Akhlaq Faḍi'l-Lāh Qureta

Jejak-Jejak Radikalisme Agama dalam Kitab Suci

SAAT ini kita menjadi saksi ada beberapa kelompok manusia yang demi uang, wilayah dan kekuasaan, dengan mengatasnamakan agama, tega untuk membunuh manusia lainnya yang tak berdosa, bahkan yang seiman dengan mereka.

LEMBARAN sejarah kehidupan manusia memang diseret-seret melalui debu dan darah. Sejak hari dan saat ketika Qabil membunuh saudaranya, Habil—yang tercatat dalam Al-Qur’ān dan Bible sebagai darah pertama yang ditumpahkan tanpa berdasarkan hokum—sampai hari ini, telah demikian banyak darah yang mengalir tanpa hak, sehingga jika darah itu dikumpulkan maka akan cukup untuk mewarnai pakaian seluruh umat manusia di persada bumi ini.

Kehausan manusia akan darah tidak pernah terpuaskan. Jika dahulu manusia zalim, demikian pula halnya dengan hari ini. Sebagaimana dahulu manusia kejam, sekarang pun tak kalah kejam. Pasukan demi pasukan telah keluar dari kubu mereka untuk menyerang negeri-negeri. Tangan Kisra telah berlumuran darah. Tangan Iskandar Agung dan Nero pun berlumuran darah. Tangan Hulaku dan Jengis Khan pun ketika menghancurkan Baghdad telah memerahi lembaran sejarah manusia.

Hingga hari ini pun, rasa haus manusia akan darah belum terpuaskan. Saat ini kita menjadi saksi ada beberapa kelompok manusia yang demi uang, wilayah dan kekuasaan, dengan mengatasnamakan agama, tega untuk membunuh manusia lainnya yang tak berdosa, bahkan yang seiman dengan mereka.

Kenyataan ini seolah menjadi penggenapan dari gugatan malaikat dalam dialog imajinernya dengan Tuhan tatkala Tuhan akan menciptakan manusia di muka bumi ini, bahwa salah satu sisi manusia adalah haus akan darah dan gemar membuat kerusuhan.

“Ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada para malaikat ‘Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’, mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kekacauan di dalamnya dan menumpahkan darah, Padahal, kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.” (QS Al-Baqarah {2}:31)

Keberatan semu para malaikat ini menyiratkan bahwa, akan ada orang-orang di bumi ini yang berbuat kekacauan dan menumpahkan darah. Manusia dianugerahi kekuatan-kekuatan besar untuk berbuat baik dan jahat, dan dalam hal ini para malaikat menyebut sisi gelap tabiat manusia; tetapi Tuhan mengetahui bahwa manusia dapat mencapai tingkat akhlak yang demikian tingginya, sehingga ia dapat menjadi cerminan sifat-sifat . Kata-kata, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, menyiratkan segi terang tabiat manusia ini.

Betapa ajaibnya kejadian manusia itu. Manusia dapat mencapai titik terakhir dalam kemajuan maupun kemunduran. Pada satu pihak bila mengejar cita-cita rohaninya ia bisa terbang tinggi ke angkasa meniti jenjang kenabian, lalu bercakap-cakap dengan Tuhan, Sang Khaliq dan Majikan-Nya. Dan di pihak lain apabila jatuh maka ia mengambil rupa ulama berjubah yang korup dan menjadi bagaikan laknat bagi manusia di atas ini. (Mirza Tahir , 1962)

Suatu hal yang ironis ialah, agama yang diharapkan akan menyelamatkan manusia dari kerusuhan serta penumpahan darah di bumi, justru jubah agama itu sendiri dinodai dengan lumuran darah manusia. Dimulai dari Invasi dinasti Ummayah ke Eropa, Perang Salib ke Yerusalem, Ekspansi Militer Ottoman, Ekspedisi Mughal di India, perang suci Hitler dan Nazi membasmi Yahudi, perang antara Serbia dan Bosnia, sampai perampok minyak bernama ISIS.

Dengan mengatasnamakan agama semua kezaliman itu diupayakan demi syahwat yang membuncah akan uang dan kekuasaan. Agama yang berfungsi sebagai tuntunan akhak, kini telah menjadi senjata pemusnah massal yang paling efektif untuk mencapai tujuan-tujuan politik dan ekonomi.

Sungguh nyata yang dikatakan oleh Mahatma Ghandi bahwa, “kejahatan paling keji dan paling kejam dalam sejarah dunia, dilakukan berkedok agama.” Sungguh benar pula yang dikatakan oleh Ibnu Rusydi bahwa, “Jika ingin menguasai orang-orang bodoh, bungkus yang batil dengan agama.”

Kenyataan ini kian memperkeruh kesalahfahaman golongan anti agama yang selalu mencela bahwa agama itu mengatasnamakan mengajarkan penumpahan darah yang tak beralasan. Namun sebenarnya agama tidaklah bersalah. Karena sejatinya agama bukanlah suatu organisasi politik. Agama datang untuk mengadakan perubahan rohani yang terjadi dalam lubuk hati sanubari dan erat hubungannya dengan ruh manusia (Mirza Tahir Ahmad, 1965).

Al-Qur’ān secara halus menyoroti kesalahfahaman ini dan menjelaskan berulangkali dengan menyebutkan fakta-fakta sejarah agama-agama bahwa semua perbuatan aniaya yang dilakukan atas nama agama pada umumnya adalah selalu timbul dari orang-orang yang sebenarnya tidak beragama, atau hanya menjadikan agama sebagai topeng, serta agama-agama yang dianutnya telah mengalami erosi karena tenggelam ditelan zaman.

