Arif Sadewa Opini Peristiwa

Kesan mendalam orang Jepang terhadap mesjid terbesar di Nagoya

Masjid Islam Ahmadiyah di Nagoya menuai opini positif masyarakat Jepang

Masjid di Nagoya menuai opini positif masyarakat Jepang

Oleh Arif Sadewa | Kompasiana

Tulisan ini telah melalui tahap penyuntingan ulang Redaksi RajaPena.org

 

PEMBUKAAN dan peresmian Masjid Baitul Ahad Nagoya dengan kapasitas terbesar di Jepang pekan lalu rupanya menyimpan kesan yang luar biasa bagi warga lokal. Masjid yang terletak di prefektur Aichi, Nagoya, itu menjadi magnet bagi sebagian media lokal dan masyarakat Jepang. Terbukti dalam acara peresmian itu beberapa media lokal dan sekitar seratus lebih masyarakat turut dalam rangkaian acara tersebut.

Masjid tersebut dibangun oleh Jamaah Muslim Ahmadiyah di Jepang. Terlepas dari kontroversi kelompok tersebut, penulis lebih tertarik menyoroti kejadian seputar pembangunan dan peresmian masjid tersebut. Ya, karena selalu ada pelajaran dan inspirasi menarik dari setiap tempat dan sumber di dunia ini terlepas dari latar belakangnya siap untuk dibagi. Dan peristiwa peresmian masjid ini memiliki hal itu.

Jepang adalah negara dengan populasi 80 persen penduduk berpenganut Buddha dan Shinto. Penduduk muslim sangatlah kecil jumlahnya dibandingkan agama lain. Ttak heran, mengembangkan dan membangun tempat ibadah seperti masjid merupakan pekerjaan berat.

Kita bisa melihat di negara kita sendiri bagaimana nasib ijin pendirian gereja di Indonesia, terutama di wilayah-wilayah mayoritas muslim yang kuat. Gambaran itulah yang terjadi di Jepang sana ketika segelintir umat Islam hendak membangun masjid.

Pengurusan ijin Masjid Baitul Ahad Nagoya yang jamaahnya tidak sampai dua ratus mengalami kendala yang berat. Bahkan pembangunan itu bisa dikatakan tidak mungkin terlaksana.

Pengacara yang membantu mengurus ijin pembangunan masjid berkapasitas 500 orang itu pun hampir patah arang. Ia sudah melakukan segala cara dan upaya demi pendirian tempat sujud dan mensucikan diri itu. Hampir saja ia menyerah dengan semua upayanya. Hingga panitia pembangunan menekankan kepadanya, “Anda usahakan saja sekuat tenaga nanti Tuhan yang akan bekerja.”

 

SEBAGAIMANA yang biasa terjadi dalam kisah-kisah keagamaan, usaha dan doa itu rupanya berbuah manis. Pembangunan masjid memperoleh jalannya.

Dengan jalan yang berliku itu maka bisa dibayangkan betapa bersukarianya muslim Nagoya menyambut keberhasilan pembangunan itu. Momen kegembiraan itu mereka manfaatkan dengan berbagi bersama warga jepang. Terbukti saat peresmian masjid yang semula hanya bangunan rumah biasa itu, diundanglah wakil pemerintah, tokoh agama lokal, akademisi, juga masyarakat umum.

Berbagai kesan positif muncul dalam acara tersebut. Bahkan banyak tamu undangan yang ikut duduk di hari jumat itu mengikuti ritual khotbah jumat yang disampaikan oleh Khilafah Islam Ahmadiyah Internasional Mirza Masroor Ahmad. Di antara mereka ada dari Buddha, Kristen, juga Shinto. Pemandangan yang sangat langka.

Seorang anggota parlemen Jepang ada yang rela menempuh perjalanan 1.000 kilometer demi mengikuti acara pembukaan masjid. Ia berkata, “Jemaat Ahmadiyah banyak memberikan bantuan ketika bencana di Jepang.” Sebuah balasan terima kasihnya ia hadir dari tempat jauh.

Seorang warga Jepang penganut Buddha yang turut duduk di masjid mengatakan, “Sebagai seorang Buddha saya merasa takjub bisa masuk masjid dan melihat shalat dikerjakan. Dulu saya berpikir seorang Buddha dilarang masuk masjid.”

Penganut Buddha lain mengatakan, “Kedatangan Imam Ahmadiyah adalah di saat yang tepat, baru saja kita melihat kejadian Paris. Dengan kedatangan beliau gambaran buruk tentang Islam disebabkan peristiwa ini jadi hilang sirna.”

Seorang pengunjung wanita berkomentar senada, “Dengan adanya masjid yang begitu megah di kota ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya. Sebelumnya kami terjerumus dalam persangkaan buruk tentang Islam. Kami hanya tahu dari buku-buku orientalis. Namun ketika mendengar pidato khalifah saya baru tahu wajah Islam yang sebenarnya dan menyimpulkan bahwa kalau ingin tahu tentang Islam tidak cukup hanya baca buku orientalis.”

“Saya sangat bersyukur bisa hadir dalam pertemuan ini, kedatangan imam Ahmadiyah membuka mata kita. Kita baru tahu bahwa Islam tidak menginginkan keburukan di dunia dan adalah tugas kita untuk mengkaji tentang Islam lebih dalam dan kita harus bekerjasama dengan mereka untuk kedamaian.” komentar warga Jepang lainnya.

Seorang guru mengatakan, “Saya akan sampaikan kepada murid saya bahwa Islam tidak berbahaya.”

Guru lainnya ada yang membawa limabelas muridnya. Ia berkesan, “Dengan mendengar pidato Imam Ahmadiyah, saya yakin bahwa Islam adalah agama yang damai dan murid-murid saya yang tadinya takut mendengar nama Islam dan tidak berani datang kemari, namun ketika mendengar pidato khaifah pikiran mereka berubah baik.”

Seorang Jepang yang tinggal bertetangga dengan masjid menyampaikan, “Saya mengetahui tentang Islam yang benar dari pertemuan ini dan saya berkeinginan untuk datang rutin ke masjid dan mengetahui tentang Islam.”

“Kata-kata Khalifah Ahmadiyah menghilangkan segala prasangka saya tentang Islam, saya ingin mengatakan kepada orang-orang bahwa setiap orang hendaknya datang ke masjid ini dan belajar tentang Islam kepada Ahmadiyah,” begitu ucapan warga Jepang lainnya.

Sungguh kesan-kesan positif di atas adalah kesan yang sulit didapat dari kalangan non muslim di tengah teror yang dilancarkan sebagian kecil kelompok yang mengatasnamakan Islam.

ISIS di Timur Tengah merupakan gambaran seram bagi masyarakat jepang. Beberapa kali penulis melihat acara di NHK World sebuah stasiun televisi Jepang menyiarkan tentang ISIS. Tak diragukan lagi memang wajah seram Islam yang nampak dari tayangan itu. Bagaimana tekanan ancaman ISIS nampak jelas membuat resah warga mereka sendiri yang juga muslim, bagaimana yang bukan muslim?

Bukan hanya warga lokal yang menyampaikan kesan baik. Sebuah stasiun televisi di Jepang juga tak menyia-nyiakan momen tersebut. Stasiun itu memberitakan bahwa masjid adalah tempat ibadah umat Islam namun merupakan tempat aman bagi siapapun. Khalifah Ahmadiyah datang dan mengutuk serangan Paris. Beberapa koran juga memuat berita senada termasuk koran besar di sana.

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia