Akhlaq Faḍi'l-Lāh Qureta

Keadilan untuk Buruh dalam Perspektif Islam

SATU minggu lagi media akan disesaki pemberitaan hari buruh nasional yang memang telah diprediksi sebagai isu yang akan menghangat.

MINGGU ini, media akan disesaki pemberitaan hari buruh yang memang telah diprediksi sebagai isu yang akan menghangat. Walaupun Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dakhiri menjamin bahwa upah akan naik tiap tahunnya, tuntutan buruh tampaknya tidak akan terhenti. Hampir bisa dipastikan mereka akan menyoal lagi masalah upah.

merupakan slogan cantik yang sudah dikenal dalam perekonomian pasar bebas. Keadilan memang mutlak untuk ditegakkan, bagi pengusaha dan bagi para buruh sehingga tidak akan ada perbedaan lebih tinggi atau rendah bahkan harusnya menciptakan kondisi bahwa buruh tidak akan memaksa, ‘merampok’ pengusaha karena dianggap memiliki ‘kekayaan surplus’.

Dalam dunia kerja lebih banyak berbicara mengenai kesempatan kerja dan kurang memerhatikan kesamaan distribusi kekayaan (pendapatan). Kondisi ini akan memaksa adanya tuntutan dari para buruh atau pekerja mengenai kesejahteraan yang biasanya selalu merasa serba kekurangan.

Karena itu, sekarang para buruh menyatakan ketidakpuasannya dengan membentuk kelompok-kelompok penekan, pendemo, kekisruhan industri dan sebagainya.

Islam selalu menekankan untuk menerapkan sistem ekonomi adil, diimbau untuk selalu berhati-hati terhadap hak orang lain terutama pada kesempatan pemenuhan kebutuhan hidup yang paling dasar sehingga tidak menimbulkan kesengsaraan dan kekacauan.

Kepada pengusaha, Islam banyak menekankan sifat ‘pemberi’ yaitu memerhatikan jangan sampai ada buruhnya yang kehilangan hak hidup secara layak bahkan pengusaha harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna mencapai hal tersebut, sebelum para buruh melakukan tuntutan yang bisa menjadi ancaman bagi usaha kerja. Inilah sumber dasar yang harus dipenuhi para pengusaha.

Untuk para buruh, Islam mengingatkan—walaupun meminta itu diperbolehkan[1]—namun jangan melakukan hal-hal yang memalukan dan merendahkan diri di saat menuntut hak. Tidak perlu juga seakan-seakan berperilaku seperti mengemis demi mendapatkan hak keberlangsungan hidupnya.

Hal ini juga bisa menjadi bahaya inheren, buruh harus bersyukur kepada pengusaha yang telah memberikan pekerjaan bukan malah mengatakan bahwa apa yang diterima adalah sudah haknya sehingga tidak perlu merasa berterima . Tuhan sungguh tidak menyukai mereka yang tidak bersyukur.[2]

Negara yang memegang tampuk pemerintahan harus peka terhadap segala kebutuhan pekerja dan pengusaha sehingga buruh tidak perlu membentuk kelompok demonstrasi. Buruh harus menjaga kehormatan mereka, pengusaha harus menciptakan kedamaian terhadap keberlangsungan hidup buruh dan negara harus mengatur keselarasan antara keduanya.

_
Qureta.com

[1] QS Adz-Dzāriyāt {51}:20

[2] QS Az-Zumar {39}:8

Tentang Penulis

Anom Manembah