Opini

Jihad Harta Sebagai Sumber Makanan Rohani

jihad
Penulis Hanif Ahmad

Kita hidup di alam nyata ini membutuhkan dua keadaan. Keadaan jasmani dan asupan untuk jasad jasmani sebagai sumber kehidupan. Ketika keadaan jasamani sehat, maka segala macam sumber asupan bisa diterima. Tetapi jika keadaan jasmani sakit, walau asupan itu ada tetapi tubuh jasmani menolaknya. Sumber asupan yang paling penting agar manusia itu bisa hidup normal adalah berupa sumber cahaya, sumber udara, sumber air dan sumber makanan.

Kenapa cahaya itu sebagai asupan yang penting dalam kehidupan? Karena tanpa sumber cahaya keadaan alam dunia ini adalah gelap gulita. Dengan adanya cahaya bahkan kita tahu betapa diri ini ganteng atau cantik. Begitu juga bagaimana kita tertarik kepada lawan jenis karena ada sumber cahaya.

Tetapi jika keadaan jasad jasmani kita sakit, misalnya mata sakit. Walaupun cahaya itu ada maka keadaan dunia itu, tidak bisa dinikmati secara sempurna, bahkan jika sakitnya parah tetap saja dunia ini gelap bagi Si Buta. Begitu juga jika hidung atau paru-paru kita sakit, walaupun udara itu ada, tetap saja asupan sumber kehidupan berupa sumber udara itu menjadi tidak sempurna dinikmati. Atau jika sumber udara itu tak bisa masuk ke paru paru, ya…. tamatlah kehidupan ini. Begitu juga jika mulut atau alat percernaan dalam keadaan sakit, maka segala macam sumber minuman dan makanan juga tidak nyaman untuk dikonsumsi. Belum lagi jika penyakitnya parah maka sebagian makanan juga menjadi pantangan untuk dikonsumsi.

Jadi secara lahiriah, hubungan keadaan badan jasmani dan asupan sumber kehidupan, memiliki keadaan keterikatan. Lalu bagimana halnya dengan keadaan alam rohani manusia, apakah mengenal dua keadaan ini, Keadaan ruh dan asupan untuk kehidupan ruh itu ?

Jawabannya adalah pasti tak jauh berbeda alias sama.

Bahwa setiap ruh haruslah terjaga dari berbagai penyakit. Agar asupan ruhaniah itu bisa bermanfaat untuk ruh itu sendiri. Ibarat sumber cahaya jasmani yang memberi petunjuk, maka sumber cahaya rohani juga memberi asupan kepada kehidupan batiniah. Ketika ruh batiniah itu sakit, bisa jadi asupan sumber cahaya ruhaniah itu tak bisa masuk atau bahkan tertolak.

Nah, bagimana ruh itu agar terjaga dalam keadaan sehat, tidak lain dan tidak bukan dengan berupaya meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala dengan sabar, dan semangat juang menyempurnakan tugas-tugas manusia yang sudah ditetapkan, yaitu hanya dan untuk beribadah kepada Tuhan Yang asli.

Di antara tugas-tugas yang sudah ditetapkan sebagai tujuan manusia diciptakan itu adalah berupa keimanan yang sebenarnya kepada Tuhan, mendirikan sholat dan membelanjakan harta di jalan Allah.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran:

“Hai orang-orang yang beriman, maukah Aku tunjukkan kepada kamu suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Hendaklah) kamu beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan berjuang pada jalan Allah dengan harta dan diri kamu. Demikian itu adalah lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (Ash- Shaff 61:10-11)

Perumpamaan ruh yang sehat itu adalah ketika ajal menjemput, itu bukanlah sebuah kematian tetapi satu fase untuk menuju kehidupan yang dijanjikan. Tetapi jika ruh itu mati, maka ketika ajal jasmani itu datang maka kematian itu bisa jadi kematian yang sesungguhnya. Karena keadaan ruh itu pun tak ada potensi menerima sumber makanan rohani ketika mereka hidup.

Seandainya ruh itu hidup dan sehat, lalu asupan makanan apakah yang bisa menjadi sumber kehidupan di alam akhirat itu. Makanan adalah itu berupa amal-amalan yang bagian dari pengejawantahan ketika orang-orang beriman hidup di alam nyata. Yaitu berupa ilmu yang bermanfaat, hadirnya anak yang soleh dan menafkahkan harta atau .

Ruh yang melalui fase ajal, akan masuk alam kubur dan menanti suatu masa hari kebangkitan. Bahwa meskipun ruh ini sehat, tetapi ruh itu juga perlu sumber makanan rohani. Salah satunya dari tiga sumber itu adalah bersedekah.

Mereka orang orang beriman yang bersedekah secara rutin itu, ibarat menyiapkan sebuah asupan makanan rohani yang akan menjadi sumber cahaya ketika meraka di alam kubur misalnya. Menjadi nafas kehidupan rohani ketika mereka dibangkitkan, menjadi minuman dan makanan ketika mereka menjalani kehidupan sogawi.

Sedekah atau pengorbanan itu, walau hanya menetes kecil tetapi jika rutin akan menjadi obat dahaga dan haus di kehidupan alam akhirat. Jangan biarkan waktu dan kesempatan hilang tanpa sedekah atau pengorbanan. Agar sumber makanan rohani alam akhirat tetap tersedia.

Lalu bagimana jadinya, bagi mereka yang memilih sepersepuluh, sepertujuh, seperlima atau sepertiga. Adalah seibarat menyediakan makanan rohani yang penuh dengan giji dan lezat, sehingga kesejahteraan rohani mereka begitu terjaga. Dan meraka pun ada dalam sorga yang sesungguhnya, seperti yang telah batin mereka cicipi ketika di alam dunia.

Semuanya hanya milik Allah, maka ketika Allah meminta dan hanya sebagiannya saja…… Berikanlah……dengan keikhlasan dan kesabaran.*

 

Tentang Penulis

Hanif Ahmad