Opini

Kaburnya Sang Tersangka dan Hijrahnya Para Nabi

Para pendukung sang tersangka melancarkan propaganda ke publik untuk menunjukan kebenaran sang tersangka. Misalnya, mereka mengklaim bahwa kaburnya sang tersangka patut disamakan dengan hijrahnya para dari musuhnya. Mereka ingin menunjukan bahwa sang tersangka sedang mendapatkan perlakuan semena-mena dari polisi layaknya para , atau yang mereka sebut dengan kriminalisasi. Mereka pun menyindir, “Seandainya mereka hidup di jaman , lalu melihat hijrah, mereka akan berkata “ kok pengecut, cemen, harusnya dihadapi dong jangan lari”. Ini menunjukan ketidaktahuan pengetahuan mereka tentang kisah para yang hijrah.

Pertama , mengapa Rasulullah SAW pergi berhijrah ke Mekah? Karena pihak yang tidak menyukai keberadaan Islam memutuskan ingin menghabisi Rasulullah SAW dalam rapat yang disebut dengan Darun Nadwah. Di dalam rapat tersebut, ada yang berusul agar beliau saw dibelunggu dan ditahan. Ada yang usul agar diusir dari mekah. Ketika Abu Jahal mengusulkan untuk membunuh Rasulullah SAW, usul tersebutlah yang menjadi keputusan akhir. Karena itu, Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah untuk menyelamatkan dirinya dari pembunuhan.

Kedua, Nabi Musa as pun pergi berhijrah meninggalkan Mesir untuk menghindari proses penindakan hukum yang tidak adil dari Firaun. Nabi Musa as diputuskan untuk menerima hukuman mati karena telah membunuh seseorang dengan tidak sengaja. Nabi Musa as bahkan tidak diberikan kesempatan untuk membela dirinya. Karena itu, Nabi Musa as berhijrah ke kota Madyan untuk menyelamatkan dirinya dari pembunuhan.

Sekarang, siapakah yang ingin membunuh sang tersangka? Polisi hanya ingin memeriksa sang tersangka. Itu pun sesuai peraturan dan tata tertib yang berlaku. Sang tersangka pun boleh dilindungi oleh pengacaranya. Sang tersangka diberikan kesempatan untuk membela dirinya. Sama sekali tidak ada rencana pembunuhan disini. Sebaliknya, siapapun yang memberikan ancaman pembunuhan akan ditindak tegas oleh kepolisian. Karena itu, pantaskah pendukung sang tersangka mengatakan bahwaperginya sang tersangka ke Arab Saudi adalah bentuk hijrah? Tidak, tidak sama sekali. sang tersangka kabur, lari, dan tidak berani menghadapi proses penyelidikan dari kepolisian.

Sebenarnya, menyamakan sang tersangka dengan para Nabi pun sudah bisa dibilang bentuk penistaan terhadap Nabi itu sendiri. Bagaimana mungkin menyamakan kisah seorang Nabi yang terbebas dari dosa dengan sang tersangka yang hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan? sang tersangka sendiri sudah melanggar perintah Tuhan untuk mentaati pihak yang memiliki otoritas, termasuk kepolisian (An:Nisa: 59). Sang tersangka juga tidak mengikuti kisah para Nabi yang menghadapi semua proses hukum dengan gagah berani, seperti Nabi Ibrahim as ataupun Nabi Isa as.

Coba renungkan betapa beraninya Nabi Ibrahim as menghadapi ayahnya dan Raja Namrud yang zalim. Penduduk setempat ingin menghukum dan mengadili Nabi Ibrahim as di tempat terbuka karena telah menghancurkan berhala-berhala sembahan mereka. Mereka ingin menghukum Nabi as dengan membakarnya hidup-hidup. Apakah Nabi Ibrahim as kabur dari pengadilan ini? Sekali lagi, renungkan bagaimana Nabi Isa as pasrah menerima keadaan bahwa pengadilan telah memutuskan beliau as akan digantung di salib. Selama sembilan jam beliau as menangis dan berdoa dengan suara rintih “Ya Tuhan, mengapa Engkau meninggalkan daku? (Matius 24:45-46). Apakah Nabi Isa as kabur dari pengadilan ini?

Mengapa para Nabi as berani menghadapi pengadilan? Karena mereka yakin, bahwa Tuhan akan menyelematkan mereka. Api Nabi Ibrahim as menjadi dingin karena kuasa Tuhan. Nabi Isa as pun berhasil diselamatkan oleh Tuhan. Sebaliknya, sang tersangka tidak menunjukan keberanian dan kepercayaannya kepada Tuhan. Malahan sang tersangka mengajak mubahalah, yang bahkan tidak sesuai dengan apa yang dilakukan Rasulullah SAW sebelum bermubahalah. Akhmad Reza menulis latar belakang dari Mubahalah sebagai berikut:

“merujuk kepada peristiwa ketika serombongan orang Nasrani dari Najran beranggotakan sekitar enam puluh orang rombongan yang dipimpin oleh seseorang yang menamakan diri- nya Abdul Masih atau Al-Agib ini sengaja datang ke Madinah untuk berbincang-bincang dengan Rasulullah saw tentang masalah aqidah, yakni ketuhanan Isa Almasih, pendakwaan Rasulullah saw, dan tentang Keesaan Tuhan, selama beberapa hari. Maka terjadilah adu-argumentasi antara kedua belah pihak. Walaupun Rasulullah Saw telah memaparkan semua dalil-dalil dan bukti tentang kebenaran beliau, mereka masih tetap bersikeras pada prinsip mereka. Dalam berdiskusi mereka memilih cenderung agresif. Sekalipun mereka memahami dalil-dalil yang diterangkan Rasulullah Saw mereka tetap saja mengulangi tuduhan-tuduhan mereka kepada Rasulullah sebagai seorang pendusta dan pembohong.”( sumber )

Perhatikanlah situasi sebelum izin untuk bermubahalah turun. Rasulullah SAW terlibat dalam adu argumentasi yang panjang dengan pihak Nasrani. Kesimpulannya, kedua belah pihak harus bertemu satu sama lain dan saling beradu argumentasi. Sedangkan apa yang dilakukan sang tersangka adalah mengajak untuk bermubahalah tanpa beradu argumentasi di pengadilan. Sama sekali tidak masuk akal.

Sungguh tak layak apabila kaburnya sang tersangka disejajarkan dengan hijrahnya para Nabi as. Jangankan disamakan dengan Nabi, menyandang jabatan ulama pun rasanya kurang layak.

Sumber Gambar: http://adriaanvankeerbergen.com/ncr/2015/01/bird-flying-out-of-cage.html

 

Tentang Penulis

Fariz Abdussalam

Tinggalkan komentar