Opini

Kata ‘Ahmad’ Ada di Dalam Injil [Bagian 2]

alkitab
Penulis Ammar Ahmad

Paraklētos Bukan “Roh Kudus”

Dunia meyakini bahwa “Penolong” (Paraklētos) yang disabdakan Yesus dalam Yohanes 14: 16 adalah “Roh Kudus”, dengan mengacu pada Yohanes 14: 26

Injil Yohanes 14: 26

tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

Jika kita menyimak sabda Yesus berikut ini, sesungguhnya sudah jelas bahwa kedatangan “Paraklētos” yang dinubŭwahkan itu bersyarat:

Injil Yohanes 16: 7

Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur (Paraklētos) itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.

Dengan demikian, nubŭwah kedatangan “Paraklētos” barulah tergenapi apabila Yesus telah pergi dari dunia. Sedangkan “Roh Kudus” sendiri sudah ada selama Yesus masih tinggal bersama murid-muridnya, bahkan sebelum Yesus dilahirkan di muka bumi. Terbukti dari ayat berikut ini,

Injil Lukas 1: 41-42

Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: ‘Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.’ (Kejadian ini sebelum Yesus as lahir)

Injil Lukas 3: 21-22

Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atasnya (Yesus)

Melihat begitu asingnya kata “Paraklētos” dalam kosakata Koine Greek serta bukan pula berasal dari bahasa Aram, maka sangat mungkin sekali bahwa kata ini merupakan korupsi dari kata “Περικλειτός” (Perikleitos).

Charles Alexandre dalam bukunya berjudul “Dictionnaire Grec-Français” (halaman 1102) menulis bahwa kata Greek “Περικλειτός” (Perikleitos) artinya “très-célèbre” atau termasyhur.

Kata “Περικλειτός” (Perikleitos) berasal dari kata “κλειτός” dengan preposisi “περι”. Masih dalam bukunya Charles Alexandre berjudul “Dictionnaire Grec-Français” (halaman 789), kata “κλειτός” mengandung definisi “fameux” (masyhur) atau “illustre” (mulia). Definisi ini sangat sesuai dengan makna dari nama Muḥammad atau Aḥmad, yang artinya terpuji. Sehingga banyak para pengkaji muslim yang berpendapat bahwa kata yang sebenarnya pada ayat Injil Yohanes 14:16 bukanlah Parakletos (Penolong,Perantara dan Penghibur) tapi Perikleitos (Termasyhur, Terpuji).

Menurut mereka kata Parakletos memang tak bersesuaian makna dengan Ahmad sehingga mereka berupaya keras bahwa kata yang Yesus gunakan bukanlah Parakletos. Namun uniknya ada yang berpendapat bahwa kata Ahmad pada hakikatnya juga bisa sesuai dengan makna kata Parakletos, berikut ini penjelasannya.

Kajian Mengenai Parakletos Menurut Cendekiawan

Pengkaji yang pertama kali mengemukakan pendapat bahwa Parakletos adalah Ahmad adalah Ibnu Ishaq (wafat 767 Masehi), yang menurut tradisi adalah cucu dari seorang pemeluk agama Kristen. Ibnu Ishaq dalam bukunya “Sirat Rasul” yang disunting kemudian oleh ibn Hisham, beranggapan nubuatan Muhammad ini merujuk pada kata Aramik dari Parakletos yaitu “ Menahemna ” yang diyakini sama makna dan bunyi dengan kata Muhammad. 


Buah karya Ibnu Ishaq sampai kepada kita melalui kompilasi Ibnu Hisham, dalam buku “Sirat An-Nabawiyyah” (The Life of Prophet Mohammed). Ibnu Ishaq menemukan kutipan ayat Injil itu dalam kutipan Bahasa Suryani (Aram) . Beliau berkesimpulan sebagai berikut: Wa al-Munhamana, bi as-Suryaniyat, ” dan “Munhamana itu bahasa Suryani”. Muhammad, wa huwa bi ar-Rumiyat: al-Baraqlithus, sholallahu ‘alaihi wassalam,” artinya, “Muhammad, dalam bahasa Yunani adalah Baraqlithus (Parakletos), semoga sholawat dan salam atas beliau”.

