Opini

Keluh Meiliana dan Suara Adzan Tanpa Pengeras Suara ketika Nyepi

meliana

“Yang terbaik di antara kalian ialah mereka nan berakhlak paling mulia” – Ali bin Abi Thalib ra.

Mungkin tak pernah Meiliana sangka sebelumnya ketika ia mengeluhkan pengeras suara yang berujung petaka. Curhatannya di kios kecil sampai juga di telinga pengurus . Namun, hasil tidak sesuai dengan keinginan awalnya yang hanya meminta mengecilkan pengeras suaranya. Celotehannya justru berujung bui.

Inikah cerminan kehidupan bermasyarakat di Indonesia masa kini? Masa yang seharusnya membuat kita dewasa akan hal-hal yang bisa kita hadapi lebih bijak.

Kita seakan-akan menipu sendiri sebetulnya apa yang sedang kita lakukan. Sadar atau tidak sadar kita telah mempersekusi seseorang yang merasa terganggu dengan suatu hal yang berlebihan.

Sebagai seorang warga yang seharusnya pernah mengenyam pendidikan setidaknya sejak SD, kita tentu pernah mengenal pelajaran PPKN (Pendidikan Kewarganegaraan). Dalam salah satu bab terdapat pembahasan mengenai tenggang rasa.

Siswa SD pada saat itu diberikan contoh ketika mendengarkan musik, kita harus mengecilkan suara supaya tercipta bertenggang rasa dengan tetangga yang mungkin sedang sakit.

Seharusnya dalam hal pengeras suara masjid bukan hal yang berbeda. Fungsi pengeras suara adalah untuk memanggil umat di sekitar masjid untuk berbondong-bondong menghadiri majelis yang mendamaikan di sana.

Lantas jika pengeras suara itu mengganggu warga yang tidak berkenan dengannya dan meminta mengecilkannya, sebagai muslim yang bijaksana seharusnya kita mengecilkan pengeras suara itu dengan rendah hati. Toh, suaranya tetap terdengar di sekitar pelataran masjid.

Waktu tak bisa berputar kembali, Meiliana pun telah divonis penjara 18 bulan karena dianggap telah menoda agama Islam. Benarkah Islam ternoda dengan tindakan Meiliana?

Penulis menganggap justru Islam lebih ternoda karena mampu memenjarakan seorang perempuan yang mengharap tenggang rasa dari warga muslim karena merasa terganggu.

Justru umat Islam telah melanggar perintah Allah SWT supaya tidak berlaku semena-mena terhadap manusia lain. Dalam Al-Quran Allah SWT berfirman:

“ Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil (semena-mena). Berlaku adil lah karena adil itu lebih dekat dengan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.Al-Maidah:8)

Merujuk dari ayat di atas dan apa yang umat Islam lakukan terhadap Meiliana telah jauh dari wajah yang seharusnya dilakukan sebagai muslim. Tindakan Meiliana tidak menodai bahkan merusak nilai-nilai Islam sama sekali.

Sebaliknya, muslim seharusnya menunjukkan perilaku yang jauh lebih bijaksana dari itu. Kejadian ini justru menunjukkan mayoritas lebih berkuasa di atas kaum minoritas melihat Meiliana sebagai penganut Buddha.

Cukup dengan mengikuti permintaan Meiliana dengan mengecilkan suara tidak akan mengubah ajaran Islam. Justru dengan melakukan itu wajah Islam akan terlihat jauh lebih berwibawa.

Masjid di beberapa negara Islam seperti dan pun menggunakan pengeras suara namun tidak terlalu keras. Khusus di , pengeras suara hanya digunakan ketika 5 kali sehari, shalat jumat, shalat Idul Adha, shalat Idul Fitri, dan shalat meminta hujan.

Di luar waktu itu tidak boleh menggunakan pengeras suara luar. Cukup menggunakan pengeras suara dalam. Sedangkan di Indonesia, kadang kita selalu mendengar suara dari masjid pukul 2 pagi. Malah, pengajian pun terdengar kencang keluar masjid walaupun bukan di daerah pesantren.

Sebetulnya, kritik mengenai pengeras suara masjid yang terlalu keras sudah kerap kali terdengar setidaknya sejak medio 2015. Menurut Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementrian Agama pada saat itu, peraturan sudah dibuat namun seperti tidak ada karena tidak diindahkan oleh pengelola (sebagian) masjid.

