Opini

Kata ‘Ahmad’ Ada di Dalam Injil [Bagian 1]

injil
Penulis Ammar Ahmad

Salah satu pembahasan panjang yang masih diperdebatkan antara dan adalah ada tidaknya kata dalam . Umat Islam berkeyakinan bahwa Nabi Isa as/ as telah menubuatkan akan kedatangan Nabi Muhammad saw sebagaimana tertera dalam Al-:

“Dan ingatlah ketika Isa Ibnu Maryam berkata: ‘Hai Bani Israil! Sesungguhnya aku Rasul Allah kepadamu sekalian, membenarkan apa yang ada sebelumku yaitu Taurat, dan memberi kabar suka tentang seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang bernama Ahmad’…” (QS.Al-Saff : 7)

Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi Ummi, yang mereka dapati tercantum di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka…” (QS. Al-A’raf : 158)

Ayat-ayat inilah yang membuat umat Islam yakin bahwa Nabi Muhammad saw yang nama lainnya adalah Ahmad, telah dinubuatkan didalam Injil yang dibawa oleh . Namun disisi lain bila kita membaca ke-empat Injil Kanonik yang terdapat dalam / sekarang ini maka tak ada satupun kata Ahmad didalamnya.  

Pada tulisan ini penulis akan memaparkan beberapa kajian yang menyatakan bahwa kata Ahmad ada didalam Injil. Sedangkan ayat Injil yang diperdebatkan dalam hal ini ialah Injil Yohanes 14:16

κἀγὼ ἐρωτήσω τὸν πα.τέρα καὶ ἄλλον Παράκλητος δώσει ὑμῖν, ἵνα μεθ’ὑμῶν ᾖ εἰς τὸν αἰῶνα

“Kagō erōtaō tou patēr kai allos paraklētos didōmi humin hina meta humōn eis tou aiōn eimi” (bahasa Yunani)

“Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.”

Untuk mengetahui adanya kata Ahmad didalam Injil maka perlu bagi kita mengkaji Injil dalam bahasa aslinya karena Injil dalam bahasa Indonesia tidak mencantumkan kata Ahmad. Namun perlu diingat bahwa bahasa manuskrip Injil yang paling kuno saja sudah dalam bentuk terjemahan yakni dalam bahasa Yunani, bukan lagi bahasa Aram atau Ibrani yang menjadi bahasa Yesus as.

Artinya Injil kuno saja sudah dalam bentuk terjemahan, telah umum kita ketahui bahwa suatu terjemahan tidak mungkin dapat menyaingi keindahan dan keaslian kata-kata bahasa sumbernya karena tiap-tiap bahasa memilki keterbatasan dan cirinya masing-masing. Dengan demikian kita tidak tahu secara pasti istilah bahasa Ibrani untuk kata “Penolong” atau “Penghibur” (Parakletos) yang digunakan pada ayat ini.

Oleh karena itu mari kita bahas bahasa Yunani dari kata “Penolong” yang digunakan dalam ayat diatas yakni Parakletos. Kata ini pun diterjemahkan menjadi “Penghibur” dalam Injil Yohanes 16:7.

Parakletos adalah Kata yang Asing

Imam Katolik Roma asal Amerika yang juga adalah pakar Bibel terkemuka di era-nya, Raymond Edward Brown, Ph.D (1928-1998), dalam bukunya berjudul “The Anchor Bible: The Gospel According to John XIII-XXI” Volume 29 (hlm. 1135) menulis:

“Kata paraklētos adalah asing dalam Perjanjian Baru pada literatur Yohanes. Dalam 1 Yohanes 2: 1, Yesus adalah seorang Paraklētos (bukan sebuah gelar), melayani sebagai pengantara Surgawi dengan Bapa. Dalam lima bagian di Injil Yohanes (14: 15-17, 26; 15: 26-27; 16: 7-11, 12-14), gelar Paraklētos diberikan kepada seseorang yang bukan Yesus, maupun seorang pengantara, ataupun di Surga.

Tradisi Kristen telah mengidentifikasi figur ini sebagai Roh Kudus. Tetapi para sarjana seperti: Spitta, Delafosse, Windisch, Sasse, Bultmann, dan Betz telah meragukan apakah identifikasi ini benar untuk gambaran asli dan telah menyarankan bahwa Paraclete dulunya suatu figur keselamatan independen, kemudian dibingungkan dengan Roh Kudus.”

Dalam Perjanjian Lama, kata Ibrani yang umum digunakan untuk suatu pekerjaan atau perbuatan (verba) menghibur adalah “נָחַם” (naḥam). Sedangkan bentuk nominanya adalah “מְנַחֵ֖ם” (mənaḥêm) yang artinya “penghibur”, ketika ada penambahan prefiks nomina “מ” (Mēm) yang bertindak sebagai preposisi.

Dalam Perjanjian Lama, kata “mənaḥêm” digunakan sebanyak 7 (tujuh) kali, yakni dalam Pengkotbah 4: 1, Ratapan 1: 2, Ratapan 1: 9, Ratapan 1: 16, Ratapan 1: 17 dan Ratapan 1: 21.

Dalam LXX Septuaginta (Naskah kuno Perjanjian Lama berbahasa Yunani), semua kata Ibrani “mənaḥêm” secara konsisten telah diterjemahkan sebagai “παρακαλων” (parakalōn), dan bukan “Paraklētos”. Kata “parakalōn” berasal dari kata “παρακαλεω” (parakaleō) atau bisa juga “παρακαλεω” (parakalō) jika penulisannya menuruti aturan kontraksi verba, dan diakhiri sufiks “ον” (on), yang menuruti aturan kontraksi verba, huruf vokal “ο” pada sufiks “ον” tidak dituliskan karena bertemunya dengan diftong “ω”.

Prof. John Williams White dalam bukunya berjudul “First Greek Book” (hlm. 70) menulis:

ε + ω = ω

ο + ω = ω

Sementara itu, Kristen mengklaim dalam leksikonnya bahwa kata “παράκλητος” (paraklētos) berasal dari kata “παρακαλεω” (parakaleō) dengan sufiks adjektiva verba “τος” (translit: tos). Namun yang demikian ini sangatlah janggal. Sebab, pada kata “παρακαλεω” (parakaleō) terdapat huruf vokal “α” (Alfa) setelah konsonan “κ” (Kappa), dan ini tidak terdapat pada kata “παράκλητος” (paraklētos). Artinya kata Parakletos sendiri belum pasti benar sebagai padanan kata Ibrani Perjanjian Lama untuk kata penolong atau penghibur yakni  mənaḥêm.

Paraklētos Bukan Berasal Dari Bahasa Aram

Dalam Pešiṭṭā, kita melihat bahwa kata “Paraklētos” telah diterjemahkan sebagai “ܦܪܩܠܛܐ” (P’araqlitā) dari kata “ܦܪܩ” (paraq) yang mengandung arti “menyelamatkan dari” atau “membebaskan dari” dan kata “ܠܛܐ” (lita) yang mengandung arti “yang terkutuk”. Gagasan Kristen bahwa Yesus Kristus adalah “Juru Selamat yang membebaskan manusia dari kutuk Hukum Perjanjian Lama” tampaknya telah membuat para penerjemah Pešiṭṭā berpikir bahwa kata “Paraklētos” berasal dari bahasa Aram.

Dalam Targum Yahudi, kita akan menemukan sejumlah kata “P’araqlitā” dalam berbagai bentuk. Sehubungan dengan penggunaan kata “P’araqlitā” ini, Rabi Kaufmann Kohler (1843-1926) dalam “The Jewish Encyclopedia” Volume IX (hlm. 514) menulis:

Rabbinical term adopted from the Greek παράκλητός (= “advocate,” “intercessor”)

Terjemah:

Istilah Rabinik diadopsi dari Greek παράκλητός (= “pembela,” “perantara”)

Kita tahu bahwa Targum merupakan penjelasan, parafrase, dan pegembangan lisan mengenai Perjanjian Lama bahasa Ibrani ke ke dalam bahasa Aram. Namun mengenai istilah “P’araqlitā” yang dikutip dalam Targum, sebagaimana dikatakan oleh Rabi Kaufmann Kohler dalam “The Jews Encyclopedia”, bukanlah istilah bahasa Aram, melainkan dipinjam dari bahasa Greek/Yunani. Dengan demikian, kata “Paraklētos” bukanlah berasal dari bahasa Aram ataupun dialek Suryani.

Kata “P’araqlitā” tidak dikenal dalam kosakata bahasa Aram maupun bahasa penerusnya – Suryani, melainkan hanya terdapat dalam Pešiṭṭā setelah menggabungkan dua kata Suryani, “paraq” dan “lita”, sehingga akhirnya memiliki makna filosofis yang kemudian dikaitkan dengan misi Yesus Kristus dalam keimanan Kristen.

Referensi:

    1. Al-Quran Terjemah dan Tafsir Singkat, JAI cet. Kelima tahun 2014 halaman 1905-1907

  • Mukhayat MS, Ali.1999.Edaran Berkala Kristologi No.24.Tasikmalaya

  1. http://hermeneutika-bibel.blogspot.com/2015/11/siapa-parakletos.html diakses pada 18 08 2018

Sumber Gambar: https://rodiagnusdei.wordpress.com/2018/01/06/iacob-berghianu-de-la-declaratiile-balfour-1917-si-trump-2017-la-al-treilea-templu-evreiesc/bible-read-jerusalem-foto-mode-of-life/

Tentang Penulis

Ammar Ahmad