Al-Qur’ān memperlihatkan gambaran kepada kita bahwa selalu ada saja kezaliman atas nama agama tetapi kezaliman itu selalu dilakukan oleh pihak yang tidak beragama atau yang tidak menyukai orang yang beragama. Selalu ada saja kekerasan atas nama Tuhan tetapi kekerasan itu dilakukan oleh orang-orang yang tuna dari konsep wujud Tuhan yang hakiki.

Lihatlah kisah Nabi Nuh a.s., ketika beliau menyeru manusia kepada petunjuk dan untuk berbuat baik, inilah jawaban kaumnya,

“Sekiranya engkau tidak berhenti, ya Nuh, niscaya engkau akan termasuk orang-orang yang dirajam.” (QS Asy-syu‘arā’ {42}:117)

Di sini Al-Qur’ān bermaksud mengemukakan kenyataan bahwa teror yang dilancarkan dengan dalih agama sebenarnya selalu ditujukan kepada para penganut agama yang benar dan bukanlah penganut agama yang benar yang berbuat aniaya.

Setelah Nuh a.s., bangkit pula Ibrahim as yang mengimbau kaumnya menuju jalan kebenaran dengan , cinta kasih, simpati dan budi pekerti luhur. Tangan beliau tidak menggenggam pedang, tidak ada cara kekerasan yang dipakai, namun lihatlah reaksi yang dilontarkan kepada beliau,

“Jika engkau tidak melepaskan kepercayaan agamamu dan tablighmu, maka kami akan merajam engkau.” (QS Maryam {19}:47)

Kata-kata yang digunakan orang-orang tidak beragama di zaman Nabi Nuh a.s., kata-kata itu pulalah yang dipergunakan orang-orang yang tuna agama kepada Nabi di zamannya. Dan untuk nabi ini, bukan saja api fitnah yang dinyalakan oleh para penentangnya, bahkan beliau betul-betul dilemparkan hidup-hidup ke dalam kobaran api.

Kita beralih kepada kisah Nabi Syuaib a.s., beliau dan para pengikutnya pun mendapatkan perlakuan yang sama, diserang, diancam dan ditakut-takuti. Al-Qur’ān merekam perkataan para penentang beliau,

“Wahai Syuaib! Pilihlah antara dua hal, kamu bersama pengikutmu akan diusir dari negeri ini atau kembalilah ke dalam agama kami. Jika tidak, kami akan melancarkan serangan lalu menyiksa kamu serta pengikutmu. Kamu harus mengubah perilakumu. Oleh sebab itu kami berikan kesempatan untuk meninggalkannya. Syuaib berkata, “Sekalipun hati kami tidak membenarkan agamamu?” (QS Al-A‘rāf {7}:89)

Nabi Syuaib a.s. dan para pengikut beliau hanya diberikan dua pilihan, ber’taubat’ kembali kepada kebenaran versi mereka, atau tetap dalam keimanannya dengan konsekuensi mengalami tindak persekusi dan pengusiran. Sebuah pola ancaman yang masih familiar ditemukan hingga hari ini.

Kemudian camkanlah bahwa sejarah Nabi Musa dan para pengikutnya pun mengalami perlakuan demikian, dan Firaun pun mengatakan apa yang telah dikatakan pemimpin-pemimpin gadungan kaum-kaum sebelumnya. Firaun memerintahkan kepada kaumnya,

“Hai para pengikutku! Hancurkanlah kaum dan para pengikut Musa dengan cara kekerasan dan bunuhlah -anak lelaki mereka, lalu biarkanlah hidup -anak perempuan mereka!” (QS Al-Mu’min {40}: 26)

Singkatnya, lihatlah bahwa atas nama agama tindakan kekerasan serta pembunuhan seperti itu tidak pernah dilakukan oleh para pengikut Nabi, tetapi selalu oleh penentangnya. Sedangkan Nabi serta pengikutnya selalunya menjadi korban dan sasaran penganiayaan.

Penganiayaan dan pemerkosaan hak yang berjalan sejak dahulu hingga sekarang atas nama agama, dan dikenal sebagai hukuman bagi orang-orang yang murtad sama sekali tidak tercantum dalam buku-buku samawi.

Ajaran semacam itu tidak terdapat dalam kitab-kitab suci yang diturunkan Tuhan. Jika sesudah wafatnya para Nabi, di masa ratusan tahun kemudian orang-orang khianat mengadakan perubahan dalam teks kitab itu, atau menambah ajaran yang membolehkan kezaliman karena dorongan nafsu mereka, maka kitab-kitab samawi tidak dapat disalahkan.

Agama bukanlah sumber kezaliman. Jika seandainya agama itu adalah sumber kezaliman maka seharusnya para Nabi dan pengikut-pengikut nabi di masa awallah sebagai yang paling penganiaya. Namun kenyataannya tidak demikian. Yang menjadi tolak ukur bukanlah orang-orang yang lahir jauh kemudian, yang mewarisi agama di masa ketika agama itu sendiri rusak karena kemerosotan akhlak manusia sendiri, lalu menuruti kemauan sendiri dan menghancur luluhkan agama.

Sejatinya tugas nabi dan fungsi agama adalah memanusiakan manusia. Melepaskan manusia dari cara-cara hewani menuju suatu derajat dasar peradaban. Lalu menjadikan manusia yang beradab itu menjadi manusia yang berakhlak luhur, yang mampu mengelola potensi-potensi insaniahnya agar diterapkan pada kondisi dan kesempatan yang tepat.

Dan tahapan yang terakhir ialah mengantarkan manusia yang berakhlak luhur itu menjadi orang-orang yang zuhud (soleh), yang dapat mencicipi kelezatan kedekatan serta perjumpaan dengan Tuhannya. (Mirza Ghulam Ahmad, 1896)

_
Postingan dari: QURETA.com

Tentang Penulis

Muhammad Hasyim