Al-Qur’ān Politik

Kasus Ahok, Memaafkan Adalah Teladan Agung Rasulullah Saw

rasulullah
Penulis Denz Asad

Awal mulanya saya tidak ada keinginan untuk ikut beropini tentang yang berkenaan dengan ucapan mengenai surat Al Maidah ini.  Hal ini karena sudah banyak orang yang membahasnya dan sebenarnya hal ini sangat kental nuansa politiknya sehingga rentan polemik. Namun tambah ke sini, saya merasa ngeri karena permasalahannya ternyata semakin membesar,  di blow up sedemikian rupa dan semakin mengancam keutuhan kita sebagai bangsa yang menjunjung persatuan dan kerukunan antar umat beragama.

Perkataan Ahok sewaktu di kepulauan seribu itu memang memancing pro kontra terutama karena membawa bawa surat Al Maidah ayat 51. Umat Islam pun bereaksi keras, karena terkesan Ahok tidak menghormati ayat tersebut. Banyak sudah tulisan dan artikel yang kemudian mengklarifikasi apa yang di katakan Ahok. Mulai dari adanya “pemelintiran” kata-kata ahok oleh pihak lain, yang dihilangkan satu kata sehingga membuat makna kata-kata Ahok menjadi berbeda dan mengenai  Terjemah serta tafsir kata “Aulia” dari para mufasirin yang tidak mengartikan pemimpin melainkan sekutu, atau sahabat/teman dekat.

Saya sebagai orang muslim akan berlaku sama, merasa ‘terusik’  jika mendengar jika ada seseorang yang “mengganggu” agama saya. Namun saya selalu ingat juga pesan junjungan umat Islam, Nabi Muhammad SAW bahwa kita harus bertabayyun (mencari konfirmasi, kebenaran sebuah berita) dan berfikir jernih dalam menghadapinya. Terlebih lagi kita harus mengutamakan Ahlak mulia dalam setiap hal karena itulah suri tauladan nabi tercinta.

Berita terakhir menyebutkan bahwa Ahok meminta maaf secara resmi di media kepada umat Islam mengenai perkataannya di kepulauan seribu itu. Ahok mengatakan perkataannya bukan bermaksud untuk menyinggung umat Islam. Walaupun masalah ini masih dalam perdebatan, tapi saya hargai dan hormati sekali apa yang dilakukan Ahok untuk meminta maaf. Suatu langkah yang cukup bijak yang dilakukan Ahok untuk menenangkan umat Islam yang telah keburu kesulut emosinya, terlepas dari layak atau tidaknya perkataannya kemarin itu.

Namun saya kembali menelan ludah pahit ketika tanggapan beberapa ulama atau rekan muslim lainnya yang sepertinya memandang rendah permintaan maaf tersebut dan malah tetap ingin “menghukum” Ahok. MUI pun bereaksi yang kurang lebih sama, yaitu menyatakan bahwa Ahok telah bersalah melecehkan Al Qur’an dan meminta pihak berwajib memprosesnya. Dan hal yang membuat saya semakin miris, di tayangan ILC terakhir (tgl. 11/10/16), ada satu ulama dari beberapa yang hadir di acara tersebut mengatakan, secara Hukum Islam Ahok itu harus dibunuh, dipotong tangan dan kaki dan dikeluarkan dari Indonesia. Saya tidak bisa membayangkan kalau hal ini benar-benar diterapkan disini, betapa menakutkannya Islam itu dan apabedanya kita dengan ISIS yang tega menyiksa dan membunuh orang lain dengan kejam?

