Akhlaq Faḍi'l-Lāh Lisa Aviatun Nahar Opini

Keteladanan sikap Pemimpin melalui konsep Shalat Berjamaah

Oleh Lisa Aviatun Nahar

 

Keteladanan sikap Pemimpin melalui konsep Shalat Berjamaah article-doc-b5l6-6W5LYjXEN-HSK1-611_634x421

berjamaah. (Mail Online)

PADA tanggal 29 Mei yang silam, Komjen Budi Waseso yang menjabat Kepala Badan Reserse Kriminal menyatakan bahwa ia tidak akan melaporkan harta kekayaannya ke KPK. Ia beralasan bahwa akan lebih obyektif apabila sendiri yang menelusuri harta kekayaannya. Ia pun menyatakan bahwa ia tak ingin ada masalah yang muncul di kemudian hari setelah ia melaporkan harta kekayaannya. Karenanya ia menolak melakukannya.

Pernyataan Budi ini menjadi perbincangan hangat dan memunculkan berbagai opini, baik pro atau kontra. Seorang Rohaniwan dan pengamat Benny Susetyo menganggap bahwa sikap Budi ini telah meruntuhkan wibawa Presiden sebagai pemimpin. Benny menganggap sikap diam Presiden ini justru membuatnya terlihat tak mampu menjamin bawahannya mematuhi segala peraturan yang telah ditetapkan negara.

Dalam Islam sendiri, hubungan pemimpin dan bawahan bisa dicontoh dari konsep . Dalam konsep , terdapat ketentuan, syarat, dan aturan yang wajib ditaati agar shalat terlaksana dengan sempurna. Begitupula dalam konsep bernegara, sudah pasti ada ketentuan, syarat, dan aturan yang wajib ditaati oleh setiap warga negara tanpa terkecuali, agar kehidupan bernegara bisa berjalan dengan sebaik-baiknya.

Dalam shalat berjamaah, sebelum imam memulai shalat, sangat dianjurkan baginya untuk memperhatikan kondisi makmum di belakangnya, apakah barisannya sudah lurus dan rapat. Apabila barisan belum lurus dan rapat, imam harus mengingatkan. Dan makmum harus menaati imam agar aturan shalat bisa sempurna dan shalat bisa segera terlaksana.

Sama halnya dalam kehidupan, seorang pemimpin harus mengingatkan bawahannya apabila ada dari mereka yang tidak mematuhi aturan yang akan memperlambat kinerja tim. Begitupula halnya dengan bawahan, selayaknya mereka menaati pemimpinnya dan aturan yang telah ditetapkan. Hal ini semata-mata bukan hanya sebagai bentuk penghormatan terhadap pemimpin, tetapi juga demi tercapainya kinerja yang efektif dan efisien.

Kembali lagi pada konsep shalat berjamaah, apabila imam melakukan kesalahan, makmum wajib memberi tahu dengan mengoreksinya. Dan imam harus menerima apabila makmum menemukan kesalahannya dan membetulkannya. Ia pun harus segera memperbaiki kesalahannya. Ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan bahwa bawahan wajib mengingatkan pemimpinnya apabila mereka lupa atau melakukan kesalahan. Dan pemimpin wajib menerima koreksi dari bawahannya dan segera memperbaiki diri.

Inilah bentuk dan keseimbangan hubungan antara pemimpin dan bawahan sebagaimana yang dicontohkan dalam shalat berjamaah. Apabila konsep ini diterapkan pula dalam kehidupan bernegara, kinerja semua ini akan jauh lebih efektif dan efisien dalam membawa negara ini menjadi lebih maju dan .

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia