Opini

Kapan Nabi Isa as. Turun dari Langit?

nabi isa as

Sebelum seseorang percaya, tentu setiap orang telah memiliki pengetahuan yang diceritakan secara turun-temurun yakni tidak ada setelah Muhammad SAW dan masih hidupnya di langit. Karena dipercaya secara turun-temurun inilah, terkadang kita tidak akan berpikir kritis untuk memahami suatu ajaran atau kepercayaan tersebut.

Nabi Muhammad SAW sendiri yang bersabda bahwa tidak ada Nabi lagi di antara beliau dengan Nabi Isa yang kedua[1]. Permasalahannya adalah menurut Al Quran mustahil seseorang manusia hidup di langit tanpa kekuatan layaknya astronot. Dengan kata lain, Nabi Isa as. sudah wafat dan tidak mungkin dihidupkan lagi[2].  

Bagaimana kalau beliau hidup kembali? Begini,  Allah Ta’ala dalam Al Quran menjelaskan bahwasannya Nabi Isa as. diutus hanya untuk kaum Bani Israil. Pertanyaannya, apakah kita umat Muslim adalah kaum Bani Israil? Yang kedua, Allah Ta’ala menjelaskan di dalam Al Quran bahwasannya Nabi Isa as. itu berkitab Injil dan Taurat. Pertanyaannya, apakah kita umat Muslim akan kembali menggunakan dua kitab tersebut ketika Nabi Isa as. yang dulu datang? Jawaban kedua pertanyaan ini tentu saja tidak sama sekali.

Kesimpulannya, Nabi Isa as. yang kedua adalah berbeda dengan yang pertama. Nabi Isa as. yang pertama diutus hanya untuk Bani Israil dan yang kedua akan diutus oleh Allah Ta’ala untuk seluruh umat manusia. Siapakah sosok tersebut, dan mengapa para anggota Jamaah Muslim Ahmadiyah sangat yakin bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi Isa as. yang dijanjikan itu?

Sebelum melanjutkan, ada baiknya apabila sahabat bersiap menggunakan akal sehatnya. Karena Allah Ta’ala berfirman:  

“Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat” (QS.2:270).

Secara umum, semua Nabi yang benar memiliki tanda-tanda kebenaran yang sama yang diperlihatkan oleh Allah Ta’ala, termasuk Mirza Ghulam Ahmad. Beliau sendiri memberikan tantangan pada kita, “Ujilah tanda-tanda kebenaranku layaknya kalian menguji kebenaran Nabi-Nabi yang lainnya. Saya bersumpah tanda-tanda kebenaran yang sama akan terlihat” [3].

Mari sahabat telaah tanda-tanda kebenaran itu. Misal, setiap Utusan Allah pasti akan menang (QS. 58:21-22). Jika kita melihat sejarah, semua Nabi yang tercantum kisahnya dalam Al Quran mengalami kemenangan terhadap kaum-kaum yang berusaha menghentikan tugas mereka yakni menyebarkan pesan kepada umat-Nya sesuai petunjuk dari Allah Ta’ala. Meskipun kaum tersebut mengerahkan segala daya upaya, hanya kegagalan yang mereka raih. Inilah satu tanda yang nyata.

Contohnya bisa dilihat dari kisah Nabi Musa as. yang memberikan pesan kepada Firaun untuk menyembah Allah. Segala daya upaya dikerahkan oleh Firaun untuk membunuh dan melenyapkan Nabi Musa as. Hasilnya adalah kegagalan. Kemudian Nabi Isa as. yang ingin dibunuh dengan cara disalib oleh kaum Romawi.

Kemudian Nabi terakhir kita, Nabi Muhammad SAW yang berkali-kali menerima usaha pembunuhan, baik melalui perencanaan yang sangat baik atau lewat perang. Tidak ada satupun yang berhasil. Inilah satu tanda yang nyata.

Bagaimana dengan Mirza Ghulam Ahmad? Sejarah membuktikan dari sejak Mirza Ghulam Ahmad menyebarkan kabar gembira bahwa beliau adalah Nabi Isa as. yang dijanjikan,  Ahmadiyah telah tersebar di 210 negara, termasuk Indonesia [3].

Jamaah Muslim Ahmadiyah Indonesia sendiri akan memasuki usia yang ke-100 pada tahun 2025. Intinya tidak ada satupun yang berhasil menggagalkan tersebarnya petunjuk dari Allah Ta’ala yakni Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi Isa yang dijanjikan untuk seluruh umat manusia. Inilah satu tanda yang nyata.

Tanda yang kedua adalah para Utusan Allah selalu diolok-olok oleh pihak yang sangat antipati terhadapnya [4]. Nabi Muhammad SAW mendapat panggilan yang buruk dari Abu Jahal. Termasuk Mirza Ghulam Ahmad, yang menerima berbagai macam perlakuan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh siapapun dan terhadap siapapun.

Tanda yang ketiga adalah mereka memiliki kepribadian yang unggul atau luar biasa dibanding masyarakat sekitarnya. Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai seorang sangat jujur sebelum diangkat menjadi Utusan oleh Allah. Bagaimana dengan Mirza Ghulam Ahmad?

Mirza Ghulam Ahmad juga merupakan seorang pribadi yang sama sekali tidak tertarik pada nikmat dunia. Beliau bahkan menolak untuk menerima warisan dari ayahnya. Seluruh hidupnya beliau dedikasikan untuk mengkhidmati agama . Seorang yang bernama Maulana Sirajuddin (bukan seorang Ahmadi) berkata tentang masa muda Mirza Ghulam Ahmad:

“Pada tahun 1860-1861 tuan Mirza Ghulam Ahmad adalah bekerja di Bandar Sialkot, usianya ketika itu kira-kira 23 tahun, kami sudah menyaksikan dengan mata kepala kami sendiri bahwa pada masa mudanya beliau itu adalah seorang yang sangat saleh yang bertakwa dan dihormati” (Surat kabar Zamindar, 8 Juni 1908).

Beliau adalah salah satu pembela Islam yang sangat gigih melawan serangan-serangan dari para Ulama Kristiani dan Hindu. Kitab Al-Barahin Al-Ahmadiyah adalah sebuah kitab yang beliau tulis untuk membuktikan keunggulan agama Islam dibanding agama lainnya. Syekh Muhammad Hussain al Batawi, yang merupakan pemimpin salah satu organisasi Islam terbesar di India pada waktu itu menulis:

“Menurut pandangan dan pengalaman tiap-tiap kawan dan lawan, pengarang kitab Al-Barahin Al-Ahmadiyah itu tetap tegas di atas syariat Muhammad, orang bertakwa dan sangat benar keadaannya” (Majalah Isya’atus-Sunnah, Jilid VII, hal.9).

Sampai akhir hayatnya, beliau telah menulis buku sebanyak kurang lebih 80 buah untuk menyebarkan keunggulan agama Islam di atas agama lain. Tak salah apabila di dalam kitab Tazkirah, Allah menjulukinya sang Raja Pena dan menjuluki penanya sebagai Pedang Zulfiqar milik Ali ra. Inilah satu tanda yang nyata.

Tanda yang keempat tentu saja nubuwwat atau ramalan akan suatu kejadian yang akan terjadi di masa yang akan datang. Tentu saja Mirza Ghulam Ahmad telah berulang kali menerima wahyu-wahyu dari Allah mengenai masa depan.

Salah satunya adalah “Aku akan sampaikan syiar tablighmu hingga ke seluruh pelosok dunia.” Para sahabat, anak dan cucu kalian pun yang membaca tulisan ini akan menjadi bukti penggenapan dari wahyu tersebut. Inilah satu tanda yang nyata.

Tanda kelima tentu saja mukjizat-mukjizat yang luar biasa. Salah satu mukjizat yang diterima oleh Mirza Ghulam Ahmad adalah Allah Ta’ala mengaruniakan ilmu 40.000 akar kata Bahasa Arab hanya dalam semalam. Kemudian, Allah Ta’ala akan membuat Mirza Ghulam Ahmad berkhutbah dalam Bahasa Arab. Seolah-olah seperti malaikat yang berbicara melalui Mirza Ghulam Ahmad. Khutbah tersebut berjudul Khutbah Ilhamiyah. http://ahmadiyah.id/pustaka/buku/khutbah-ilhamiyah (Haqiqat-ul-Wahyi, Ruhani Khazain, Volume 22, halaman 375-376).