 

Mantan Pendeta Kristen, Abdullah Sahid Ragil Wibowo dalam bukunya Benarkah Yesus Mati Disalib? Halaman 20 menulis bahwa Parakletos (Penolong dan Penghibur) dalam Injil Yohanes berbahasa Jerman cetakan tahun 1823 diterjemahkan menjadi Ihmed yang artinya ‘terpuji’.

Prof. Dr. Hazairin, SH. dalam bukunya Isa Almasih dan Roh terbitan Tintamas, Jakarta (1969) halaman 20-21 menulis bahwa arti Parakletos dalam bahasa Yunani adalah:

  1. Orang yang diminta pertolongannya untuk membela dalam suatu perkara atau untuk memberikan kesaksian yang benar lagi menguntungkan dan bukan memberatkan;
  2. Orang yang berdo’a bagi keselamatan diri dan nama baik orang lain;
  3. Orang yang menghibur dengan kata-kata dan menggembirakan dengan kata-kata pujian.

Pada halaman 21-22 buku tersebut beliau menyebutkan bahwa Ahmad dan Muhammad adalah nama sifat yang berarti ‘seseorang yang terpuji’. Tetapi kata Ahmadu sebagai kata kerja artinya ‘aku memuji’. Seseorang yang memuji dengan sendirinya adalah seorang ‘saksi yang baik’ dan ‘pembela yang baik’ (Parakletos) dengan memuji kebenaran sebagai kesaksian, sehingga Ahmad juga mengandung arti penghibur, saksi dan penolong (Parakletos).

Kenapa demikian ? karena puji-pujian yang disenandungkan secara bijaksana memang dapat menghibur seseorang yang sedih dan tertekan.

Maka Ahmad juga dapat berarti Parakletos. Saat Perjanjian Baru pertama kali diterjemahkan kedalam bahasa Arab, para penterjemah menterjemahkan Parakletos dengan kata Ahmad, tetapi direvisi oleh R. Sale yang menghapuskan terjemahan yang dianggap berbahaya itu (halaman 22).

Jadi menurut beliau Ahmad memilki makna yang luas sehingga mencakup makna Parakletos maupun Perikleitos. Jadi terlepas mana kata yang benar Parakletos ataukah Perikleitos keduanya bisa dimaknai Ahmad dalam bahasa Arab.

Jack Finegan, seorang ahli ilmu agama Kristen kenamaan, mengatakan dalam bukunya, Archaeology of World Religions : “Jika dalam bahasa Yunani kata Parakletos sangat cocok dengan kata Perikleitos, maka kata itu berarti nama-nama Ahmad dan Muhammad”.

Terlebih lagi “The Damascus Document” suatu naskah yang ditemukan menjelang akhir abad ke-19 dalam sinagog Yahudi di Ezra, Mesir kuno (halaman 2) menyebutkan bahwa Yesus telah menubuatkan kedatangan ruh suci dengan nama Emeth: Dan dengan Almasih-Nya Dia memberitahukan kepada mereka Ruhulkudus-Nya. Sebab dialah Emeth ialah, Al-Amin (Si jujur) dan sesuai dengan nama-Nya demikian pula nama mereka…Emeth”

Emeth dalam bahasa Ibrani berarti “kebenaran” atau si jujur dan orang yang kebaikannya dawam (Strahan’s Fourth Gospel, 141). Persamaan bunyi lafal antara Ahmad dan Emeth telah membuat para penulis di kemudian hari menulis kata Emeth sebagai alih-alih kata “Ahmad” yang adalah persamaan kosa-kata dalam bahasa Ibrani (Al- Terjemah dan Tafsir Singkat, JAI cet. Kelima tahun 2014 halaman 1905-1907).

Para pengkaji lain yang menafsirkan parakletos sebagai Muhammad adalah Ibnu TaimiyahIbnu KatsirAl-QurthubiRahmatullah Kairanawi (1818-1891), dan para pengkaji mutakhir seperti Martin Lings.

Menurut pendakwah Muslim Ahmed Deedat, seluruh rujukan Alkitab terhadap Parakletos lebih akurat jika diartikan sebagai Muhammad ketimbang sebagai Roh Kudus. Sebagai contoh, Deedat menyebutkan bahwa Injil Yohanes 16:7 menyatakan bahwa Parakletos hanya akan datang sesudah Yesus pergi.