Pihak Kemenag sendiri mengakui sosialisasi peraturan pengeras suara ini memang kurang dan harus bersikap hati-hati supaya tidak menimbulkan reaksi yang besar. Memang di negara besar ini harus serba berhati-hati dalam bertindak. Salah langkah maka bisa banyak pihak yang geram dibuatnya.

Tapi, aturan yang dibuat baiknya ditaati dan dilaksanakan. Jika tidak menyetujuinya pun ada jalur yang bisa dilalui. Aturan mengenai pengeras suara ini telah dibuat dengan nomor Kep/D/101/1978 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar, dan Musala. Aturan ini masih berlaku hingga sekarang dan belum ada penggantinya.

Dalam aturan tersebut tertera poin keharusan untuk menghormati tetangga dengan kutipan sebagai berikut:

Dari beberapa ayat Alquran terutama tentang kewajiban menghormati jiran/tetangga, demikian juga dari banyak hadits Nabi Muhammad SAW menunjukkan adanya batasan-batasan dalam hal keluarnya suara yang dapat menimbulkan gangguan walaupun yang disuarakan adalah ayat suci, doa atau panggilan kebaikan sebagaimana antara lain tercantum dalam dalil-dalil yang dilampirkan pada keputusan Lokakarya P2A tentang Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala.

Aturan tersebut menyebutkan kewajiban menghormati tetangga berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW. Selain menjalankan peraturan yang telah diatur oleh negara, umat Islam pun menjalankan sunnah yang terdapat dalam hadits.

 

di Bali ketika

Pada bulan Maret lalu, sejumlah masjid besar di Bali tidak menggunakan pengeras suara ketika adzan berkumandang sehari penuh selama perayaan Nyepi. Umat Islam di Bali menghormati umat Hindu yang sedang merayakan perayaan keagamaan mereka di sana.

Sikap toleransi ini bukan hanya dilakukan pada tahun ini saja melainkan sudah sejak lama. Tentu bukan berarti adzan dengan pengeras suara harus dipadamkan sama sekali. Tetapi, itikad untuk menghargai dan menghormati pemeluk agama lain harus juga dikedepankan.

Tindakan umat Islam di Bali tersebut sama sekali tidak menurunkan derajat nama baik Islam, justru sikap itu tetap menunjukkan tingginya derajat Islam sebagai agamayang menjadi Rahmat bagi seluruh alam bukan hanya bagi umat Islam sendiri.

Langkah muslim ketika Nyepi ini pun dibalas dengan baik oleh umat Hindu di Bali dengan ikut mengamankan Idul Fitri di sana. Bahkan, Pecalang sendiri yang turun langsung menjaga keamanan di Bali sehingga Idul Fitri berjalan lancar. Saat Idul Adha pun umat muslim bisa menyembelih hewan kurban termasuk sapi. Padahal sapi dianggap makhluk suci bagi pemeluk agama Hindu.

Seperti kita ketahui 92 persen penduduk Bali pemeluk agama Hindu sedangkan umat Islam merupakan minoritas dengan sekitar 520 ribu penduduk saja yang muslim.Namun, kedua pemeluk agama ini hidup rukun dan damai bahkan saling menghargai satu sama lain.

Indahnya hidup berdampingan antar umat beragama di Bali ini, jika terjadi juga di seluruh pelosok Indonesia, tentu akan menciptakan perdamaian bagi semua pemeluk agama.

Persoalan pengeras suara masjid seharusnya tidak menjadi persoalan besar bahkan mampu memenjarakan seseorang. Cukup bertenggang rasa dan menunjukkan akhlak mulia sudah cukup menyelesaikan masalah.

Referensi:

https://news.detik.com/berita/4177634/kronologi-lengkap-keluhan-volume-azan-yang-berujung-18-bulan-bui

https://www.bbc.com/indonesia/majalah-43472557

https://news.detik.com/berita/d-4179022/begini-aturan-kemenag-soal-pengeras-suara-masjid-untuk-azan

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/18/03/16/p5ovey383-hormati-nyepi-adzan-di-bali-tanpa-pengeras-suara

https://kumparan.com/@kumparannews/kisah-pecalang-menjaga-lebaran-2018-di-pulau-bali

https://news.detik.com/berita/3623483/idul-adha-di-bali-indahnya-toleransi-umat-hindu-dan-muslim

Sumber Gambar: https://elshinta.com/news/149175/2018/07/01/pemkab-salurkan-bantuan-rp100-juta-untuk-masjid

Tentang Penulis

Taufik Khalid Ahmad