Uniknya, mukjizat Nabi Ibrahim as. Yang terselamatkan dari api yang membakar beliau terulang lagi oleh seorang murid Mirza Ghulam Ahmad. Yang mengalami ini adalah Maulana Rahmat Ali H.A.O.T. (Honour of Arabic Oriental Teacher), seorang mubaligh yang pertama kali membawa kabar suka tentang kedatangan Nabi Isa yang dijanjikan pada wujud Mirza Ghulam Ahmad ke Indonesia pada tahun 1925.

Suatu hari terjadi kebakaran di sekitar rumah misi beliau. Para penduduk pun berteriak agar Maulana Rahmat Ali H.A.O.T. segera keluar dari rumahnya untuk menyelamatkan diri. Apa kata beliau? “Aku tidak akan keluar. Masih Mau’ud as.(maksudnya Mirza Ghulam Ahmad) bersabda, “Api adalah hambaku, dan hamba dari para pengikutku.” Dengan keyakinan yang sangat kuat itulah, Allah Ta’ala tetap menyelamatkan Maulana Rahmat Ali H.A.O.T. dari api. Inilah satu tanda yang nyata.

Tanda keenam adalah siapapun yang mengaku Utusan Allah, Allah akan menimpakan azab yang keras bagi mereka(QS. 69:45-47).  Hadhrat Ibnu Arabi ra. telah menulis berkenaan dengan ayat ini:

“Dengan ayat “Lau taqawwala ‘alaina” ini, Allah Ta’ala telah memberi tahu kepada para hamba-Nya bahwa mereka akan mendapat azab yang sangat pedih kalau mereka mengaku mendapatkan wahyu atas nama Allah Ta’ala. Jadi, hukum ini berlaku bagi semua orang yang berdusta atas nama Allah Ta’ala” (Al-Futuhatul-Makkiyah, Juz I, hal.369)

Mirza Ghulam Ahmad mulai mendapatkan ilham dan wahyu dari Allah Ta’ala sejak tahun 1868 M. Pada tahun 1883 M beliau telah menyiarkan wahyu-wahyu itu kepada manusia pada umumnya melalui bukunya Kitab Al-Barahin Al-Ahmadiyah. Kemudian beliau hidup sampai tahun 1908 M.

Jadi, sesudah menyiarkan wahyu-wahyu dan ilham itu beliau hidup bukan saja 23 tahun seperti Nabi Muhammad saw (dari usia 40 tahun hingga kewafatan beliau berumur 63 tahun) bahkan sampai 25 tahun lamanya. Inilah satu tanda yang nyata.

Keenam tanda-tanda ini adalah tanda-tanda umum yang menandakan suatu kebenaran Utusan Allah yang terdapat pada seluruh Nabi. Sekarang, terdapat satu ayat Al Quran yang mengabarkan secara khusus tentang kedatangan Mirza Ghulam Ahmad ini pada surat Al Jumu’ah ayat 3 dan 4. Ayat ketiga yang berbunyi:

“Dia-lah Yang telah membangkitkan di tengah-tengah bangsa  yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda- tanda-Nya, dan mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata.”

Ayat ini menceritakan secara khusus tentang Nabi Selanjutnya, jika kita perhatikan ayat selanjutnya adalah.

“Dan, Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan, Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha bijaksana.”

Ayat ini secara khusus menceritakan tentang seorang Rasul yang akan datang kepada kaum yang belum bertemu dengan umat Rasulullah SAW, yakni di masa yang akan datang, dari antara mereka. Siapa “mereka” yang dimaksud?  Sebelum masuk ke penjelasan, saya akan menjawab pertanyaan “mengapa terjemahaan di kedua ayat tersebut berbeda (telah dan akan) padahal kata kerja yang digunakan adalah sama, yakni baat’sa?”

Dalam ilmu Bahasa arab, kata kerja baat’sa di ayat tersebut menggunakan tense fi’il madhi. Fi’il madhi di dalam AL Quran digunakan untuk menceritakan kejadian yang telah terjadi di masa lampau atau kejadian yang akan terjadi di masa depan. Sehingga pada ayat ke 3 dapat diartikan telah membangkitkan karena ayat tersebut menceritakan bahwa Allah telah membangkitkan Nabi Muhammad saw. ke dunia.

Lalu ayat ke 4 dapat diartikan sebagai akan membangkitkan pada kaum lain dari antara mereka karena para sahabat bertanya siapakah yang dimaksud dengan “ mereka”? Tafsir dari ayat ini terdapat dalam Hadits Bukhari jilid III pada halaman 1560:

“Abu Hurairah ra, berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw, lalu diturunkan kepada beliau Surah Jumu’ah pada kata-kata (Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum pernah bertemu dengan mereka). Saya bertanya, siapa yang dimaksud mereka wahai Rasulullah? Beliau tidak menjawab hingga saya menanyakan hal itu sampai tiga kali. Di antara kami sedang duduk Salman Al-Farisi dan Rasulullah SAW meletakkan tangan beliau di atas pundak Salman, lalu beliau bersabda: Bila iman telah terbang ke bintang Tsurayya, seorang laki-laki atau beberapa orang laki-laki dari antara mereka ini yang akan mengambilnya kembali.” (maksudnya adalah dari Persia karena Salman Al Farisi dari Persia).

Karena itu, pada ayat keempat dapat diartikan Allah SWT akan membangkitkan seorang laki-laki dari Persia sebagai Utusan Allah yang akan mengambil iman para umat Islam yang telah terbang ke bintang Tsurayya. Dan utusan tersebut adalah tidak lain tidak bukan yakni Nabi Isa yang dijanjikan Mirza Ghulam Ahmad yang berasal dari Persia.

Terakhir, tanda-tanda yang mengkonfirmasi bahwas Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi Isa yang dijanjikan adalah terwujudnya tanda-tanda datangnya Nabi Isa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW dan terdapat beberapa persamaan di antara Nabi Isa as. yang dulu dengan Mirza Ghulam Ahmad. Tanda-tanda dan kisah ini dapat dibaca pada buku berjudul Kebenaran Al Masih Akhir Zaman karangan Maulana Rahmat Ali H.A.O.T. di http://ahmadiyah.id/pustaka/buku/kebenaran-almasih-akhir-zaman.

Salah satu persamaan di antara Nabi Isa as. yang dulu dan sekarang adalah sama-sama mengumpulkan domba-domba yang tersesat. Bedanya, Nabi Isa as. yang dulu hanya mengumpulkan domba-domba yang merupakan umat Nabi Musa as. yakni umat Yahudi. Sedangkan Mirza Ghulam Ahmad sebagai perumpamaan Nabi Isa adalah mengumpulkan domba-domba yang berasal dari umat Nabi Muhammad SAW.

Nabi Isa as. yang kedua ini akan mengumpulkan atau menyatukan domba-domba seluruh umat manusia yang tersesat karena belum masuk Islam DAN umat Muslim yang ‘berpencar’ karena terpecah menjadi 73 golongan menjadi satu padu di bawah ajaran Islam yang murni.

Jadi kapan Nabi Isa as. yang dijanjikan akan datang? Jawabannya sudah datang sejak 129 tahun yang lalu dalam wujud Mirza Ghulam Ahmad.

catatan: Penomoran ayat dalam artikel menghitung Basmallah sebagai ayat pertama.

Referensi

[1] Shahih Bukhari jilid 4 nomer 651

[2]Ali, Rahmat. Kebenaran Al Masih Akhir Zaman. Neratja Press. 2017. dapat diakses di http://ahmadiyah.id/pustaka/buku/kebenaran-almasih-akhir-zaman.

[3] Khutbah Jumat 17 November 2017. Mirza Masroor Ahmad. Dapat diakes di https://www.alislam.org/archives/sermons/mp3/FSA20171117-ID.mp3

[4] Al Quran suci (6:11, 35, 112-113; 13:33; 14:10-14; 15:11-12; 16:102, 114; 17:48; 21:42; 22:43-47; 23:45; 25:9, 32; 36:8, 31; 38:15; 43:8-9)

Sumber Gambar: https://beautyminute.net/2013/04/18/thursday-prayer-for-you-gifts-of-light/

Tentang Penulis

Fariz Abdussalam

Tinggalkan komentar