Opini

Khatamun Nabiyyin Bukan Penutup Para Nabi

khatamun nabiyyin

Beberapa hari lalu saya membaca sebuah kliping kumpulan berita-berita kasus persekusi sejak tahun 2002. Disana didapati berita bahwa yang membuat para pelaku persekusi marah adalah karena pengakuan pendiri Jamaah Muslim , Hazrat as sebagai Nabi setelah Nabi Karena bagi mereka Nabi Muhammad SAW adalah “Khatamun Nabiyyin” yang mereka artikan sebagai “Penutup Para Nabi”.

Sebelum masuk pada pembahasan, sebaiknya kita harus mengetahui terlebih dahulu bahwa selain penutup para Nabi, ada arti lain dari kata “khatamun Nabiyyin.” Hal inilah yang belum dipahami oleh mayoritas kaum Muslimin. Mereka hanya mengartikan kata tersebut sebagai penutup para Nabi. Sehingga mereka menganggap bahwa orang yang tidak mengartikan demikian dan memaknai dengan arti lain adalah salah.

Kaum muslimin mainstream berpendapat bahwa tidak akan ada lagi Nabi setelah Nabi Muhammad SAW karena beliau SAW adalah penutup para nabi. Sebagaimana QS. Al-Ahzab: 41,Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan khatamun Nabiyyin (penutup Nabi-nabi). Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” Pendapat ini sesuai dengan pemahaman golongan Al-Jahimiyah dan orang-orang Mu’tazilah.

Pada umumnya, kata “khatam” dalam ayat tersebut diartikan sebagai “penutup”. Padahal khatam juga berarti “cincin”. Cincin adalah perhiasan. Jadi “Khatamun Nabiyyin” dalam QS. Al-Ahzab: 41 bermakna Nabi Muhammad SAW adalah perhiasan para Nabi. Seperti tertulis dalam Tafsir Fathul Bayan, Jilid VII, hal 286, Adalah beliau, Muhammad itu seperti Al-Khatam (cincin) bagi mereka (para nabi) dan mereka berperhiasan dengannya (yakhtamuuna bihii) karena beliau salah seorang dari golongan mereka”. Dalam Majma’ul Bahrain juga tertulis bahwa, Khatam adalah cincin, Khatam berati perhiasan, berasal dari khatam (cincin) yang menjadi perhiasan bagi pemakainya“.

Selain itu ada beberapa keterangan para Imam Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah mengenai makna “khatamun Nabiyyin”. Diantaranya Hadhrat Mulia Ali Al-Qari berkata, Khatamun Nabiyyin berati bahwa tidak akan datang lagi sembarang Nabi yang memansukhkan (membatalkan) agama dan yang bukan berasal dari umat beliau. (Al-Maudhu’at Lil-Qariy, hal. 59). Kemudian Hadhrat Waliyullah Al-Muhaddats Ad-Dahlawiy menulis, Tidak ada lagi seorang (Nabi) pun diperintah Allah akan membawa syariat baru kepada manusia. (At-Tahfimatul-Ilhamiyah, tafhim 53).

Jika mereka yang memusuhi Jemaat Ahmadiyah menuduh kafir karena penafsiran Jemaat Ahmadiyah yang menafsirkan kata “khatam” selain penutup, maka para Imam Ahlus Sunah Wal-Jamaah juga dapat termasuk yang mereka kafirkan.

Selain itu, kata “khatam” jika didhafatkan (digandengkan) dengan kata jamak maka artinya adalah afdhal atau yang paling tinggi. Seperti hadits Nabi SAW, Aku adalah ‘khatamun Nabiyyin’ dan engkau, wahai Ali, adalah ‘khatamul Waliyyin’.” Tidak relevan jika makna “khatamul Waliyyin” diartikan penutup para wali, karena faktanya setelah Hadhrat Ali ra. banyak para wali yang bermunculan namun diantara para wali yang paling tinggi kedudukan kewaliannya adalah Hadhrat Ali ra. Maka kata “khatamun Nabiyyin” dalam QS. Al-Ahzab: 41 berarti Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang paling tinggi derajatnya atau penghulu dari semua Nabi-nabi.

Kata “khatamun Nabiyyin” tidak dapat diartikan sebagai penutup Nabi-nabi, seperti yang dikatakan Hadhrat Siti Aisyah ra., Katakanlah bahwa Muhammad SAW itu Khatamun Nabiyyin akan tetapi janganlah kamu mengatakan bahwa tidak ada Nabi setelah beliau SAW. (Tafsir Ad-Durul-Manstur, Juz V, hal. 204).

Dari keterangan-keterangan diatas dapat kita simpulkan bahwa yang paling relevan untuk mengartikan kata “khatam” adalah cincin atau jika digandengkan dengan kata jamak adalah seseorang yang afdhal atau paling tinggi derajatnya. Maka tidak salah jika pintu kenabian masih tetap terbuka selama kenabiannya sejalan dengan syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan seseorang mendapatkan maqam kenabian hanya karena mengikuti dan menjadi pecinta sejati beliau SAW.

Sumber:

  1. Ahmad Nuruddin, 1992. Masalah Kenabian. Jemaat Ahmadiyah Indonesia.

 Drs. Abdul Rozzaq, 2018. Muhammad S.A.W. Khatamun Nabiyyin Tidak ada Nabi Sesudah Beliau. Bogor: Jemaat Ahmadiyah Indonesia

 

Sumber Gambar: https://twitter.com/dr_alqarnee/status/875468875940466688

Tentang Penulis

Mubarak Mushlikhuddin