Opini

Kemenangan Khabib Nurmagomedov, Kemenangan Umat Islam?

khabib

Beberapa lama yang lalu nama Nurmagomedov sempat ramai disebut-sebut oleh beberapa teman, media sosial hingga acara berita pun sempat ramai mengkabarkan nama tersebut dalam berbagai postingan, berita tentang pria bertubuh atletis dengan perawakan khas bangsa Kaukasia. Usut punya usut, rupanya pria tersebut adalah seorang ahli bela diri gaya campuran dari turnamen UFC (Ultimate Fighting Championship), yang baru saja meraih gelar juara, bukan main-main, pria tersebut baru saja menumbangkan , salah seorang petarung juara (Mixed Martial Arts) yang paling terkenal di dunia.

Jujur saya cukup menyukai adegan laga yang disajikan dalam film-film action, hal tersebut lebih karena secara sadar saya mengetahui bahwa adegan tersebut hanyalah tipuan semata, ditambah adanya bumbu special effect yang biasanya mustahil di dunia nyata. Berbeda dengan adegan film action, saya bukanlah penggemar acara laga tanding manusia seperti UFC, tinju, dan semacamnya, dimana brutalitas hewani manusia diagungkan sebagai seni oleh para penggemarnya, segala percik keringat, darah, serta cedera yang terjadi hampir semuanya adalah nyata, masing-masing petarung beradu agresi dalam kurungan arena, dikepung sorak-serak penonton yang bergelora, tenggelam dalam euforia menyaksikan perkelahian anak cucu Adam-Hawa, dalam suasana yang nyaris sama dengan sabung ayam yang sekedar diregulasi peraturan fatamorgana, peraturan agar kalian para petarung tidak saling berusaha menghilangkan nyawa, kalaupun berakhir cacat seumur hidup – itu sudah risiko anda.

Kembali ke hasil pertandingan yang lalu, secara awam yang saya pahami adalah Khabib Nurmagomedov berhasil mengalahkan Conor McGregor, bukan berita yang terlalu mengherankan sebenarnya karena toh tumbang menumbangkan juara dunia hampir selalu terjadi dalam ranah profesi ini, akan selalu ada juara baru yang lebih kuat dari sebelumnya. Yang membuat berita kemenangan Khabib Nurmagomedov menjadi sorotan yang berbeda, khususnya di Indonesia adalah kenyataan bahwa Khabib merupakan seorang Muslim.

Tak pelak lagi, berita kejuaraan UFC yang biasanya sekedar angin lalu begitu saja bagi khalayak awam seperti saya, sekedar artikel plus foto seorang juara mengangkat sabuk emas raksasa, menjelma menjadi sebuah kisah heroik seorang petarung Muslim UFC yang sedang membela harga diri serta agamanya, romantisme kisah Khabib dianggap telah “mengharumkan” agama, bagi beberapa orang bahkan lebih jauh lagi dimuliakan seolah menjadi bagian dari legenda kemenangan umat .

Tidak luput lagi ada kisah kontroversi provokasi kubu McGregor yang memang terkenal arogan-terhadap siapapun calon lawannya, seolah menjadi rempah pedas yang melengkapi bumbu-heroisme kisah ini, sehingga dijadikan pembenaran terhadap aksi Khabib yang akhirnya memanjat keluar oktagon (ring arena UFC) dalam suasana penuh emosi, berusaha menghajar salah seorang di luar arena (sebuah pelanggaran sebenarnya) yakni orang dari kubu tim McGregor yang sebelumnya disebut-sebut telah menghina ayah serta keyakinannya.

“Kamu ngga paham, dia itu sedang membela agama Islam dan harga dirinya!” begitu bela seorang teman, pendapat tersebut rasanya sudah cukup menggambarkan alasan munculnya euforia tempo hari lalu. Banyak orang-orang yang awalnya mungkin kepanjangan UFC saja tidak tahu, mendadak mampu berkomentar tentang Khabib Nurmagomedov seolah pengamat veteran dengan pengalaman asam garam plus madu.

Namun benarkah hal tersebut? Apakah benar bahwa kemenangan Khabib adalah kemenangan Islam juga? Mari kita merujuk pada kata Islam sebagai bahasa arab, dikutip dari wikipedia, “kata triliteral semitik yang menyusun “ISLAM” yakni ‘S-L-M’ menurunkan beberapa istilah terpenting dalam pemahaman mengenai keislaman, yakni Islam dan Muslim. Kesemuanya berakar dari kata Salaam yang berarti kedamaian. Kata Islam lebih spesifik lagi didapat dari bahasa Arab, Aslama, yang bermakna “untuk menerima, menyerah atau tunduk” dalam pengertian yang lebih jauh yakni kepada Tuhan.” Singkatnya, secara sederhana, mengenali kemenangan Islam bisa dilihat dari hasil akhirnya : Perdamaian.

Mari kita rewind kembali arsip rekaman laga Khabib Nurmagomedov vs Conor McGregor, tampak bahwa kuncian Khabib membuat Conor menyerah pada ronde ke-empat, dan seharusnya menjadikan kemenangan Khabib sempurna, namun tidak berhenti sampai situ, Khabib yang masih diliputi semangat bertarung rupanya masih belum selesai, dirinya memanjat oktagon dan menyerang para kru tim Conor McGregor, sempat terjadi kericuhan meskipun pada akhirnya gelar juara tetap diberikan kepada Khabib.

Alasan utama Khabib menyerang kru McGregor mungkin saja dibenarkan bagi sebagian orang, dimana provokasi kru McGregor telah sangat berlebihan hingga membawa-bawa ayah serta keyakinan agama yang dianut Khabib Nurmagomedov, beberapa bahkan mendukung serta menganggap aksi Nurmagomedov sebagai sebuah aksi pahlawan jihad, kekuatan Islam mengalahkan kekuatan kafir, berangan-angan semu bahwa kekuatan fisik Khabib yang hanya seorang saja bisa begitu menggemparkan, bayangkan jika umat muslim bersatu menggabungkan semua kemampuannya? Seolah kekuatan fisik disertai rasa amarah yang garang dan siap perang dapat dijadikan tolak ukur kemenangan Islam.

Padahal, Rasulullah SAW pernah bersabda: Orang yang perkasa bukanlah orang yang menang dalam perkelahian, tetapi orang yang perkasa adalah orang yang mengendalikan dirinya ketika marah – Hadist Riwayat Bukhari.

Sejalan dengan hadis tersebut, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as, Imam Mahdi yang telah dijanjikan, selaku pendiri Jemaat Muslim , atas kecintaan beliau yang begitu utuh terhadap Hazrat Rasulullah SAW, turut menjelaskan bahwa “barangsiapa yang bersikap keras dan lekas marah, maka dari lisannya tidak akan keluar kata-kata yang penuh hikmah dan makrifat” – Malfuzat, Jilid 3, Hlm. 104

Maka jelaslah sesungguhnya luapan amarah merupakan kelemahan manusia yang sangat besar, sehingga anjuran dari kedua nabi utusan Allah Ta’ala tersebut ditujukan agar kita mampu berusaha mencapai ketaqwaan, yang pada akhirnya mendapatkan ridha Allah Ta’ala, karena tanpa keridhaan-Nya, mustahil kemenangan Islam yang sejati dapat tercapai, perihal umat yang dicintai Allah Ta’ala salah satunya dijelaskan dalam QS. Ali Imran, 135:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Yaitu orang-orang yang menginfakkan harta di waktu lapang dan di waktu sempit, dan yang menahan marah dan yang memaafkan manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan

Lantas bagaimanakah bentuk kemenangan Islam sejati? Apakah ada contoh nyata demi membuktikan nasihat tersebut? Untuk menjawab pertanyaan tadi, maka mari kita kembali ke akar kata Islam yang berarti , sebuah khabar suka bagi kita semua karena pada kenyataannya Islam kini tengah bergerak menuju kemenangan sejati tersebut, bersama sebuah Jamaah yang dipimpin oleh sang Imam Mahdi sendiri, yang kepemimpinannya dilanjutkan oleh para Khalifah, dalam sebuah sistem Khilafah ala Minhaj Nubuwwah untuk membimbing Jamaah tersebut, demi tercapainya kemenangan sejati. Perlahan tapi pasti, cerminan kemenangan Islam di akhir zaman tersebut pun sudah dapat disaksikan langsung pada Jamaah Muslim dengan pertumbuhan tercepat serta terluas di dunia ini, salah satunya dapat disaksikan dalam kegiatan pertemuan tahunan yang rutin diselenggarakan Jamaah Muslim Ahmadiyah di hampir setiap cabang dimana Jamaah ini berada, yakni acara Jalsah Salanah, ketika dalam acara tersebut, sebuah impian akan bersatunya seluruh umat manusia dalam satu panji kemenangan Islam tampak sangat jelas tanpa bisa dibantah, pria, wanita, anak-anak, tua, muda, semuanya berdatangan dari berbagai penjuru dunia, segala warna seluruh bendera yang berbeda disatukan dalam satu panji yang dicinta, dengan berpegangan pada motto yang serupa yakni Cinta untuk Semua, Tiada Kebencian bagi Siapapun, seluruhnya larut dalam rasa cinta serta kepatuhan terhadap pimpinan ruhani oleh seorang khalifah, sebuah jamaah yang telah berdiri hingga lebih dari 120 tahun lamanya, yang kini telah dipimpin oleh Khalifah yang ke-lima.

Lantas kembali ke pertanyaan awal, apakah kemenangan seorang Muslim atas perkelahian mahal yang diselenggarakan oleh UFC tadi dapat dikategorikan sebagai kemenangan Islam? Ataukah kemenangan Islam tersebut justru muncul dari kita sendiri, umat Muslim yang berusaha menjauhi segala kebuasan tersebut dan lebih memilih perbuatan salaam? Mari serahkan pilihan tersebut kepada hati kita masing – masing.

Sumber:

Tentang Penulis

Irfan Sukma Ardiatama