Opini

Keutamaan Sahur

sahur

و كلوا و اشربوا حتّي يتبيّن لكم الخيط الابيض من الخيط الاسود من الفجر

“… Dan makanlah dan minumlah hingga tampak jelas kepadamu benang putih dari benang hitam fajar ….” (QS. Al-Baqarah: 188)

Dalam menafsirkan ayat ini, Masih Ma’ud as bersabda bahwa, “Kata كلوا (makanlah) dalam ayat ini adalah suatu perintah. Ketika seorang mukmin memahaminya sebagai suatu perintah kemudian melaksanakannya, maka ia akan memperoleh pahala. Demikian juga dalam ayat عاشروا هنّ بالمعروف (Perlakukanlah mereka dengan baik (QS. An-Nisa: 20)); dengan melaksanakannya akan diperoleh pahala, akan tetapi jika dalam melaksanakan salat masih terdapat riya maka ويل (celakalah) baginya.” (Al-Hakam Jilid 8, No. 8, 10 Maret 1904, Hal. 9.)

Berkenaan dengan ayat ini terdapat dari Anas ra.: Rasulullah Saw. bersabda bahwa, “ sahurlah kalian, karena dalam terdapat keberkatan.” (Shahih Muslim No. 1835.)

Yang menarik adalah Jika seseorang tidak dapat makan sahur, maka karena alasan itu ia tidak boleh meninggalkan karena makan sahur bukan syarat untuk berpuasa. Makan sahur dimaksudkan untuk mempermudah orang mukmin dalam berpuasa karena Allah Ta’ala tidak ingin memberikan kesulitan kepada hamba-Nya. Allah Taala menginginkan agar hamba-Nya dapat menarik keberkatan sebanyak–banyaknya dalam bulan Ramadan yang suci dan penuh berkat, sehingga dapat meraih rida-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya.

Berkenaan dengan waktu sahur, terdapat hadits riwayat dari Adi bin Hatin ra., “ketika ayat ini turun maka Adi bin Hatin ra. berkata kepada Rasulullah Saw.: ‘Wahai Rasulullah Saw., sungguh saya meletakan benang putih dan benang hitam di bawah bantal saya, sehingga saya dapat mengetahui antara waktu malam dan waktu siang.’ Rasulullah Saw. bersabda sesungguhnya bantalmu itu sangat lebar, sesungguhnya yang dimaksud adalah hitamnya itu malam dan putihnya itu siang pada saat fajar.” (Shahih Muslim No. 1824.)

Muslih Mau’ud ra. bersabda bahwa, “Demikianlah, beberapa Sahabah ra. juga ada yang menyimpan benang putih dan benang hitam, dan mereka terus makan selama waktu ketika mereka tidak melihat adanya perbedaan pada kedua benang tersebut.

Akhirnya, Allah Taala menurunkan kata من الفجر (dari fajar) yang terdapat dalam ayat ini. Sehingga mereka memahami bahwa maksud dari kata الخيط الابيض من الخيط الاسود bukanlah benang putih dan benang hitam, akan tetapi maksud dari kata tersebut adalah perbedaan Subah Sadiq dan Subah Kadzib.” (Tafsir Kabir Jilid 2, hal. 412-413.)

Semoga dengan melaksanakan perintah-Nya ini, Allah Taala melimpahkan berkat dan rida-Nya kepada kita semua agar kita dapat menjadi orang–orang yang bertakwa. Aamiin.

Sumber:

  1. Hadis
  2. Tafsir Hadhrat Masih Ma’ud as.
  3. Tafsir Kabir
  4. Dini Ma’lumat ka Buniyadi Nishab

Sumber Gambar: https://cerko.id/entertainment/3-tips-sahur-di-hari-pertama-puasa-supaya-tak-kesiangan/

Tentang Penulis

Tanveer Ahmad Khudori