Opini

Kemerdekaan Seorang Hamba Tuhan

indonesia
Penulis Ammar Ahmad

pada tanggal 1945 telah memproklamasikan kemerdekaan bangsa besar ini. pada tahun ini akan merayakan hari kemerdekaannya yang ke-73. Kini bangsa ini telah bebas menentukan arah laju bahteranya sendiri tanpa dikendalikan bangsa lain lagi.

Tugas kita kini adalah mengisi kemerdekaan dengan baik, benar dan bijaksana sehingga bangsa kita betul-betul merdeka dalam arti yang sesungguhnya. Lalu apa bimbingan yang kitab-kitab Allah Ta’ala sampaikan mengenai kemerdekaan? Yang melalui pengamalan bimbingan itu kita sebagai “hamba/budak Tuhan” mampu mengisi kemerdekaan dengan baik, benar dan bijaksana.

Sebelum membahas kalam Tuhan, kita perlu mengetahui arti dari kata kemerdekaan itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kemerdekaan adalah suatu keadaan dimana seseorang atau negara bisa berdiri sendiri, bebas dan tidak terjajah lagi. Sedangkan merdeka artinya adalah bebas dari segala penjajahan atau penghambaan.

Menurut KBBI sendiri kemerdekaan itu juga bermakna bebas. memiliki pemahaman yang sama dalam hal ini namun disisi lain Al-Quran menyatakan bahwa, tidak ada yang namanya “kebebasan mutlak” ketika seseorang dapat hidup sebebas-bebasnya hanya karena ia orang yang merdeka.

Ingat bahwa kita juga memerlukan hukum untuk mengatur perikehidupan diri kita dan bangsa kita agar teratur dengan baik. Oleh karena itulah sekalipun kita bebas namun tetap ada batasan-batasan hukum agama dan negara yang wajib kita patuhi.

Allah Ta’ala berfirman : “Lalu, adapun halnya orang yang melampaui batas, dan mengutamakan kehidupan dunia. Maka sesungguhnya Jahanam akan menjadi tempat tinggalnya.” (QS.Al-Nazi’at: 38-40)

Jadi meskipun kita adalah orang yang merdeka, tetap saja berlaku bagi kita batasan-batasan agama yang telah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya tetapkan untuk kita. Batasan dan hukum ini dikenal dengan syari’at dan ada pun sebagai warga negara berlaku bagi kita hukum Negara yang telah dirumuskan dalam Undang-undang Dasar.

Ingat hukum itu dibuat demi kebaikan kita bersama sehingga kita pun dapat senantiasa bijak dalam menikmati kebebasan dan kemerdekaan. Melanggar hukum dan batasan yang Allah sendiri tetapkan akan berakibat buruk bagi diri kita. Bahkan Jahanam dijanjikan bagi mereka yang bertindak melanggar batasan yang telah ditetapkan.

Kita adalah hamba atau budak Tuhan sehingga hukum Tuhan sebagai Majikan kita membatasi kebebasan mutlak yang hawa nafsu kita inginkan. Coba bayangkan betapa kacaunya dunia bila setiap orang menuntut kebebasan mutlak. Dunia akan kacau dan hancur akibat perilaku buruk penghuninya atas nama kebebasan.

Penulis kini akan menarik perhatian pembaca pada apa yang Bible/Alkitab Nasrani sampaikan berkenaan dengan kemerdekaan.

Dalam kitab Yesaya 58 : 6-7 tertulis demikian, “Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecahkan rotimu bagi orang yang lapar dan membawa kerumahmu orang miskin yang  tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau member dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!”.

Jelas ini adalah ayat indah yang menggambarkan pentingnya kemerdekaan dari belenggu kelaliman, penganiayaan dan penjajahan. Dari ayat ini kita ketahui ajaran Allah Ta’ala melalui Nabi Yesayaas bahwa penjajahan itu dilarang dalam agama-Nya dan betapa pentingnya bersikap simpati dan empati terhadap sesama.

Kemudian ada satu nasihat yang indah tertera dalam 1 Petrus 2:16 yakni, “Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” Dari ayat ini kita dapati pesan bermanfaat bahwa sekali pun kita merdeka dan bebas, kita tetap tidak dibenarkan untuk berbuat kejahatan.

Sangatlah terlarang melakukan tindak kejahatan atas nama kebebasan. Kemudian pada ayat ini pun diperintahkan agar hiduplah sebagai hamba Allah, artinya hukum Allah tetap mengikat kita yang bebas dan merdeka, karena kita adalah hamba Allah dan Allah adalah Majikan yang harus kita patuhi.

Maka benarlah bahwa kebebasan mutlak itu tidak didukung oleh kitab-kitab agama dan bertentangan dengan sifat bijaksana. Oleh karena itu perlulah kita tetap memperhatikan hukum atau batasan yang Allah Ta’ala tetapkan bagi kita sekali pun kita telah merdeka supaya bangsa kita pun menjadi bangsa yang dikasihi oleh Allah Ta’ala sendiri.

Ingat ia yang menjadi budak dan hamba Tuhan tidak akan pernah menjadi budak dan hamba orang lain.

Sumber Gambar: http://radio.wosu.org/post/wellness-wednesday-social-isolation-susan-g-komen-race-cure-cancer-preventing-foods

Tentang Penulis

Ammar Ahmad