Kebangsaan Khilafah Kompasiana Murtiyono Yusuf Opini

Khilafah HTI Menodai Agama & Negara

Penulis : Mutiyono Yusuf
Dipublikasikan di : Kompasiana

Muktamar HTI

Muktamar

Minggu pagi ini saya menemukan sebuah Riwayat hadits. Hadhrat Utsman r.a. pernah bersabda: Karena Khilfah Allah Ta’ala telah mempersatukan kamu, dan sekarang kalau kamu hendak menghapuskan , ingatlah, sampai hari kiyamat kamu tidak akan perna bersatu”.

Apa yang di nasehatkan oleh Utsman r.a. benar adanya. Kita tau dalam sejarah jejak perjuangan Khalifatur Rasyidah, mengalami kemuduran. Ke khalifahan bak roti di padang pasir menjadi bahan rebutan, hingga terjadi beberapa kali ancaman terhadapa yang sedang menjabat. Masih kuat di ingatan kita, kematian tragis yang harus di alami dua orang, Utsman r.a. dan Ali r.a. Ini mungkin juga yang memberika sinyal kuat akan begitu penting, dan strategis Jabatan , sehingga menjadi bahan kroyokan bagi orang-orang yang berpandangan sempit dan penuh ketamakan dunia. Jika kita lihat bagaimana figure empat Khalifatur Rasyidah mendapatkan mandat menjadi itu begitu sederhana, jauh dari sifat menginginkan jabatan. Namun setelah menginjak ke Khalifahan Utsman r.a., keserakahan terhadap kepemimpinan mulai nampak hingga terbunuhnya Ali r.a. Kekhilafatan yang merupakan berkah dari langit untuk manusia yang tulus beribadah rupanya harus pupus di tengah jalan. Tangan-tangan dunia melalui hulu balang-hulu balangnya merampas hadiah itu menjadi hadiah yang hanya bernilai duniawi, kekuasaan, tirani, dan ke dhaliman

Sayang betapa besar keberkahan dengan adanya kekhilafatan, namun semua itu harus pupus menjadi noda merah sejarah. Kekhilafahan berhasil di rebut oleh orang-orang yang hanya mementingkan kemuliaan duniawi. Ibadah mereka hanya sebagai pra-syarat agar patut untuk menduduki tampuk kepemimpinan sedang diluar dari pengetahun khalayak, tangan-tangan kebohongan dan kedustaannya mencengkeram kuat di otak bawah sadar ummat.

Mungkin ini yang menjadi penyemangat saudara-saudara kita di HTI dan untuk mewujudkan Kekhilafahan tersebut. Bagi mereka terlepas benar atau salah, yang jelas sesuai apa yang menjadi ukuran keyakinan masing-masing, mereka telah berusaha mewujudkan persatuan. Kita dapat berkaca pada sejarah di atas, mana ke khilafahan yang di bentuk oleh nafsu-nafsu keduniawian atau murni untuk keruhanian. Bagi golongan yang hanya mementingkan kekuasaan duniawi pasti dapat terlihat dari gaya perjuangan da’wah mereka yang cenderung menghalalkan segala cara. Sedang yang benar-benar murni tegaknya keruhanian bagi setiap khalayak, mereka akan lebih memilih da’wah yang bermoral jujur dan santun. Terakhir kita di kagetkan oleh portal NU yang memberikan kabar, bagaimana NU kecolongan jamaahnya dengan bahasa pengajian atau mukhtamar yang lebih familier di telinga para Nahdiyyiin. Belum lagi banyaknya cerita iming-iming atau main sebar brosur dan main tempel spanduk di masjid-masjid yang tidak jelas siapa yang bertanggung jawab. Itu juga merupakan aksi klemisasi terhadap masyarakat yang belum tentu sepakat dengan misi perjuangan HTI.

Disisi lain kita melihat bagaimana Ahmadiyah membangun sebuah kekhilafahan dengan damai, santun dan penuh kejujuran tanpa ada yang ditutup-tutupi mereka terus bertumbuh dan besar. Sehingga mampu menarik simpati saudara-saudara non untuk mengerti lebih jauh tentang ajaran luhur Islam melalui Jamaah Ahmadiyah. Karuan saja hal ini menimbulkan rasa kesal dan merasa terancam sebagian kecil radikal di terhadap prestasi yang di capai oleh Ahmadiyah, kemudian demi menutup arus perkembangan Ahmadiyah maka logika pembusukan dilakukan oleh para muslim radikal terhadap Ahmadiyah. Kita bisa bayangkan bagaimana HTI selama 89 tahun harus berjuangan untuk mendirikan Khilafah, namun dalam perjuangannya menggunakan cara-cara yang Nabi Muhammad SAW dan para Khalifahnya sendiri tidak ajarkan. Bagaimana bisa mereka membawa bendera kalimah syahadah namun disisi lain mereka mencoret-coret dan mengoyak bendera itu sendiri? Apa itu yang di sebut menegakkan syari’at? Belum lagi di sisi lain HTI menghujat habis asas-asas ke-Bhinekaan yang menjadi dasar berdirinya Bangsa ini. Apakah ada kata lain yang lebih tepat selain PENODAAN?

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia