Febriansyah Ahmadi Kebebasan Beragama Satire

Ketika Festival Kuliner Berubah Menjadi Ajang Penodaan Agama di Bekasi

ISI artikel tersebut menyatakan bahwa kegiatan festival kuliner tersebut merupakan sebuah ajang penodaan agama karena di acara tersebut diselingi acara nyanyi-nyanyian di panggung yang mengganggu kenyamanan beribadah di hari minggu pagi yang tenang itu.

Oleh Febriansyah Ahmadi

 

Festival di depan Masjid Agung Al-Barkah Bekasi. (Warta-Ahmadiyah.org)

Festival di depan Masjid Agung Al-Barkah Bekasi. (Warta-Ahmadiyah.org)

SEBUAH judul artikel bombastis diterbitkan Panji Mas beberapa waktu lalu berjudul “Astaghfirullah, Kristen HKBP, Syiah dan Ahmadiyah gelar festival di depan Masjid Agung Al-Barkah”.

Isi artikel tersebut menyatakan bahwa kegiatan festival kuliner tersebut merupakan sebuah ajang penodaan agama karena di acara tersebut diselingi acara nyanyi-nyanyian di panggung yang mengganggu kenyamanan beribadah di hari minggu pagi yang tenang itu.

Hal ini kemudian berbuntut panjang karena panitia dan peserta acara  kemudian diadukan ke kepolisian dan diinterogasi pihak kepolisian walau akhirnya dilepaskan karena kurang bukti.

Semakin panjang lagi karena rencananya, hari ini, pihak terusik iman tersebut akan menggelar konferensi pers untuk memperpanjang masalah tersebut.

Penulis mencoba menyelami isi hati dari kaum yang terusik iman dan masih ‘gagal paham’ dengan apa yang mereka sebut sebagai penodaan agama. Karena itu, penulis mencoba meréka pembicaraan imajiner yang mungkin terjadi dalam dialog berikut.

Peserta: “Silakan mampir di stand kami, Pak. Ada nasi goreng baru selesai dilombakan. Silakan dicicip. Gratis!”

Pengunjung: “Wah tampak enak, nih. Boleh saya cicip?”

Peserta: “Boleh, silakan. Bapak dari mana?”

Pengunjung: “Ah saya habis jalan-jalan pagi saja. Rumah saya di sekitar sini. Lihat ada rame-rame di sini, saya lihat banyak juga yang berjilbab, jadi saya tengok sebentar.” (Mengambil sendok dan menyuapkan nasi goreng). “Hmmm… Bapak buka di mana? Mungkin kalo dekat nanti saya bisa mampir.”

Peserta : “Ah, ini bukan komersial ko, kebetulan panitia ada acara untuk merutuk bom Sarinah kemarin, ada panggung kecil-kecilan, festival kuliner, dan lomba memasak. Kami ikut serta saja dari Ahlulbait.”

Pengunjung: (Raut mukanya mulai berubah, kuping dan muka menjadi merah padam) “MAKSUDNYA SYIAH?” (Nada intonasinya meninggi).

Peserta : “iya, wah bapak cukup tahu ya?”

Pengunjung: “Waahh…! Ga boleh ini, saya tersinggung. Ini penodaan agama.”

Berhubung pengunjung ini merasa bahwa kegiatan ini mengusik imannya maka dalam dialog berikut akan disebut sebagai Pengunjung Terusik Iman atau PTI.

Hal ini penting untuk membedakan dengan pengunjung lainnya yang juga banyak datang dalam acara ini dan tidak terusik imannya. Penulis khawatir jika tidak dibedakan maka pengunjung yang tidak terusik imannya akan menggugat penulis karena menyamaratakan semua pengunjung sebagai terusik iman.

Peserta: “lho kok bisa penodaan agama? Ini kan stand makanan saja, Pak.”

PTI: (Dengan nada tinggi) “Iya. Tetap saja kalo dari Syiah, namanya penodaan agama.”

Peserta: “Wah, saya masih belum mengerti. Maksudnya gimana?”

PTI: (Bola matanya keatas, tampak berpikir keras… beberapa saat) “Hmmm… ini kan di depan masjid. Apalagi ini ada panggung, mengganggu saya yang akan salat.”

Peserta: “Lho…! Bapak bukannya sedang jalan-jalan pagi? Ini kan hari Minggu pak. Lagian ini kan alun-alun kota Bekasi. Banyak acara yang biasa diselenggarakan di sini.”

PTI: “Tetap ga bisa. Syiah ga boleh bikin acara.” (Berpikir keras lagi…). “Saya mau salat jadi ga bisa, lihat rame-rame saya jadi terpancing ke sini… Ini merusak iman, hati saya jadi kotor.” (Berpikir keras lagi…). “Ini juga panggung bikin saya jadi ga konsentrasi salat nanti… mengganggu, merusak iman. Ini jelas-jelas penodaan agama.”

Peserta: (Tersenyum kecil) “Laahh…! Emang Bapak mau salat apa?”

PTI: (Sedikit bingung, warna merah di kuping berubah menjadi putih. Lihat kanan-kiri, lalu berpikir lagi… beberapa saat). “Eehmm… salat Dhuha… salat Dhuha. Saya mau salat Dhuha jadi ga bisa. Ini ga boleh dibiarkan seperti ini, mengganggu. Penodaan agama.”

Peserta: “Kan kalo shalat Dhuha itu salat sunat, Pak. Waktunya juga masih ada. Bapak kan bisa salat di rumah. Katanya rumah Bapak dekat?”

PTI: (Naik pitam, mukanya kembali memerah) “Pokoknya saya mau salat di sini, ini harus dihentikan. Nasinya juga ga syar’i. Pasti ga dibuat pakai bismillah. Kamu masukin apa ke dalam sini? Pasti daging babi ya?”

Peserta: “Astaghfirul-Laah, biar Syi’ah, saya Islam pak, saya jadi tersinggung nih. Lagian, ini kan Bapak lihat sendiri, ini nasi goreng cuma pakai telor ceplok. Ga ada daging di sini, apalagi daging babi. Halal, Pak!”

PTI: “Alah…! Ini pasti pakai daging babi. Buktinya, rasanya ada asin-asinnya. Ini akal-akalan saja. Festival kuliner ini mau merongrong iman saya.”

Peserta: “Pak, kalo asin itu dari garam sama saus tiram yang dipakai, bukan daging babi. Lah emang daging babi asin? Saya malah baru tahu. Bapak tahu darimana?”

PTI: (Berpikir lagi…) “Pokoknya saya tahu, katanya asin. Saya ga terima. Ini akan saya perpanjang masalahnya, saya bakal adukan kalian semua.”

Mungkin Pembaca sekalian bisa menangkap di mana letak penodaan agamanya? Entahlah…! Au ah gelap!

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia

Tinggalkan komentar