain,. “Kuburan Nabi Isa terletak di Anzimar, Khanyar, Srinagar, ibu kota musim panas dari Kashmir.

Srinagar, yang berarti kota matahari, adalah suatu kota tua. Ia terbagi dalam dua bagian, kota lama dan kota baru, dan kuburan itu terletak di Basharat Salim, Srinagar, Kashmir, yang prof. Fida Muhammad Hassnain MA, LLB, mengaku keturunan Nabi Isa. Berdasarkan penyelidikan kuburan Nabi Isa di Srinagar secara turun-temurun. bahwa “kuburan nabi” yang terletak di Khanyar Street, Srinagar, Kashmir, adalah kuburan dari Nabi Isa.

Penyelidikan dan kesimpulan Dr. Hassanain itu dituliskan oleh Klaus Liedtke dalam Siern Magazin, No. 16, Harnburg, 12 April 1973, 6 halaman, dengan gambar-gambar. Uraian ini kemudian dikutip oleh majalah-majalah di Indonesia, yakni Varia, No. 786, 9 Mei 1973 dan Selecta No. 616 dan 617.

Dalam kesaksian-kesaksian sejarah tertulis ini nama penghuni kuburan itu ialah Yus Asaf. Nama ini adalah nama bahasa Iberani. Kata Yus adalah suatu bentuk lain dari Yuyu, Isa dalam bahasa Persia lama atau Yasu , Isa dalam bahasa Persia, seperti juga dalam Perjanjian Baru bahasa Arab yang diterjemahkan dari bahasa Yunani. Karena itu kata Yus sebenarnya adalah Isa. Asaf adalah nama yang terdapat dalam Bybel dan artinya ialah “pengumpul” atau “penghimpun”.

Tugas Nabi Isa ialah untuk mengumpulkan dan mempersatukan semua suku Israil. Karena itu Isa dinamakan Asaf. Ketika ia datang mengajar sepuluh suku Israil yang hilang di Persia, Afghanistan dan Kashmir, ia tepat sekali dinamakan Yus Asaf, yakni Isa Asaf (Isa pengumpul).

Sumber : “Nabi Isa dari Palestina ke Kashmir”, Syafi R. Batuah, Original from the University of Michigan Digitized 13 Jul 2006

Sumber: https://seword.com/spiritual/jejak-almasih-ada-di-kashmir-ryFMW_dRb

Sumber Gambar: https://www.quora.com/What-is-the-correct-map-of-Jammu-Kashmir-of-India

Tentang Penulis

Ruskandi Anggawiria

Tinggalkan komentar