Meskipun demikian, Deedat mencermati pula bahwa dalam Alkitab (Bible), Roh Kudus disebut-sebut sudah hadir berkali-kali bahkan sebelum kepergian Yesus (Ahmed Deedat (1994). “Muhummed (pbuh) Is The “Paraclete””. The Choice: Islam and Christianity, Jilid 1. ideas4islam. hlm. 59–63.)

Menurut Al-Masāq: studia arabo-islamica mediterranea: Jilid 9 à 10 ;Jilid 9 Universitas Leeds Fakultas Kajian Bahasa Arab Modern, Taylor & Francis – 1997 “Banyak pujangga, termasuk Ibnu Hazim, Al-Taban, Al-Qurtubi, dan Ibnu Taimiyah, telah mengidentifikasi Parakletos sebagai Muhammad. Mungkin sekali pujangga pertama yang melakukannya adalah penulis riwayat hidupnya, Ibnu Ishaq, pada pertengahan abad ke-8.”

Sifat-sifat Parakletos Sangat Sesuai dengan Nabi Muhammad saw.

Mari kita kaji sifat-sifat dari Parakletos ini didalam Injil Yohanes 14: 16-17, 15:26, 16:1-15. Maka nyata bagi kita sifat-sifatnya diantaranya ialah,

  1. Ia tidak datang sebelum Yesus as berlalu dari dunia ini.
  2. Ia akan tinggal didunia ini untuk selama-lamanya, akan mengatakan banyak hal yang Yesus as sendiri tidak dapat mengatakannya karena dunia belum dapat menanggungnya pada waktu itu.
  3. Ia akan memimpin umat manusia kepada segala kebenaran
  4. Ia tidak akan bicara atas kehendak sendiri bahkan ia akan menyampaikan apa-apa yang difirmankan Tuhan dalam wahyu
  5. Ia akan memuliakan Yesus as dan akan memberikan kesaksian atas kebenarannya.

Rasulullah saw itu datang setelah wafatnya Yesus as. Tinggal selama-lamanya bermakana hukum syariat Nabi Muhammad saw berlaku selama-lamanya karena telah sempurna yang mana belum dapat diterapkan diera Yesus as.

Maksud segala kebenaran adalah ajaran agama yang sempurna (QS.5:4; 14:25). Beliau hanya menyampaikan apa yang difirmankan Allah kepada beliau (QS.53:4). Beliau memuliakan dan membenarkan Yesus as sebagai Nabi yang benar (QS.2:254; 3:56).

Terlepas benar tidaknya Parakletos adalah Ahmad. Umat Kristen menyangkalnya hanya berdasar perbedaan kata antara Ahmad dan Parakletos tanpa memperhatikan sifat-sifatnya. Karena sifat-sifat Parakletos tersebut justru sangat bertepatan dengan Nabi Muhammad saw. dan tidak dimiliki oleh Roh Kudus yang umat Kristen anggap sebagai Parakletos.

Demikianlah pembahasan mengenai ada tidaknya kata “Ahmad” di dalam Injil. Dari kajian-kajian yang tertulis dalam tulisan ini, kita ketahui bahwa memang kata Ahmad ada didalam Injil dengan sebutan Parakletos yang sebagian lain menganggapnya sebagai Perikleitos.

Maksud penulis tidak lain hanya menuliskan beberapa kajian mengenai adanya kata “Ahmad” dalam Injil tanpa bermaksud menyinggung suatu keyakinan dari agama manapun. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita petunjuk-Nya sehingga kita dapat berjalan di atas jalan yang lurus. Aamiin

Referensi:

    1. Al-Quran Terjemah dan Tafsir Singkat, JAI cet. Kelima tahun 2014 halaman 1905-1907
  • Mukhayat MS, Ali.1999.Edaran Berkala Kristologi No.24.Tasikmalaya
  1. http://hermeneutika-bibel.blogspot.com/2015/11/siapa-parakletos.html diakses pada 18 08 2018

Sumber Gambar: https://www.ucg.org/bible-study-tools/bible-questions-and-answers/does-the-bible-promote-racism

Tentang Penulis

Ammar Ahmad