Fiqih Muhammad Nurdin Opini

Khitan pada perempuan Muslim haruskah?

PERTANYAAN ini akan mudah dijawab seandainya kata perempuan diganti dengan laki-laki. Anda dan juga saya, sebagai laki-laki pasti akan langsung menjawab, “Harus!”

Terlepas Anda tahu atau tidak bahwa terdapat ḥadīts yang memerintahkan seperti itu, faktanya Anda sudah dikhitan bukan?

Sekarang, haruskah perempuan muslim dikhitan?

Saya pun tidak tahu mengapa pertanyaan ini sulit dijawab. Bahkan, Anda mungkin pernah ditanya tentang ini, lalu Anda dengan cepat membuka gadget Anda dan bertanya kepada “Ustadz Google”.

Mungkin, perbedaan morfologi yang sangat kentara dari dua jenis kelamin manusia ini membuat pertanyaan itu menjadi sulit Anda jawab.

Bahasan sunat atau khitan pada perempuan muslim kali ini, bisa jadi tidak memuaskan mainstream bahasan-bahasan yang sudah ada. Malah, bahasan kali ini berpotensi akan disesatkan umat.

Tapi, yang namanya kebenaran harus disampaikan, walaupun terasa pahit bagi yang mendengarkan. Itulah kata pepatah dari negeri seberang.

Baiklah, kita mulai bahasannya.

Pastikan Anda tidak sedang dalam pengaruh sempitnya cara berpikir atau paradigma bahwa kebenaran hanya milik situs-situs yang mapan.

Bagi saya, kebenaran ada di mana-mana. Di sini pun ada, tinggal Anda bungkus dan bawa pulang.

Saya tidak perlu menjelaskan pendapat-pendapat yang membolehkan atau mewajibkan khitan pada perempuan. Karena, Anda bisa dapatkan secara gratisan di gadget yang Anda pegang.

Justru, saya ingin mempermasalahkan, mengapa hal itu dibolehkan bahkan diwajibkan?

Sekarang, mari kita permasalahkan hadits yang dijadikan pegangan atas pelegalan khitan pada perempuan.

Artinya:

Khitan pada Perempuan Muslim haruskah sunat-wanita

Kutipan hadis tentang khitan pada perempuan

Telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin ‘Abdurrahman Ad-Dimasyqi] dan [Abdul Wahhab bin Abdur Rahim Al-Asyja’i] keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami, [Marwan] berkata, telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Hassan], Abdul Wahhab Al-Kufi berkata, dari [Abdul Malik bin Umair], dari [Ummu ‘Athiyyah Al-Anshariyyah] berkata, “Sesungguhnya ada seorang perempuan di Madinah yang berkhitan, lalu —ṣalla’l-Lāhu ‘alaihi wasallam (saw.) bersabda kepadanya, ‘Janganlah engkau habiskan semua, sebab hal itu akan mempercantik dan disukai oleh suami.’ (HR Abu Dawud)”

Inilah hadits yang secara spesifik menyebutkan kata ‘perempuan’ sebagai obyek yang dikhitan. Beberapa hadits lain yang menyebutkan tentang khitan tidak secara spesifik menyebutkan perempuan. Dan perlu dicatat juga di sini, Abu Dawud memberikan catatan di dalam kitabnya ini. Abu Dawud berkata, “Tetapi hadits ini tidak kuat, sebab ia diriwayatkan secara mursal.” Abu Dawud berkata, “Muhammad bin Hassan adalah seorang yang majhul, sehingga hadits ini derajatnya lemah.”

Perlu dipertanyaan, mengapa kitab-kitab hadits yang lain diam terhadap masalah ini? Bukhari, Muslim dan lain sebagainya tidak membicarakan masalah khitan pada perempuan secara gamblang. Hanya ada di dalam Sunan Abu Dawud, itupun haditsnya dho‘if alias lemah. Bagimana hal ini bisa menjadi sandaran untuk melegalkan khitan pada perempuan?

Rasulullah saw. menjelaskan berkaitan dengan ajaran Islam kepada umatnya secara jelas dan sederhana. Segala hal dijelaskan secara gamblang agar umat beliau tidak salah memahami ajaran Islam. Dan beliau tidak memandang apakah itu laki-laki atau perempuan. Semua dianggap sama.

Sekiranya, khitan untuk perempuan ini disunnahkan, maka kita perlu mempertanyakan. Dari sekian banyak anak-anak perempuan Rasulullah saw. pernahkah kita mendengar ada sebuah hadits yang menceritakan tentang disunatnya anak perempuan beliau? Bukankah beliau berprinsip bahwa suatu hukum yang berlaku di masyarakat berlaku juga untuk keluarga beliau? Bahkan, hukuman tentang orang yang mencuri beliau menyebutkan anak perempuan beliau sebagai contoh, yakni Fathimah—rāḍiya’l-Lāhu anha (r.a.). Tidak ada istilah kebal hukum meskipun untuk keluarga beliau.

Jadi, tak satu ayat Al-Qur’ān maupun Ḥadīts Nabi saw. yang memerintahkan perempuan untuk dikhitan. Tidak ada satu pun contoh dari kehidupan keluarga Rasulullah saw. yang menyebutkan praktik ini. Jadi, khitan pada perempuan bukanlah ajaran Islam. Praktik itu bukankah bagian dari Islam, ia hanya tradisi-tradisi yang berkembang pra-Islam.

Pasti Anda akan bertanya di dalam hati Anda, karena bertanya langsung ke saya cukup mustahil. Kok bisa praktik khitan ini berkembang, padahal itu bukan ajaran Islam? Sampai-sampai kebanyakan orang Islam di negeri ini pun melakukannya atas nama sunnah Rasul. Bukan begitu?

Praktik khitan pada perempuan sudah berjalan sejak dulu kala. Sebelum Islam datang, praktik ini sudah berkembang di masyarakat. Praktik ini berkaitan erat dengan kultur sebuah masyarakat. Tidak ada faktor agama yang melekat dalam praktik ini. Ini berkaitan dengan faktor sosial. Prof. Ellen Gruenbaum berkomentar tentang ini:

“Khitan pada perempuan membawa pesan ‘persamaan status’ dalam konteks kultural yang berbeda. Status umur, kemampuan menikah, gender, indentitas, status sosial, etnik bahkan kualitas moral ditentukan kuat-lemahnya dengan status khitan ini atas tipe dari pen-khitan-annya.” (Ellen Gruenbaum, The Female Circumcision Controversy,
67)

Lebih tepatnya, khitan pada perempuan ini terjadi sejak jaman Mesir kuno. Mungkin Anda menganggap saya sedang bercanda, tapi itulah yang ditulis sejarah. Kecuali Anda punya jejak sejarah yang lain yang berbeda dari apa yang saya dapat. Tapi, kalau Anda masih suka pakai “perasaan” Anda, maaf saya tidak sedang curhat.

Sanderson mengatakan dari pernyataan Heroditus bahwa orang-orang Mesir, Fenisia, Het dan Etiopia telah melakukan praktik khitan pada perempuan sejak tahun 500 SM. Dia bahkan mencatat bahwa orang-orang Aram telah mencatat praktik itu terjadi pada abad ke-2 SM di Mesir. Sebuah papirus Yunani di Museum British menyebutkan bahwa praktik itu dimulai tahun 163 SM. (Ellen Gruenbaum, The Female Circumcision Controversy, 43)

Bukti-bukti sejarah menguatkan bahwa khitan pada perempuan terjadi sejak masa para Firaun. Prof. Barbara CrAndall mengatakan, “Khitan pada perempuan merupakan praktik ritual kuno pada masa para Fir’aun. Tujuannya untuk mengontrol seksualitas perempuan dan orang tua menganjurkannya supaya anak mereka pantas menjadi istri. Ini tidak ada kaitannya dengan negara-negara Islam tapi melampaui itu… dan Quran sendiri tidak menyebutkan tentang itu. (“Ellen Gruenbaum, The Female Circumcision Controversy,
44.)

Jelas, tidak ada kaitan antara khitan pada perempuan dengan ajaran Islam. Khitan pada perempuan sudah berkembang di masyarakat sebelum Islam datang. Dan saat Islam datang, praktik ini sudah ada di mana-mana. Tetapi, Rasulullah saw. tidak memerintahkan umat Islam untuk mengikuti praktik yang sudah lama berkembang ini.

Terakhir, saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah pertanyaan untuk Anda. Siapa tahu pertanyaan ini bisa membuat Anda menyadari bahwa khitan pada perempuan ini tidak perlu dilakukan, karena memang tidak disunnahkan.

Memangnya, apa manfaat seorang perempuan dikhitan, baik ia masih kecil atau sudah besar? Apa manfaat medisnya, sekiranya hal itu bermanfaat seperti halnya dengan khitan pada laki-laki? Kalau manfaatnya seperti yang dijelaskan dalam hadits ḍa‘if di atas yakni, disukai suami alias menambah nikmat hubungan badan, maka saya katakan, betapa rendahnya tujuan khitan pada perempuan yang berkisar pada urusan seks. Apakah para perempuan yang tidak dikhitan tidak bisa memuaskan suami-suami mereka?

Silahkan bernalar, selagi Anda tidak dalam pengaruh sempitnya pola pikir atau fanatisme situs-situs Islam yang mapan.

 

Tulisan ini seluruhnya terinspirasi oleh artikel: Review Of Religions.org.

Yang teramat lemah,
Muhammad Nurdin

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia

Tinggalkan komentar