Opini

Ketika Kematian Datang, Siapkah Kita ?

kematian

Waktu terus berjalan, tanpa tahu kapan terhenti

Matahari, bulan, bumi masih beredar, tanpa tahu kapan hilang dari peredaran

Nyawa masih bersatu dengan raga, tanpa tahu kapan terambil

Jantung terus berdetak, Nafas masih berhembus, tanpa tahu kapan terdiam

, tidak ada seorang manusia di manapun yang dapat menolaknya. Entah kaya atau miskin, sehat atau sakit, hingga tua atau muda. Ketika sudah menentukan hamba-Nya, di situlah manusia meregang nyawa.

Sedih? Yah, kesedihan yang teramat sangat, akan muncul seketika ketika orang yang dikasihi harus dipanggil untuk menghadap-Nya. Kesedihan, kedukaan, hingga air mata tidak mungkin dapat ditahan kala itu.

Keikhlasan dan kesabaran dituntut oleh Yang Kuasa ketika orang yang dikasihi memang diinginkan oleh Tuhan-Nya. Tak peduli, berapa banyak hati manusia yang terluka, kematian akan tetap ada.

Kematian yang terjadi pada orang yang dikasihi tentunya sering terjadi. Namun, pernahkan terbesit, kematian itu juga kiranya akan datang menghampiri? Tidak hanya kepada mereka orang yang dikasihi, namun juga pada diri sendiri. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Ankabut ayat 57 yang artinya:

“Setiap jiwa akan merasakan kematian, kemudian kepada Kami-lah kamu akan dikembalikan”

Ya, setiap jiwa akan merasakannya, tanpa tekecuali. Tak ada tawar menawar, tak ada tempat untuk lari bersembunyi, karena Allah pun pernah berjanji:

“Di manapun kamu berada kematian akan menemukanmu, sekali pun kamu ada di dalam benteng yang kokoh” (Surah An Nisa 78)

Begitulah kiranya, kehendak Allah memperlihatkan kuasa-Nya. Mau kemana lagi langkah kaki, ketika nafas ini harus terhenti? Mau bagaimana lagi, ketika nyawa harus pergi meninggalkan raga ini ?

Tentunya, tidak ada lagi pilihan, saat nafas terhenti, di situlah waktu kita mengakhiri kehidupan fana ini. Kehidupan dengan segala serba-serbi yang dimiliki. Yang hanya sebagai candu untuk pergi pagi pulang pagi demi mencari sesuap nasi. Akhir dari kefanaan ini, sejatinya adalah awal dari kekekalan dalam kehidupan ukhrawi.

Selagi nafas ini berhembus, selagi nadi ini berdenyut, kematian yang pada nantinya akan menghampiri. Entah hari ini hingga esok hari sejatinya harus dipersiapkan. Bekal jasmani yang setiap hari dicari, hanyalah bekal untuk kehidupan di dunia fana ini.

Ketika maut menghampiri, semua tidak ada gunanya sama sekali. Harta dan tahta tidak akan mungkin dibawa mati. Karena Rasulullah Saw pun bersabda:

“Jika seorang meninggal, terputus amalannya kecuali tiga hal: shadaqah yang terus mengalir pahalanya, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya”

(HR.Muslim)

Ketiga hal inilah yang harus senantiasa dipersiapkan untuk bekal di akhirat kelak. Selagi masih ada waktu yang diberikan Allah Taala, gunakanlah waktu itu dengan sebaik – baiknya. Memang, bukanlah suatu hal yang diharamkan untuk mencari rezeki di dunia ini. Karena itu memang suatu kebutuhan duniawi.

Namun, mencari kebutuhan dunia bukanlah tujuan yang mutlak. Sejatinya harus dijadikan sebagai sarana untuk mencapai tujuan di akhirat kelak.

Teringat sabda Rasulullah Saw, “orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian” (HR. At-Tirmidzi)

Sudah saatnya, kematian bukanlah suatu yang ditakutkan, melainkan untuk dipersiapkan. Saat kematian, saat itulah fase kembalinya nyawa ini kepada Sang Pencipta. Dia menanti setiap manusia – manusia yang bernyawa.

Sehingga sudah selayaknya, kematian itu untuk terus diingat hingga dipersiapakan. Ingatlah kematian, bayangkan seolah – olah sudah dekat. Setidaknya, dengan mengingat kematian, segala persiapan pun akan dilakukan. Sehingga, dunia tidak akan lagi menjadi candu yang menghalagi proses mencari bekal untuk kehidupan akhirat yang kekal abadi kelak.

Sumber gambar: https://www.cetmas.com/2016/01/kumpulan-puisi-kematian-dan-puisi-islami-terbaru-sangat-menyentuh.html

Tentang Penulis

Mutia Siddiqa Muhsin