Opini

Kedamaian untuk Melawan Ketakutan

kedamaian

Kekhawatiran, Kecemasan, tengah disebarkan..

Sejatinya dapat Menjadi Secercah Harapan..

yang terjadi saat ini, tidak berhenti di lapas . Sel – sel tidur di luar sana mulai bangun lagi. Mulai dari penusukan yang menggugurkan 1 pihak intel brimob, kemudian 2 orang perempuan yang tertangkap karena mencoba ingin menusuk polisi, hingga pengeboman yang terjadi di 3 titik gereja di yang sampai saat ini 13 orang telah meninggal dan 41 korban luka – luka .

Mirisnya, para tak hentinya menyebarkan ketakutan. Mulai dari dibalik jeruji besi hingga yang menghirup udara bebas di bumi pertiwi.

Sayangnya, mereka melakukannya dengan beratribut “Islam”. Sebut saja saat berakhirnya kejadian tragis di Mako Brimob. Para Teroris yang menyerahkan diri ada yang membawa Kitab Suci Al Quran hingga berpakaian agamis berbau “Islam”.

Begitu juga dengan kedua wanita yang berniat menusuk polisi namun berhasil dibatalkan karena ditangkap oleh aparat, mereka berpakaian Islami lengkap tertutupi cadar. Dan yang baru terjadi saat ini, para pelaku bom bunuh diri di 3 titik gereja di Surabaya, adalah 1 keluarga Islam dan tewas menggunakan atribut Islam.

Betapa tersayatnya hati ini ketika keIslaman di gadang – gadang untuk melakukan kebengisan. Dari pembunuhan, penusukan, hingga bom di tempat peribadatan. Setahuku, tidak ada 1 ayat pun dalam Al – Quran, dan tidak ada sebaris hadits pun yang menyatakan pembenaran untuk melakukan kejahatan kemanusiaan seperti yang telah mereka lakukan. Bahkan dalam surat Adz Dzariyat ayat 56 pun telah dijelaskan tujuan manusia diciptakan adalah untuk menyembah Tuhan.

Apakah menyembah Tuhan dapat dilakukan dengan mengambil nyawa para hamba Tuhan?! Dalam surat Al Maidah ayat 32 Al quran mengatakan, membunuh 1 orang yang tidak bersalah saja, ibarat membunuh seluruh umat manusia.

Lalu, bagaimana pembunuhan yang telah menelan beberapa korban dari pihak kepolisian, hingga makhluk Tuhan yang sedang menyapa Tuhan di tempat peribadatannya?! Naudzubillahimindzalik. Sejatinya, tidak ada 1 agama pun yang dapat membenarkan apa yang telah mereka lakukan.

Dan mereka, apakah mereka akan menyadarinya? Entahlah, sepertinya kebencian sudah mendarah daging dalam diri mereka. Kebencian yang mengerucut untuk membenarkan segala tindak kekerasan hingga kebengisan.

Mungkin, bisa saja berawal dari kebencian yang kecil terhadap perbedaan agama. Namun, kebencian yang terpelihara dan terus dibombardir dengan pemahaman kekerasan, tak ayal akan menghadirkan pembunuhan bengis yang jauh dari nilai kemanusiaan.

Dan kita, para manusia yang yang masih memiliki hati nurani, terlepas dari agama apa pun itu, akankah hanya diam? Ataukah hidup dalam ketakukan?

Tentunya itulah harapan mereka. Harapan para teroris yang menginginkan kita diam dan jatuh terperosok dalam ketakukan hingga ketidakberdayaan. Mereka akan semakin mampu untuk mengoyok – ngoyok negeri yang kita cintai ini.

Memang, tidak banyak yang bisa kita lakukan. Namun, setidaknya mari kita semua bersatu padu dalam kedamaian. Kikis segala kebencian dari akar rumput, dari lingkungan keluarga hingga lingkungan di luar sana. Semua dapat dimulai dari yang kecil, yakni dimulai dari menerima perbedaan, dan menularkan kedamain dalam menghadapi perbedaan.

Kita harus meyakini, perbedaan adalah suatu hal yang lumrah. Perbedaan pandangan, penafsiran hingga kepercayaan. Mari merajut kedamaian dalam perbedaan. Setidaknya dengan kedamaian, kebencian pun akan terhapus dengan sendirinya. Dan tanpa kebencian, sel – sel terorisme pun diyakini akan sulit ditularkan.  

Referensi:

http://banjarmasin.tribunnews.com/2018/05/13/sosok-perempuan-ini-mau-melakukan-penusukan-di-mako-brimob-isi-surat-bikin-heboh

http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/18/05/11/p8jqtx382-polisi-ungkap-kronologis-anggota-intel-brimob-tewas-ditusuk

http://surabaya.tribunnews.com/2018/05/13/kapolri-sebut-motif-serangan-bom-bunuh-diri-di-3-gereja-di-surabaya-karena-balas-dendam

Sumber Gambar: https://www.albawaba.com/editorchoice/jordan-sets-new-guinness-goal-earth-hour-celebrated-1107992

Tentang Penulis

Mutia Siddiqa Muhsin