Opini

Ketaatan Sejati Kepada Pemimpin

pemimpin islam

Ketika kesenangan,, keinginan,, hingga harapan,,

Harus terenggut dengan sebuah kata ketaatan,,

Sanggupkah engkau merelakannya??

Salah satu penyebab kehancuran nikmat khilafat sepeninggal Saw berkenaan ketaatan terjadi di masa Rasyidin. Tak pelak sejarah yang sangat menyayat hati ketika Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib yang harus meninggal ditangan kaum muslimin sendiri karena ketidaktaatan pada sosok suci. Pada akhirnya, setelah masa Ali Bin Abi Thalib, Nikmat Khilafat pada masa itu pun tercabut.

Jamaah Muslim Ahmadiyah, saat ini dapat merasakan nikmatnya memiliki rohani yaitu Hazrat Mirza Masroor Ahmad atba. Sang Khalifah Jamaah Muslim Ahmadiyah di seluruh dunia, sebagai khilafah ala minhaji nubuwah yang dijanjikan oleh Rasulullah saw yang selalu hadir untuk semua tanpa melihat latar belakang dan ras. Hubungan pribadi dan kedekatan Khalifah dengan anggota pun laksana orang tua dengan anak – anaknya.

Beliau senantiasa menasihati para anggotanya dengan bahasa “ibu”. Sebaliknya, para Ahmadi sudah tidak sungkan lagi mengirimkan surat mereka untuk membahas masalah pribadi mereka hingga memohon doa pada sang Khalifah. Surat pun senantiasa beliau, tak luput disertai doa sang Khalifah kepada Allah Taala agar keresahan hingga permohonan doa para anggota Ahmadi dapat diberikan solusi.

Menariknya, ketaatan pada khalifah juga sangat penting dalam organisasi Jemaat Muslim Ahmadiyah ini. Mengapa tidak, dalam surah An Nisa ayat 59 Allah Swt pun berfirman mengenai ketaatan:

“Hai orang – orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul-Nya dan orang – orang yang memegang kekuasaan diantaramu. Dan jika kamu berselisih mengenai sesuatu maka kembalikanlah hal itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu neriman kepada Allah dan hari kemudian. Itu paling baik dan paling bagus akibatnya”

Ketaatan yang sempurna pada sang pemimpin rohani sangat ditekankan pada Jamaah Muslim Ahmadiyah. Dalam khutbahnya pada tanggal 06 Juni 2014 di Masjib Baitul Futuh, London, Hazrat Mirza Masroor Ahmad menyampaikan:

“Menurut nubuatan Rasulullah saw. Khilafat akan didirikan mengikuti kenabian dan menurut Hadhrat Masih Mau’ud as (pendiri Jemaat Ahmadiyah) . Khilafat adalah kekal. Dengan demikian, Khilafat tidak dapat berjalan bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah dan tidak ada pilihan selain mematuhi Khilafat, atau membuktikan bahwa Khalifah-e-waqt melakukan suatu hal bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.”

Semua nasihat hingga perintah yang disampaikan oleh Sang Khalifah, sang pemimpin rohani adalah berdasarkan firman Allah SWT juga berdasarkan Sunnah Rasulullah Saw. Tentunya, sudah menjadi suatu keharusan para anggota Ahmadiyah memiliki ketaatan yang sempurna. Konsep sami’na wa athona (kami dengar, kami ) adalah suatu hal yang harus dipraktekkan. Apalagi yang harus diragukan ketika suara Sang Khalifah Rohani yang senantiasa merujuk pada Al-Quran dan Sunnah Rasul meminta diri dalam hal perbaikan akhlak hingga pengembangan akhlak. Tentunya ketaatanlah yang senantiasa harus dilakukan tanpa terkecuali.

Ketaatan tidak dapat dikatakan menjadi suatu ketaatan ketika, hanya memilih perintah yang sesuai dengan keinginan diri sendiri. Mengapa tidak, sesuatu hal yang sesuai dengan keinginan apabila diperintahkan tentunya adalah hal yang sangat mudah untuk dilakukan. Lalu, jika terkadang yang diperintahkan tidak sesuai dengan keinginan bahkan terasa berat untuk dilakukan yang pada akhirnya mengerucut pada pendapat pribadi hingga pembenaran pribadi, kemanakah ketaatan yang sejati?

Ketaatan akan mulai diuji ketika apa yang diperintahkan yang sejatinya berasal dari Al-Quran dan sunnah Rasul, tidak sesuai dengan keinginan atau ego pribadi. Sejatinya, pilihannya tergantung pada diri sendiri, menafsirkan perintah seperti hal nya para umat di zaman Nabi Musa as, atau tetap taat dengan mengubur segala ego pribadi.

Memang, terkadang perintah Allah SWT hingga sunnah Rasulullah Saw terasa berat dirasakan, layaknya pil pahit yang sejatinya mengobati para manusia dalam sakit. Ketika perintah berkenaan perbaikan akhlak hingga pengembangan akhlak pun terkadang terasa sulit dijalankan, namun sejatinya akan menjadi penyembuh bagi para manusia yang mengalami kerapuhan rohani.

Teringat sabda Khalifatul Masih Ats Tsani Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra, “Itaat me barkah”. Dalam suatu ketaatan ada suatu keberkahan.   

Perlu ditekankan bahwa kekhalifahan Jamaah Muslim Ahmadiyah merupakan kekhalifahan yang bersifat kerohanian bukan kekhalifahan politik seperti yang disuarakan oleh kelompok lain. Jamaah Muslim Ahmadiyah menjungjung tinggi nilai-nilai kebangsaan di seluruh dunia tidak terkecuali Indonesia.

Maka, taat kepada pemimpin adil di suatu negara pun merupakan sebuah kewajiban. Jika pemimpin di suatu negara bukan pemimpin Islam, bukan berarti kita memaksakan kehendak untuk pemimpin suatu bangsa menjadi pemimpin muslim. Jika pemimpin suatu bangsa memimpin dengan adil, maka suatu keharusan bagi siapapun untuk menaatinya dengan tetap menjaga keimanan kita sendiri.

Referensi : http://ahmadiyah.id/khotbah/ketaatan-tanpa-syarat-kepada-khilafat

Sumber Gambar: https://hiveminer.com/Tags/aba,huzur

Tentang Penulis

Mutia Siddiqa Muhsin