Bagi saya hal ini secara tidak lazim menjadi begitu dibesar-besarkan dan apa yang dikatakan oleh ulama-ulama itu bukannya menolong permasalahan ini, malah memperparahnya. Persoalan ini takutnya dimanfaatkan oleh pihak- pihak  yang tidak bertanggung jawab untuk tujuan politik atau memecah belah masyarakat Indonesia dan menjadikan kacau balau. Kita harus secara bijak dan arif melihat permasalahan ini. Karena, pertama, hal ini masih dalam perdebatan mengenai apakah benar Ahok menghina Al-Qur’an atau konteksnya adalah adanya “pemelintiran” pernyataan. Kedua, Ahok dengan tulus sudah meminta maaf dan menyebutkan  perkataannya sebenarnya bukan bermaksud untuk menghina, Ketiga, Ahlak fadhilah Islam yang dipraktikan  Rasulullah adalah, ketika seseorang meminta maaf dan berjanji sungguh hati tidak mengulanginya, maka wajib kita untuk memaafkannya.

Lebih lanjut lagi mengenai memaafkan, dalam sebuah Khutbah Jum’at, Khalifah Muslim Ahmadiyah, Mirza Masroor Ahmad, menjelaskan mengenai pentingnya pemberian maaf kepada siapapun dengan maksud untuk  perbaikan. Kesalahan yang telah dilakukan oleh seseorang tidak selamanya dan  tidak semuanya harus dibalas dengan hukuman, seringkali di balas dengan pengampunan dengan memperhatikan manfaat dan kebaikan yang lebih besar. Nabi muhammad dalam sebuah riwayat kata beliau, pernah berniat menghukum mati seseorang bernama Habbar bin Aswad karena telah membunuh putri nabi Zainab. Diceritakan Habbar menyerang Zainab menggunakan tombak dan melukai janinnya dan akibat serangan ini Zainab mengalami keguguran. Akibat luka ini pulalah kemudian membuat Zainab meninggal dunia.  Hal inilah yang membuat Rasulullah memutuskan untuk menghukum mati Habbar.

Pada saat penaklukan kota Mekkah oleh kaum Muslimin, Habar lari lalu bersembunyi entah
dimana, tetapi tatkala Rasulullah saw kembali ke Madinah, Habbar hadir di hadapan Rasulullah saw dan sambil memohon belas kasih berkata, “Sebelumnya saya telah lari karena takut. Dosa saya sudah besar. Tetapi pikiran akan sifat pemaaf Tuanlah yang membawa saya kembali (datang) ke sini. Meski saya sudah layak untuk dihukum. Wahai Nabi Allah, kami tadinya berada dalam kejahilan dan kemusyrikan kemudian dengan perantaraan Tuan, Allah telah memberikan petunjuk kepada kami dan menghindarkan kami dari kehancuran. Saya mengakui pelanggaran-pelanggaran saya, maka maafkanlah kejahilan saya”. Maka dari itu Rasulullah saw memaafkan pembunuh anak perempuan beliau itu dan beliau bersabda, “Hai Habbar, pergilah, saya telah memaafkan engkau. Ini merupakan kebaikan Allah bahwa Allah telah menganugerahkan taufik [kepada engkau] untuk masuk Islam. Dan memberikan taufik untuk bertaubat hakiki.” Ketika beliau melihat bahwa perubahan telah terjadi untuk menjadi orang yang lebih baik, beliau memaafkan orang yang bahkan merupakan pembunuh anak perempuan beliau saw sendiri.

Nah dari riwayat diatas, untuk kesalahan yang nyata dan besar sekalipun, Rasulullah memberikan maafnya dengan tulus iklash , apalagi kesalahan kesalahan yang tidak disengaja dan tidak dimaksudkan untuk itu. Saya mengajak saudara-saudara muslim untuk tenang, berlaku dengan adil dan tetap ber-ahlakul karimah. Jangan mudah tersulut emosi karena Islam adalah agama yang mengedepankan perdamaian, kebaikan dan manfaat. Kita harus berfikir dengan jernih karena jika kita mengedepankankan emosi maka dampak buruk ke depannya akan semakin menjadi. Jangan mudah terprovokasi oleh siapapun dan berpegang teguh terus pada Al- Qur’an dan Sunah nabi tercinta kita, Muhammad SAW secara utuh.

Sumber Gambar: http://www.ummi-online.com/memaafkan-kesalahan-suami-ini-4-caranya.html

Tentang Penulis

Denz Asad

4 komentar

Tinggalkan komentar