Qureta Terorisme

Jihad Sesat di Media Sosial

ABU Sayyaf tidak sendirian. ISIS, Al-Qaeda, Taliban, melakukan hal serupa. Selain derajat “kekejian” yang nyaris sama, kesamaan lainnya, yakni penggunaan media sosial secara maksimal. Penyebaran gambar atau video tersebut bukan tanpa maksud. …✨?
Penulis Akhmad Reza

SEORANG lelaki dengan posisi bertekuk lutut dan tangan diikat ke belakang tidak tahu apa yang bakal menimpanya. Ia tidak menunduk atau melakukan perlawanan. Wajahnya menghadap ke depan tanpa ekspresi. Beberapa saat kemudian, muncul lelaki lain di belakang lelaki yang sedang berlutut.

Ia memegang sebuah benda kecil mengkilat. Dan tepat dugaan saya, itu sebuah pisau. Peristiwa selanjutnya tidak sanggup untuk saya ceritakan. Namun terlihat lelaki yang terikat itu sudah menemui ajalnya.

Disebutkan dalam keterangan video tersebut, lelaki yang tangannya diikat ke belakang itu adalah tentara Philipina yang disandera kelompok Abu Sayyaf. Itulah sekilas gambaran horor yang saya dan mungkin jutaan lainnya dapatkan dari . Video tersebut kebetulan menyelinap ke dalam akun saya. Dengan kata lain, terbuka kemungkinan orang lain pun yang jijik dengan kekerasan mendapatkan link yang sama entah dari mana sumbernya.

Abu Sayyaf tidak sendirian. ISIS, Al-Qaeda, Taliban, melakukan hal serupa. Selain derajat “kekejian” yang nyaris sama, kesamaan lainnya, yakni penggunaan media sosial secara maksimal. Penyebaran gambar atau video tersebut bukan tanpa maksud.

Media sosial dipilih karena nyaris tanpa sensor, tidak ada tembok redaksional dan bermodal kecil. Namun, efek media sosial belakangan bisa menjadi viral dan menyaingi media konvensional. Media sosial dinilai cukup efektif untuk menebarkan ketakutan dan kekhawatiran sebagai bagian dari psy-war.

Seperti konten pornografi yang sulit dimusnahkan, konten-konten yang mengampanyekan radikalisme dan terorisme terus saja diproduksi, bahkan direproduksi. Jadi, ketika siapa saja, dapat menyebarkan apa saja, dengan sarana apa saja, seperti blog, website atau akun-akun palsu tanpa narasumber yang jelas, maka jangan harapkan kaidah jurnalisme, seperti objektifitas, atau cover both sides diterapkan di sana.

Sebaliknya, media-media radikal memenuhi kaidah Charles Kimball tentang bagaimana sebuah agama menjadi jahat (2013). Kaidah pertama adalah absolute truth claim. Ini terjadi ketika suatu agama mengklaim kebenaran agamanya sebagai kebenaran yang mutlak dan satu-satunya.

Jika diperhatikan, media-media radikal menganggap agama lain sebagai virus yang mesti dimusnahkan. Pihak-pihak yang dianggap berseberangan memiliki sebutan “peyoratif” semisal “salibis” atau kaum “sepilis” sebuah plesetan dari sekularisme, dan liberalisme. Mereka menganut doktrin: “He who is not with me is against me.”

Kedua, ketaatan yang buta kepada pemimpin keagamaan mereka. Tokoh-tokoh semacam Osama bin Laden, Abu Bakar Al-Baghdadi—khalifah-nya ISIS—dilukiskan dalam media-media radikal sebagai sosok yang masum (nyaris tak berdosa), yang kata-katanya berubah menjadi sabda dan fatwa yang mesti diamini.

Media-media radikal menyebut pendukung gerakan mereka sebagai mujahid atau pelaku “jihad” dan para pelaku bom bunuh diri atau pelaku teror yang tewas sebagai syuhada, pejuang yang gugur di jalan Tuhan.

Kaidah ketiga, agama mulai gandrung merindukan zaman ideal, lalu bertekad merealisasikan zaman tersebut ke dalam zaman sekarang. Maka, konten-konten media radikal dijejali cerita-cerita zaman keemasan ketika sistem kekhalifahan dan kerajaan Islam masih menguasai . kemudian diperlakukan sebagai torehan tinta emas dan cacat yang mereka perbuat seakan-akan disembunyikan di bawah karpet agar tak nampak di permukaan.

Keempat, agama membenarkan dan membiarkan terjadinya tujuan yang membenarkan cara. Admin website radikal sudah terbiasa memosting gambar atau foto yang dicomot dari manapun, kemudian memberikan keterangan yang bertolak belakang dengan foto yang diambil. Atau fakta yang diputarbalikkan sedemikan rupa sehingga sesuai dengan kehendak si pembuat berita.

Ketika tujuan tercapai, tak dari mana sumber tersebut berasal, maka semuanya menjadi halal dilakukan. Adagium Josef Goebbels, Menteri Propaganda Era Nazi Hitler,  “Kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran” menjadi kebenaran sendiri di dunia maya. Pesan-pesan bernada propaganda ini lebih menghasilkan reaksi emosional daripada reaksi rasional.

Dan yang terakhir, kaidah kelima, yakni ketika perang suci telah dipekikkan. Konten-konten media radikal memberikan justifikasi bahwa sasaran pengeboman tempat-tempat tertentu di belahan dunia seperti di Paris, Brussel, Turki, dan terakhir di Lahore Pakistan adalah upaya perlawanan—atau dalam bahasa mereka sebagai jihad—terhadap kekuatan setan.

Dan definisi setan bagi mereka tidak terbatas pada pihak-pihak yang tidak seagama, namun juga termasuk kelompok yang tidak berada dalam garis perjuangan mereka, meski masih saudara seiman. Maka label “sesat atau kafir” begitu murahnya mereka obral.

Inilah realitas media radikal di dunia, tak terkecuali di tanah air yang semakin mengkhawatirkan. Sebuah Survey yang dibuat oleh Brookings Institution pada bulan Maret 2015 memperkirakan ada sedikitnya 46.000 akun Twitter yang dimiliki pendukung Negara Islam (dikenal dengan nama ISIS atau  ISIL), kelompok ektrimis radikal yang saat ini menduduki beberapa bagian di Syria dan Irak. Selain Twitter, Kelompok ini juga memposting video kekerasan dan menyebarkan materi dalam berbagai platform digital (icdw.org).

Mengakhiri tulisan ini, seruan aktivis , Johan Galtung, “Kaum moderat sedunia, bersatulah!”  layak menjadi solusi untuk melawan pengaruh radikalisme dan fundamentalisme. Karena seperti diungkap Ahmad Syafii Maarif, Mantan Ketua PP Muhammadiyah, “Semua corak fundamentalisme adalah musuh sejati , sekaligus musuh bebuyutan akal sehat!” (Gatra, 10 April 2008).

_
Qureta.com

Tentang Penulis

Akhmad Reza

Tinggalkan komentar