Opini

Jihad yang Dibutuhkan Saat Ini: Jihad di Era Kekinian

tulisan

Kecanggihan dunia sudah ada digenggaman

Kemudahan dirasa seakan mengedipkan mata

Namun, inilah yang kemudian mulai menguji bangsa

 

Saat ini, semua manusia dimanjakan dengan begitu banyak kemudahaan dalam hal kecanggihan teknologi. Bagaimana tidak, saat duduk manis di sofa rumah pun dengan menggengam smartphone di tangan, semua seakan mudah didapatkan. Inilah yang menjadi kenikmatan tersendiri bagi pengguna smartphone saat ini. Terlebih lagi Indonesia, menurut penelitian lembaga riset analis kawakan, Horace H. Dediu melaui blognya asymco.com, disebutkan menduduki posisi 5 besar negara dengan pengguna aktif smartphone.

Di satu sisi, dapat dikatakan kemajuan yang sangat besar untuk Indonesia. Namun di sisi lain ada suatu kekhawatiran yang besar pula menghinggapi. Mengapa tidak,  smartphone dapat berfungsi dengan baik jika digunakan dengan ‘smart’. Pintar menggunakan smartphone dapat dikatakan bijak menerima, memahami, bahkan membagikan kembali berita–berita yang tersebar luas karena efek dari smartphone.

Mari menelisik keadaan yang tengah terjadi di negeri kita saat ini. Betapa terkagetnya ketika publik dikejutkan dengan berita tertangkapnya grup Saracen yang sejatinya juga diakibatkan penggunakan smartphone secara tidak smart. Komisioner Kompolnas Bekto Suprapto menyebutkan penangkapan polisi terhadap grup Saracen menjadi jawaban atas beredarnya berita hoax (palsu) terkait dengan ujaran kebencian dan SARA selama ini.

Seakan tidak percaya, ternyata berita hoax serta ujaran kebencian dan SARA selama ini terakomodasi dan pastinya tersusun dengan rapi oleh grup Saracen yang tidak bertanggung jawab tersebut. Dan sebagian besar masyararakat Indonesia yang notabane penikmat serta pengguna smartphone selama ini pun kemungkinan besar ada yang ikut serta menyebarkan berita hoax produksi sarachen. Secara tidak langsung berita kebohongan itu juga terus menerus digaungkan kesana kemari oleh pengguna smarthone yag tidak bijak.

Banyak yang tidak memahami bahwa kebohongan yang terus dilakukan berulang – ulang pada akhirnya akan membuat banyak orang percaya. Seperti yang telah dinyatakan oleh Menteri Propaganda Nazi Josep Gobbelz;

“Sebarkan kebohongan berulang – ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang – ulang, akan membuat publik menjadi percaya bahwa kebohongan tersebut adalah suatu kebenaran.”

Ya, memang benar, faktanya, tidak sedikit tokoh – tokoh nasionalis yang berujung mendekam dibelakang jeruji besi karena ujaran berita hoax  yang terus digaungkan berulang – ulang. Belum lagi korban – korban Negara Islam semisalnya di Suriah dan Libia yang mudah dihancurkan karena berawal dari berita hoax atau rumor belaka. Lalu, dimana hati nurani kita? Harus lebih banyak lagikah korban  berita hoax yang pada akhirnya mempunyai nasib yang sama? Yang harus bertanggung jawab atas sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan? Harus lebih banyak negeri lain kah yang menderita dan hancur karena berita hoax? Diamkah kita?

Sejatinya, ada hal yang bisa kita lakukan menghadapi fenomena hoax yang sudah berkecamuk di bumi kita. Dimulai dari hal yang kecil, yaitu tidak serta merta membagikan berita yang belum tentu kebenarannya. Sehingga kita dapat menjadi pengguna smartphone yang bijak serta dapat mencegah terjadinya penyebaran berita hoax yang lebih brutal lagi.

Selain itu, sejatinya, ada hal yang lebih besar lagi yang dapat kita lakukan untuk menanggapi fenomena itu, yaitu dengan cara berjihad. Bukan, bukan yang berkonotasi negative menggunakan pedang, senjata, dan semisalnya. Dan juga bukan berjihad yang mengharuskan adanya tetesan darah yang bercucuran hingga nyawa yang mudah melayang begitu saja. yang saat ini dibutuhkan adalah jihad dengan pena.

Terlihat mudah dan sederhana memang. Tapi dampaknya?  Mari beranalogi sejenak, seandainya berita – berita hoax yang tengah menyebar dapat dipatahkan atau sederhanya dicoba untuk disanggah dengan data – data yang valid baik hanya dengan 1 lembar penjelasan saja atau hanya sekedar 1 paragraf saja. Tentunya, tidak sedikit orang yang dapat terpengaruh karenanya. Orang – orang penikmat hoax pun dengan mudah dapat diarahkan mejadi penikmat berita yang sesuai dengan fakta bukan kebohongan belaka. Sudah saatnya muda – mudi di Indonesia saat ini berfikir dengan cerdas untuk menghadapi badai hoax yang tengah terjadi saat ini. Diam tidak menjadikan diri menjadi emas lagi ketika kebohongan – kebohongan mulai merasuk ke seantero negeri ini. Sudah saatnya berjihad dengan pena menjadi jihad di era kekinian untuk menangulangi kebohongan – kebohongan yang ada.

Hal ini pun sudah lama dilakukan oleh Khalifah Jamaah Muslim Ahmadiyah yang ke-5 Hazrat Mirza Masroor Ahmad dengan membentuk MASQ (Majeslis Anshar Sultanul Qalam) pada tahun 2013 guna umtuk melawa tuduhan – tuduhan palsu seputar Islam. Pendiri Jemaat Ahmadiyah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad pun dikenal dengan gelar sultanul qalam (raja pena) yang telah membuat 13.000 artikel untuk mencounter tuduhan – tuduhan pada Islam di masanya. 82 karya beliau pun tercipta untuk memperlihatkan bagaimana keindahan Islam yang sebenarnya. Bukan Islam berdasarkan hoax belaka.

Jadi, tunggu apalagi, marilah dimulai dari diri sendiri untuk ikut serta berjihad di era kekinian, Yaitu Jihad dengan pena menggunakan tulisan – tulisan untuk memperlihatkan kebenaran sejati hingga kedamaian Islam seutuhnya. Teringat sabda Nabi besar Muhammad SAW

Sebaik – baik manusia adalah di yang bermanfaat bagi manusia yang lain” HR.Ahmad

Mari memberikan manfaat untuk orang lain walaupun hanya sekedar 1 tulisan yang bermanfaat. Itulah sejatinya Jihad yang dibutuhkan saat ini

sumber:

https://inet.detik.com/consumer/d-2485920/indonesia-masuk-5-besar-negara-pengguna-smartphone

https://news.detik.com/berita/d-3613788/grup-saracen-ditangkap-kompolnas-ini-jawaban-atas-berita-hoax

sumber gambar : http://frasebisu.blogspot.co.id/2011/05/kertas-dan-pena.html

 

Tentang Penulis

Mutia Siddiqa Muhsin

Tinggalkan komentar