Opini

Kiprah Ahmadiyah dan Problematika Keadilan di Indonesia

Indonesia

Bangsa saat ini berumur , selama itu pula kebebasan beragama di Negeri ini belum sepenuhnya dirasakan terutama oleh kaum minoritas. Pergantian kepemimpinan tidak menyebabkan perubahan yang berarti, hanya sebuah kegiatan rutinitas setiap 5 tahun sekali tanpa merubah keadaan sedikit pun. Beberapa bulan yang lalu tepatnya pada hari sabtu 19/5/18 dan minggu 20/5/18, Komunitas Jemaat Lombok Timur diserang oknum warga. Terpaksa sebanyak 26 orang diungsikan ke pengungsian karena rumah mereka dirusak warga. Dan hingga saat ini, mereka masih tinggal di pengungsian, yang lebih anehnya lagi, pelaku pengrusakan tidak diadili sebagaimana mestinya.

Pengrusakan terhadap rumah Komunitas Jemaat Ahmadiyah di Lombok Timur, merupakan  bukti bahwa lemahnya penegakan hukum di Negeri ini disebabkan ketidaktegasan pemerintah dalam mengadili pelaku pengrusakan. Padahal sudah jelas terdapat di pasal 170 ayat 1 KUHP yang berbunyi: “barang siapa dan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang diancam dengan pidana lima tahun enam bulan.”  Nampaknya pasal ini hanya sebuah pajangan yang dengan sengaja dilupakan.

Sudah hampir lima bulan mereka tinggal di pengungsian, pihak pemerintah hanya mengobral janji mau memperbaiki tetapi entah kapan terrealisasi. Terkadang saya merasa heran, mengungsi kok di Negeri sendiri ini sebuah lelucon atau sebuah tamparan pedas bagi pemerintah. Dan bukankah di dalam butir-butir pancasila tertera “kemanusiaan yang adil dan beradab” akan tetapi mereka tidak merasakan keadilan itu. Mereka adalah bagian dari Indonesia sudah seharusnya diperhatikan bukan malah dibiarkan.

Jika mengungsi di negeri sendiri adalah sesuatu hal yang wajar maka segera hapuskan sila kedua yang tertera dalam butir-butir pancasila, karena pada perakteknya keadilan itu tidak berpihak kepada minoritas. Malah mereka tertindas di bawah kekuasaan yang tebang pilih. Saya mulai menaruh suatu kecurigaan terhadap komunitas Jemaat Ahmadiyah ini, kenapa Jemaat Ahmadiyah diperlakukan tidak adil di negerinya sendiri ? Apakah karena mereka di masa perjuangan dahulu tidak ikut serta berjuang, sehingga diperlakukan tidak adil ?

Setelah saya telusuri ternyata banyak juga jasa komunitas Jemaat Ahmadiyah untuk Negeri ini, ada yang terjun langsung ke medan pertempuran ada juga yang menggunakan keahlian yang lain dalam membela negeri ini. Pergerakan komunitas Jemaat Ahmadiyah dalam membela negeri ini terbagi ke dalam dua bagian, yakni:

  1. Bantuan Ahmadiyah di luar negeri

Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra (Khalifah Ke-2 Jamaah Ahmadiyah) mengajak negara-negara bersatu padu memperdengarkan suaranya untuk mengakui kemerdekaan Indonesia serta meminta supaya negara-negara lain juga mengakuinya. Tidak hanya itu beliau pun memerintahkan kepada seluruh Ahmadi (nama panggilan anggota Ahmadiyah) di seluruh dunia supaya mereka tiap-tiap hari senin dan kamis berpuasa memohonkan do’a kepada Allah Ta’ala  guna menolong bangsa Indonesia serta tercapai cita-cita bangsa Indonesia.

Sehingga akhir tahun 1946, tepatnya hari selasa legi tanggal 10/1/1946 pernyataan dari Imam Jemaat Ahmadiyah yang saya sampaikan di atas. Dimuat dalam surat-surat kabar antara lain: Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, Harian Merdeka Jakarta, dsb.disiarkan oleh kantor berita dengan judul:

”Memperhebat Penerangan Tentang Di Luar Negeri, Gerakan Ahmadiyah Turut Membantu.”

  • Bantuan Ahmadiyah Di Dalam Negeri

Anggota Ahmadiyah Indonesia seperti : almarhum Malik Aziz Ahmad Khan aktif sebagai penyiar RRI untuk siaran bahas Urdu memperkenalkan perjuangan bangsa Indonesia keseluruh benua alit India. Orang-orang Ahmadi di Sumatra Barat dan Sumatra Utara tidak ketinggalan mengambil bagian dalam perjuangan fisik melawan belanda,dsb.

Itu artinya, komunitas Jemaat Ahmadiyah yang hidup di negeri ini, berhak merasakan apa yang kaum mayoritas rasakan seperti: membangun mesjid, menyampaikan ajaran, berkumpul, dll. harusnya saat ini mereka menikmati buah atas perjuangannya dahulu. Akan tetapi pemerintah menganaktirikan mereka, menekan pergeraka mereka, melarang kegiatannya, melarang penyebaran pahamnya, dll.

Jika ada suatu negeri yang kosong mungkin mereka lebih memilih untuk pindah, tetapi komunitas Jemaat Ahmadiyah memilih tetap setia kepada NKRI. Sebagaimana pendiri komunitas Jemaat Ahmadiyah (Hz. Mirza Ghulam Ahmad  as) menyampaikan di dalam butir kedua syarat bai’at  bahwa orang yang masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah :

“senantiasa menghindarkan diri dari segala corak bohong, zina, pandangan berahi terhadap bukan muhrim, perbuatan fasiq, kejahata, aniaya, khianat, mengadakan huru-hara, dan memberontak serta tidak akam dikalahkan oleh hawa nafsunya meskipun bagaimana juga dorongan terhadapnya.”

Kemudian pendiri Jemaat Ahmadiyah lebih lanjut menyampaikan berkenaan sikap para pengikut Ahmadiyah dalam hadapi penguasa yang aniaya beliau as menuturkan: “jangan sebut orang yang zalim itu zalim, malainkan kecamlah diri sendiri. Jangan kecam raja atau penguasa, jika kalian memperbaiki keadaan kalian sendiri maka penguasa pun akan menjadi lunak dan pengasih.”

Ini merupakan dua landasan para pengikut Jemaat Ahmadiyah, enggan mengadakan unjukrasa menuntut keadilan di depan instana Negara karena bagi mereka itu tidak ada artinya. Mereka lebih memilih untuk mengintropeksi diri mencari ridho Allah Ta’ala karena mereka yakin jika Tuhan senang, maka di dalam hati para penguasa dengan sendirinya timbul rasa kasih. Dan jika Tuhan murka, maka manusia layak mendapat hukuman. Ini bukan masalah kekuasaan yang dimiliki seseorang. Wahai, penguasa mau sampai kapan engkau membiarkan mereka tinggal di rumah yang bukan rumahnya, tidur di kasur yang bukan kasurnya, masihkan engkau mempunyai hati ? berlakulah adil jika ingin negeri ini toleran karena toleransi tanpa keadilan itu nonsen. Merdeka !

”Selamat hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia ke- 73 semoga Indonesia lebih baik dalam hal penegakan hukum”

Sumber Gambar: https://www.clickguarulhos.com.br/caminhos-da-lei-a-profissao-de-advogado/

Tentang Penulis

Rafi Assamar Ahmad